The Possibility of Impossible Us Part 2

– The Possibility of Impossible Us Part 2 –

“Nara’s Memory: is it the right time to choose? Should I even choose?”

 

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Nara (OC)

Other Cast:
Lee Soohyuk, Jung Eunji, Kim Myungsoo, Changjo, etc.

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah di ff ini adalah kisah nyata yang dikembangkan ke dunia per-fanfiction-an. This is a simple love story. Beberapa tokoh, karakter, latar tempat dibuat berbeda dengan kisah aslinya. FF ini akan dibuat dengan format yang sedikit berbeda. Jika FF sebelumnya dibuat dengan 3 sudut pandang (sudut pandang author, tokoh utama laki-laki, dan tokoh utama perempuan), Part ini full menggunakan sudut pandang Choi Nara. Jadi, akan lebih terasa seperti diary si tokoh utama perempuan. Well, FF ini basically adalah romance dengan rating PG-15, tapi mungkin direncanakan akan ada 1 atau 2 part dengan NC didalamnya. Dan sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

‘Cause, it’s only him. It will always be him…

.

.

.

.

-The Possibility of Impossible Us Part 2-

.

.

.

.

 

Mei, 2008

.

Kyuhyun putus dengan pacarnya yang baru aku ketahui bernama Solji akhir – akhir ini. Aku harus merelakan namaku digunakan olehnya. ‘Maafkan aku, Solji-ya. Aku tidak tahu kalau selama ini aku masih mempunyai perasaan itu pada Nara’, begitu katanya pada Solji. Demi Neptunus! Saat Kyuhyun memberitahuku ia menggunakan namaku untuk (akhirnya) memberikan alasan terbesarnya pada Solji, rasanya aku ingin mendorongnya dari atas puncak Namsan Tower. Kami memang sudah berteman sejak lama, dan memang benar Kyuhyun pernah memiliki perasaan (yang lebih dari sekedar suka pada teman) padaku, tapi bukan berarti aku harus dengan ikhlas membiarkan mantan pacarnya memberikan julukan ‘perebut pacar orang’ padaku, kan? Aku ingin sekali menggunting – gunting sepatu kesayangannya yang ia simpan di lemarinya itu. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa alasan yang ia berikan pada Solji tidak sepenuhnya salah. Aku memang cinta pertama Kyuhyun, ia menceritakannya dengan jelas padaku saat itu. Ia juga benar tidak bisa melupakanku, karena kami bertemu lagi setelah 4 tahun lamanya. Hanya satu hal yang (mungkin) salah. Ia masih punya perasaan itu padaku? Aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu.

.

“Daripada kau hanya bersantai tidak jelas seperti itu lebih baik kau ikut aku, Nara-ya! Dirumah mu juga tidak ada orang, bukan?”

.

“Eodiga?” tanyaku malas.

.

“Han-gang.”

.

“Untuk apa?”

.

“Main… basket?”

.

“Kau kan bisa bermain di lapangan tidak jauh dari rumah. Untuk apa jauh-jauh ke Han-gang?”

.

“Ya! Kalau aku bisa bermain disana, sejak tadi aku tidak ada di kamarmu ini, Choi Nara… Lapangan itu sedang digunakan oleh sekelompok siswa Sekolah Dasar untuk latihan drum band. Sudahlah ganti baju, ayo berangkat!”

.

Sampailah aku di Han-gang. Ini jelas bukan hari libur kesukaanku. Aku tidak suka berada dibawah terik matahari hanya untuk menunggu seorang Kyuhyun bermain basket dengan teman – temannya. Walaupun Kyuhyun berjanji padaku akan menanggung segala biaya kebutuhan ‘jajan’ku tanpa batas, tetap saja aku tidak suka dengan ide menghabiskan hari libur dengan berkeringat bukan karena melakukan kegiatan, tapi karena menunggu. Akhirnya aku bernegosiasi dengannya. Aku tidak mau menunggunya bermain lebih dari 2 jam. Aku tidak peduli jika ia menarik tunjangan ‘jajan’nya untukku. Karena jika ia bermain 1 menit saja lebih dari 2 jam, aku akan angkat kaki dari sini dan pulang ke rumah. Ia menyetujui permintaanku dan menyarankan agar aku berjalan – jalan untuk mengusir kebosananku.

.

Berjalan – jalan di Han-gang mungkin menyenangkan jika tidak dilakukan seorang diri. Karena kalian pasti akan terlihat sangat kesepian walaupun sesungguhnya kalian tidak merasakan kesepian sama sekali. Hampir semua orang yang melintas di depanku memiliki teman untuk sekedar berbicara atau berolah raga. Sementara aku hanya duduk sendiri di sebuah bangku sambil mendengarkan suara personil f(x) dan EXO D.O menyanyikan lirik yang membuatku mendengus pelan.

.

 

 

Chinguraneun ireum, eoneusae miwojin ireum

Gamchudeon gamjeongeun jigeumdo apeun bimilui gieogilppun

Uri sain jeongrihal su eobsneun sajin bomyeon gaseum arin story

I’m sorry yeoreuma ijen goodbye~

-f(x) feat EXO D.O – Goobdye Summer

.

.

“Hai…” seseorang menyapaku.

.

“Kau……. siapa?”

.

“Oh… kita belum kenal. Bolehkah aku mengenalmu?” tanyanya ragu – ragu.

.

Orang tua selalu mengatakan pada anak – anaknya untuk tidak berbicara pada orang asing. Aku mengingat kata – kata itu dengan baik walaupun kedua orang tuaku tidak pernah mengatakannya lagi padaku. Tapi sepertinya usia ku sudah cukup untuk membedakan siapa yang boleh dan tidak boleh ku ajak bicara.

.

“Emm… baiklah…” Kataku akhirnya.

.

“Aku Lee Soohyuk”, katanya sambil menjulurkan tangannya kearahku.

.

Dengan ragu – ragu aku menerima uluran tangannya. “Nara.” Kataku singkat.

.

“Geunyang…..Nara?”

.

Aku mengernyitkan dahiku. Dari yang ku tangkap dengan kedua mataku, laki – laki yang masih berdiri di depanku mustahil keturunan asli Korea. Tubuhnya sangat tinggi, matanya sangat tajam, dan wajahnya seperti mannequin. Ia terlihat sangat muda, mungkin satu atau dua tahun diatasku. Tingginya lebih tinggi dari Kyuhyun yang saat ini sudah mencapai 180,6 cm (ia tidak akan membiarkan aku melupakan 0,6 cm-nya itu).

“Choi Nara.”

.

“Ah… Choi Nara. Kau berteman dengan Kyuhyun?”

.

“Bagaimana kau tahu? Kau mengenal Kyuhyun?”

.

“Kenal wajah dