They Who Belong to That Position: Behind the Story Part 2

They Who Belong to That Position: Behind the Story Part 2

By: OkadaKana

 

 

 

– Preface –

They Who Belong to That Position BTS merupakan cerita-cerita dibalik FF They Who Belong to That Position yang tidak diungkapkan dalam FF. Ini bukanlah sekuel dari FF, tapi hanya sebagai penjelas dari beberapa hal yang tidak dijelaskan secara tertulis di FF itu. BTS ini akan berisikan penjelasan mengenai tokoh dalam FF dan beberapa tambahan cerita yang tidak ada dalam FF. setelah beberapa pertimbangan, BTS ini akan dibuat dalam 5 part yang tiap part nya tetap terdiri dari dua bagian, yaitu THE CAST dan UNWRITTEN STORY. Readers, selamat membaca…

.

.

.

.

  • THE CAST

Choi Siwon

Choi Siwon adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan Choi Dong Wook dan Ahn Yoo Mi. Choi Siwon terlahir sebagai pewaris utama Crown Group, diikuti oleh Choi Minho di tempat kedua. Sejak kecil, Siwon sudah memiliki sikap sebagai seorang pemimpin. Ia terbiasa di didik untuk selalu memecahkan masalahnya sendiri oleh kakeknya. Siwon dan keluarga nya pernah mengalami kehidupan yang serba biasa sebelum ayahnya, Choi Dongwook, berhasil mendapatkan posisi sebagai ahli waris Crown group setelah mengalahkan kakaknya. Saat usia nya menginjak 7 tahun, ayah mereka sudah ditunjuk sebagai penerus kepemimpinan Crown Group setelah kakek mereka tiada nantinya. Hana (9 tahun), Siwon (7 tahun), dan Jiah kecil (3 tahun) sudah mendapatkan pelajaran tata krama, seni, dan bahasa asing sejak dini. Siwon kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang tertata. Siwon mewarisi sifat yang dimiliki oleh kakeknya, tegas, keras kepala, dingin, memiliki jiwa pemimpin dan penguasa, namun juga memiliki kelembutan hati yang sangat jarang ia ditunjukkan. Choi bersaudara sangat dekat dengan ibu mereka. Tapi karena sikap dingin Siwon, terkadang ia merasa iri saat perhatian nyonya Choi teralih pada bayi Minho yang baru lahir.

Sikap dingin dan jiwa penguasa yang dimiliki Siwon berubah saat ia melewati masa remaja nya di SMA. Sebagai anak dari keluarga pebisnis terpandang di Empire School, ia merasa memiliki hak untuk mengelompokkan status sosial siswa Empire School. Hal tersebut dikarenakan di tahun Siwon duduk di bangku SMA, tidak ada satupun anak pebisnis terpandang lainnya. Berbeda dengan Jiah yang berusia sama dengan beberapa anak pebisnis terpandang lainnya. Akhirnya Siwon membuat hirarki sosial siswa Empire School. Hirarki sosial itu semakin kuat dicanangkan saat Siwon membuat genk yang diberi nama The Satans, kelompok anak-anak dengan status sosial tertinggi di Empire School. Di 3 tahun keberadaan Siwon di Empire School, sudah ada sekitar 11 orang siswa-siswa dari status sosial terendah yang dikeluarkan karena memiliki masalah dengan The Satans. Setelah kelulusan Siwon, eksistensi The Satans dilanjutkan tanpa adanya pemimpin (Siwon membuat peraturan, hanya pewaris bisnis tertinggi yang bisa memimpin The Satans).

Siwon sudah menjadi bagian dari jajaran direksi Crown Group di usia yang sangat muda. Setelah lulus dari Empire School, Siwon melanjutkan sekolahnya di Stanford Uni jurusan Bisnis. Ia kembali ke Korea setelah 3 tahun untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan mengurus kepindahannya ke kantor utama Crown Group (sebelumnya Siwon bekerja di Crown Group US). Di usia 22 tahun, Siwon sudah menjabat sebagai Direktur Utama di Crown Group dan Direktur di CS Corp.

.

.

.

Choi Minho

Choi Minho, anak terakhir dari 4 bersaudara keluarga Choi. Anak dari Choi Dongwook dan Ahn Yoo Mi yang lahir saat keadaan keluarga mereka sudah berubah sepenuhnya dari sebelumnya. Minho adalah seorang anak yang ceria, rendah hati, dermawan, tidak sombong, dan ramah. Minho tumbuh dalam keluarga yang disiplin dan sulit ditemui. Minho memiliki perbedaan usia yang cukup jauh dengan kedua kakak pertamanya (Hana dan Siwon). Namun hal tersebut tidak membuat Minho kehilangan perhatian dari kedua kakak perempuan yang sangat menyayanginya. Sebagai anak termuda, Minho mendapat perlakuan yang sedikit berbeda dari Siwon. Minho tidak mengikuti pelajaran yang terlalu ketat. Ia juga tidak mendapatkan penjagaan yang berlebihan. Minho masih diberikan keleluasaan untuk melakukan apa yang ia inginkan tanpa harus memikirkan permasalahan yang terjadi di perusahaan. Bahkan bisa dibilang Minho tidak terlibat sama sekali dengan perusahaan. Minho yang semula merasa senang dengan kebebasannya itu lantas merasa kesepian, karna hanya ia yang bebas dirumah itu. Minho selalu sendirian. Setelah kepergian Jiah ke London, seluruh kegiatannya menjadi membosankan. Ia sarapan sendiri, tidak ada yang bisa diajak bicara, semua hal menjadi tidak menarik baginya. Sampai akhirnya ia merasa rumah keluarga Choi terlalu besar untuk ia tinggali. Di dalam rumah itu terdapat banyak sekali orang (pekerja, penjaga, kepala rumah tangga), tetapi Minho tetap merasa sendirian. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli sebuah apartemen untuknya sendiri. Minho baru diijinkan menempati apartemen itu saat usia nya 15 tahun, tentu dengan segala penjagaan dan pelayanan. Hubungan Minho dan Siwon tidak begitu baik sejak awal. Mereka tidak pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan satu sama lain. Minho bahkan tidak pernah berbicara dengan Siwon selain permasalahan di perusahaan.

Setelah kepulangan Jiah kembali ke Seoul, Minho dihadapkan dengan masalah kesehatan ibu mereka yang harus ia jelaskan secara perlahan pada Jiah. Minho sering berhadapan dengan masa sulit menjadi penengah diantara keluarga itu. Masalah kesehatan ibu mereka belum bisa ia tangani, Minho harus kembali menerima kenyataan bahwa Jiah ternyata adalah tunangan dari Cho Kyuhyun, anak dari keluarga Cho pemilik Castle Group. Dibalik sikap tenangnya, Minho memendam perasaan khawatir pada kakaknya. Minho memiliki penilaian berbeda pada Kyuhyun. Sejak awal mengetahui tentang Cho Kyuhyun, Minho merasa ada hal yang berbeda dari penilaian orang lain tentang Kyuhyun. Sikap dingin Kyuhyun pada semua orang membuat Minho merasa Kyuhyun memiliki kesamaan dengan Siwon. Diam-diam Minho memiliki penilaian buruk pada Kyuhyun yang tidak memiliki banyak teman, hanya berteman dengan anak-anak berstatus sosial tinggi, bersikap dingin pada orang yang tidak dikenal.

Dihari pertama Jiah menjadi siswi di Empire School, tidak sengaja Minho melihat Kyuhyun yang mengintai kakak perempuannya dari kejauhan. Rasa tidak sukanya pada Kyuhyun bertambah saat itu. Namun segala dugaan buruknya menghilang saat melihat senyum dan tatapan Kyuhyun pada Jiah. Minho secara perlahan memiliki kepercayaan pada Kyuhyun, bahkan saat Kyuhyun membuat Jiah terluka.

.

.

.

.

.

.

  • UNWRITTEN STORY

.

Siwon’s POV

(They Who Belong To That Position Part 2)

“Nuna, amu mal hajima. Gaman isseora… (kakak, jangan katakan apapun. Tetaplah diam…)”, kata Minho pada Jiah yang baru saja pulang.

.

“Aigoo… kau sudah pulang?” tanya eomeoni yang sepertinya baru keluar dari kamarnya.

.

“Ne. Aku sudah pulang eomeoni…” jawab Jiah.

.

“Geurae… geurae… uri ddal. Haggyo eottae, Hana-ya? (iya… iya… anakku. Bagaimana sekolahmu, Hana?)”

.

“Aah… eomeoni, nuna seperti nya lelah. Biarkan nuna istirahat dulu…” kata Minho mencoba mengalihkan eomeoni.

.

Eo! Andwae. Eomeoni kambuh. Ia kembali menganggap Jiah sebagai Hana nuna. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membiarkannya? Tapi Jiah belum mengetahui masalah ini. Jiah tidak mungkin bisa bertahan menghadapi eomeoni saat ini. Ayo berpikir Choi Siwon. Gunakan otakmu untuk berpikir… benar! Aku bisa menggunakan alasan itu untuk mengingatkan eomeoni. Walaupun dengan cara itu eomeoni hanya akan mengingat Jiah, aku tetap harus melakukannya.

.

“Hana aniyeyo, eomeoni… (Dia bukan Hana, ibu…)” kataku muncul dari tempat ku bersembunyi sebelumnya.

.

“Museun suriya? Hana maja… (Apa yang kau katakan? Benar Hana…)” eomeoni bersikeras.

.

“Animnida. Jiah-eyo. Choi Ji Ah”, kataku lagi.

.

“Siwon-ah… Hana aniya? (Siwon, dia bukan Hana?)”, tanya eomeoni Minho.

.

Aku sudah terbiasa dengan ini. Mendengar namaku disebut untuk memanggil orang lain. Menjadi orang lain untuk eomeoniku sendiri. Tapi, kenapa rasanya masih sesakit ini? Aku akan melakukan apapun demi eomeoni, termasuk membiarkannya tidak mengenali ku disaat seperti ini. Walaupun aku sudah sangat terbiasa, tapi rasanya tetap sangat sakit. Sadarlah Choi Siwon. Kau tidak boleh larut dalam kesedihanmu. Kau tidak sendirian disini. Kedua adikmu juga ada disini. Kau harus melakukan sesuatu.

.

“Tentu saja, eomeoni. Dia Ji Ah. Benar kan Siwon?” tanyaku pada Minho yang berdiri membeku disamping Jiah.

.

Minho hanya bisa mengangguk cepat menjawab pertanyaanku. Bertahanlah Choi Minho. Kau tidak boleh lemah sekarang. Kau juga harus membantuku.

.

“Dia Choi Ji Ah, eomeoni. Adik Siwon yang bertunangan dengan Cho Kyuhyun. Anak dari bibi Park Seon Mi”, kataku lagi.

.

“Aah… geurae. Jiah-ya… bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Cho Kyuhyun hari ini? Wajahmu dan Hana sangat mirip. Eomeoni sampai keliru mengenali kalian… Hana pergi kemana, Wonho-ya? Bukankah kalian harus fitting baju pengantin secepatnya?”

.

Aku hanya tersenyum sambil membawa eomeoni kembali ke kamarnya. Aku menoleh pada Jiah yang terduduk lemas di ruang tamu. Mulai sekarang tugasmu adalah menjaganya Choi Minho. Aku akan mengurus eomeoni seperti biasanya.

.

Sesampainya dikamar, aku mendudukan eomeoni di sofa lalu duduk menghadapnya. Aku menggenggam tangannya kuat, mengumpulkan kekuatanku untuk menatap matanya. Ia tersenyum di detik yang sama saat mata kami bertemu. Senyum terindah yang pernah ku lihat sepanjang hidupku. Tangan kanannya melepaskan genggamanku. Ia membelai kepalaku lembut masih dengan senyum keibuannya.

.

“Apa ada masalah?” tanya eomeoni tenang.

.

“Ya. Ada beberapa, eomeoni…” jawabku.

.

“Katakanlah, Wonho-ya… apa kau bertengkar dengan Hana?”

.

Jantungku rasanya seperti ditusuk dengan pisau saat mendengar eomeoni menyebutkan nama Hana nuna dengan lembut. Ia masih membelai kepalaku sambil sesekali mengusap keningku dengan ibu jarinya. Rasanya aku ingin tetap seperti ini untuk beberapa lama. Walaupun sebagai Wonho, bukan Siwon, aku bisa bertahan dengan belaian dan usapan eomeoni di kepalaku.

.

“Eomeoni sedang senang, bukan? Jiah sudah kembali ke rumah. Keluarga ini kembali bersama. Eomeoni bisa melihat wajahnya lagi setiap hari. Tidak ada lagi kekhawatiran dan kesedihan di wajah eomeoni akhir-akhir ini. Eomeoni begitu senang rupanya…”

.

“Apakah terlihat jelas?” tanya eomeoni tersipu sambil menyentuh wajahnya sendiri.

.

“Eo… geunde, eomeoni, bisakah aku memohon sesuatu?” tanyaku.

.

“Tentu saja. Apapun akan aku lakukan untukmu”.

.

“Eomeoni… aku tahu eomeoni begitu senang dengan kepulangan Jiah. Begitupun denganku. Tapi, eomeoni tidak bisa begitu saja melupakan obat yang harus eomeoni minum.”

.

“Apa maksudmu, Wonho-ya?”

.

“Eomeoni….. Jeoneun Siwon-iyeyo. Wonho aniyeyo. Coba eomeoni lihat baik-baik wajahku. Aku Siwon, bukan? Aku Choi Siwon, eomeoni. Anak laki-laki yang selalu merajuk padamu…”

.

Eomeoni mengerutkan keningnya seolah memikirkan semua hal yang aku katakan. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia meraih kepalaku dengan kedua tangannya, membelai dan mengusap wajahku seolah memastikan keraguannya. Tiba-tiba air mata menetes dari matanya.

.

“Siwon-ah….. Oh… Siwon-ah….. Mianhae… mianhae….. aku melakukannya lagi? Aku benar-benar minta maaf, Siwon-ah. Eotteokhae? Uri jasik-i….. neomu mianhae Siwon-ah… (bagaimana ini? anakku…… benar-benar maaf, Siwon-ah)”

.

“Aku baik-baik saja, eomeoni. Aku baik-baik saja…”

.

“Tetap saja aku menyesal, Siwon-ah. Aku benar-benar eomeoni yang buruk untukmu…”

.

“Tidak, eomeoni. Aku sungguh baik-baik saja… Hanya saja, mereka sepertinya sedikit terkejut. Aku seharusnya meminta maaf pada mereka, bukan? Tapi, eomeoni… aku tidak bisa mengatakannya. Aku kakak yang buruk untuk mereka…”

.

“Kemarilah, anakku. Biarkan aku memelukmu…” kata eomeoni memintaku mendekat untuk memelukku.

.

Tuhan, bisakah hentikan waktu untukku saat ini saja? Aku merasa ini adalah saat terbaik yang aku miliki. Berada dalam pelukan eomeoni, merasakan kehangatannya lagi, merasakan usapan sayangnya di punggungku lagi. Rasanya semua beban di pundakku hilang begitu saja. Aku merasa bisa hidup kembali.

.

“Kau menyayangi mereka, bukan?” tanya eomeoni.

.

“Tentu saja, eomeoni. Mereka adikku…”

.

“Jangan terlalu keras pada mereka…..dan pada dirimu sendiri. Jaga mereka untukku, Siwon-ah”.

.

“Eomeoni… tentu aku akan menjaga mereka. Aku tidak akan membiarkan siapapun lagi pergi dari keluarga ini. Tidak satupun”

.

.

.

Jiah’s POV

(They Who Belong To That Position Part 3 – the very first night with Cho Kyuhyun)

Ia tertidur. Aku bisa merasakan helaan napasnya yang lembut. Menatap wajahnya membuat sesuatu yang tidak ku mengerti membuncah di dadaku. Perasaan aneh ini kembali muncul. Perasaan yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata apapun. Berada disekitarnya menghilangkan akal sehatku. Ada bersama nya seolah mengalihkan semua masalah yang ku alami. Seolah aku telah menemukan piece yang hilang dari puzzle-ku. Ia melengkapi nya. Apa yang terjadi padaku? Aku bahkan seperti tidak mengenal diriku saat ini. Cho Kyuhyun… apa yang kau lakukan padaku?

.

Aku merasa begitu nyaman berada dalam rengkuhannya. Seolah ia tameng yang siap menghalau bahaya apapun yang bisa menghampiriku. Aroma tubuhnya bahkan dengan mudahnya melemaskan otot-ototku. Kami melakukannya. Dua kata itu seolah berputar-putar diotakku. Aku semudah itu melakukannya dengan Kyuhyun. Kami bahkan belum cukup lama bertemu. Kami juga tidak memiliki hubungan khusus apapun selain pertunangan yang dirancang oleh kedua orang tua kami. Namun sentuhannya ditubuhku membuatku menyerah begitu mudah. Kegigihanku menolaknya seketika runtuh begitu saja. Hal aneh lainnya juga ku rasakan tiba-tiba. Seolah aku mengenalnya untuk waktu yang sangat lama. Seolah ini bukan kali pertama kami berada di tempat tidur yang sama. Seolah ia bukan orang baru dalam hidupku. Seolah ia adalah seorang yang kembali setelah sekian lama. Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku, Cho Kyuhyun? Mengapa aku bisa merasakan perasaan yang begitu aneh ini padamu? Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku yang selama ini tidak pernah percaya pada kata takdir justru merasa kau adalah takdir dalam hidupku? Kenapa… kenapa aku merasa ada sebuah perasaan dalam diriku yang seolah hanya kaulah pusat dari segala arahku? Katakanlah Cho Kyuhyun, katakan kalau aku sudah gila. Semua ini hanya kegilaan sesaatku. Katakan, Cho Kyuhyun. Karena aku tidak akan mampu mencintaimu, memberikan cintaku padamu, hanya untuk kehilanganmu…

.

.

.

(They Who Belong To That Position Part 4 – Perbincangan kembali dengan Jung Yonghwa)

Aku menatap mata itu lagi. Aku mendengar suara itu lagi. Masih wajah yang sama, suara yang sama, orang yang sama. Hanya saja, kali ini perasaan yang berbeda. Aku kembali dibuat kebingungan oleh perasaanku sendiri. Selama 3 tahun pelarianku ke London, tidak pernah sekalipun aku bisa melupakan rasa sakit dan benciku pada Yonghwa. Aku mempercayainya sebagai bukti bahwa aku masih menyukainya. Namun saat langkah kaki pertama ku mendekatinya, perasaan itu seolah lenyap tertiup angin di rooftop. Tidak lagi ada yang memberatkan hatiku dan langkah kakiku. Berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Yonghwa tidak lagi menggangguku. Saat ini, aku merasa seperti kembali ke masa pertama kali kami bertemu dan menjadi teman.

.

Aku ingin minta maaf… Untuk segalanya… Untuk yang terjadi padamu selama 10 hari pertamamu disini. Untuk yang terjadi 2 hari yang lalu. Untuk yang ku lakukan beberapa tahun yang lalu. Semuanya…

.

Permintaan maaf itu….. kata yang selama hidupku tidak pernah ku dengar keluar dari bibirnya, hari ini ia mengatakannya padaku. Jung Yonghwa yang saat ini berada dihadapanku bukanlah ia yang ku kenal selama bertahun-tahun dalam hidupku. Tatapan lelah itu tidak pernah ada dimata seorang Jung Yonghwa sebelumnya. Seharusnya ia terlihat kuat, penuh dengan percaya diri, tersenyum ceria, dengan mata bersinar dipenuhi dengan segala ambisinya dan keyakinan pada diri dan dunianya. Seberapa banyak yang ku lewatkan darinya? Sejauh apa semua hal buruk menghancurkannya? Ambisi ayahnya sudah meruntuhkan kekuatannya. Bahkan bahu itu terlihat lunglai saat ini.

.

Aku sudah memaafkanmu. Jinan yaegi-ya… (itu cerita dimasa lalu…), kita hanya perlu melihat ke depan saat ini, Yong…

.

Kau menyukainya kan, Jiah? Cho Kyuhyun… kau jatuh cinta padanya… kalau tidak, kita tidak mungkin membicarakan semua hal ini dalam keadaan tenang seperti ini…

.

Benarkah, Yonghwa-ya? Benarkah itu yang aku rasakan padanya? Kau selalu mengerti bagaimana keadaanku hanya dengan melihatku. Sampai saat ini aku belum pernah menemukan seseorang yang mampu membacaku sebaik kau. Itukah yang terlihat dari wajahku? Bahkan disaat seperti ini hatiku mengatakan dua hal yang berbeda. Disatu sisi aku sangat mempercayaimu, tapi disisi lain aku dengan gigih mengingkarinya. Aku ragu, Yonghwa-ya…

.

.

.

Kyuhyun’s POV

(They Who Belong To That Position Part 5 – Perubahan Sikapku Saat Bersama Jiah)

Pekerjaan dikantor benar-benar membuatku kehilangan akal sehatku. Begitu banyak meeting dan berkas yang harus ku tangani. Aku bahkan masih berstatus sebagai pekerja sukarela yang memberikan bantuan pada appa. Tuan Cho benar-benar…… andai ia tahu apa yang baru saja dialami anaknya ini, pasti ia tidak akan melakukan kekejaman ini padaku. Setelah hari itu seharusnya aku selalu berada disekitar Jiah. Bagaimana jika ada yang menganggu nya disekolah? Bagaimana jika ada yang mendekatinya? Ah… seharusnya aku meminta appa untuk membuat pesta pertunangan besar-besaran dan ditayangkan di televisi, agar semua orang tahu Cho Kyuhyun tidak akan membiarkan seorang laki-lakipun mendekati Choi Jiah. Aiisshhh appa…

.

.

Drrrrrttttt…… drrrttttt……

.

.

Ponsel di saku jasku bergetar menggangguku. Akupun mengambilnya dan melihat nama si pemanggil di layarnya. Tanpa nama. Nomor yang tidak ku kenal. Aku menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak.

.

“Yoboseyo?” aku memutuskan untuk mengangkatnya.

.

Yoboseyo? Apakah saya berbicara dengan Tuan Cho Kyuhyun?” tanya seorang wanita diseberang telepon.

.

“Ne. Cho Kyuhyun ibnida. Nuguseyo? Ada yang bisa saya bantu?”

.

“Ne, tuan Cho Kyuhyun. Saya Song Haena, petugas Panti Asuhan Hope. Maaf jika saya lancang, tapi apakah anda mengetahui sesuatu mengenai panti asuhan ini?”

.

“Ne, saya tahu. Saya berasal dari sana. Maaf sebelumnya, Song Haena-ssi, bisakah anda langsung pada intinya?” tanya Kyuhyun dingin.

.

“Saya mohon maaf sekali lagi tuan Cho. Saya mengetahui perihal kunjungan anda beberapa tahun yang lalu mencari data diri anda. Saya hanya ingin memberi tahu anda bahwa saat ini ibu kandung anda sedang berkunjung. Beliau tidak mengijinkan saya memberi tahu anda, tapi saya sudah berjanji pada anda saat itu, jadi…..”

.

“Mwo? Anda yakin? Baik, saya akan segera kesana. Saya mohon tahan dia sampai saya tiba…”

.

Ia kembali. Orang itu kembali. Setelah sekian lama aku mencarinya, akhirnya aku bisa menemukan jejaknya. Bagaimanapun caranya aku harus bisa menemuinya. Aku harus mendapatkan jawaban atas semua hal yang ku alami. Aku tidak bisa menerima trauma ini tanpa mengetahui apapun yang menyebabkannya. Orang itu harus menjelaskan semuanya padaku.

.

.

.

PING!

.

.

.

Sebuah email masuk ke ponselku. Aku kembali merasa ragu untuk membukanya, karena saat ini ada hal yang harus lebih dulu aku lakukan. Aku harus mengejar orang itu sebelum ia kembali menghilang dan semua pertanyaanku tidak terjawab. Namun sesuatu dalam diriku mendorongku untuk membuka email itu.

.

.

“MWOYA???”

.

Kau sudah melewati batasmu, Jung Yonghwa! Peringatanku hari itu ternyata tidak kau anggap. Tidak. Kau tidak bisa mendekatinya lagi. Jiah milikku.

.

.

.

.

Beberapa Saat Setelah Jiah yang Sakit Merayuku

Jiah tertidur sangat pulas dengan senyuman diwajahnya. Ch… bisa-bisanya ia tersenyum seperti itu setelah mendapatkan kemauannya dengan mengalahkanku begitu saja. Suhu tubuhnya sedikit meningkat, telapak tangannya dingin dan bibirnya pucat. Choi Jiah yang nakal. Bahkan dalam keadaan seperti ini ia sangat keras kepala seperti biasanya. Ia tetap Jiah yang tidak dengan mudah membiarkanku mengaturnya. Menghadapimu sangat melelahkan, Choi Jiah. Kau dan sifat keras kepalamu itu sangat melelahkan untukku. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku menyerah dengan sangat mudah. Sejak awal kita bertemu, 11 tahun yang lalu, kau juga orang yang mencairkan sikapku. Kekuatan apa yang ada padamu? Kenapa semua hal dalam diriku selalu mengikuti apa yang kau inginkan dengan mudah?

.

Cho Kyuhyun………nappeun nom…

.

Bahkan kau mengigau dengan mencelaku. Maafkan aku, Choi Jiah. Aku tidak memiliki kata-kata lain yang bisa ku sampaikan padamu selain permintaan maafku. Akupun masih beradaptasi dengan semua hal yang berubah dalam diriku. Semua keposesifan ini juga hal baru untukku. Kau yang memunculkannya. Aku baru menyadarinya, Jiah-ya. Aku benar-benar merasa posesif padamu. Aku merelakan orang itu kembali pergi dariku. Tapi tidak bisa denganmu. Aku harus tetap menjaga mu tetap bersamaku. Bahkan jika suatu saat kau memintaku pergi darimu…..

.

.

.

.

.

They Who Belong to That Position: Behind the Story Part 2 ends…

Advertisements

12 thoughts on “They Who Belong to That Position: Behind the Story Part 2

  1. Gak tw mesti komen kyk kyk apa. Satu persatu puzzle dah mulai tersusun. Kebingungan aq dah mulai terjawab satu persatu. Keep writing, thor. Oh ya, ada satu yg mengganjal dan tidak enak di hati. Selama ini aq selalu memanggil dgn sebutan sebutan author. Kyknya kurang sopang. Sebaiknya panggilnya apa? Aq line 91. Spy bs lbh terasa akrab gitu komennya.

    Like

  2. annyeong,,
    ahh banyak banget cerita di balik part2 kemarin,, keren
    tambah penasaran sama kelanjutan ceritanya dan terutama part 7 nya.. semangat 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s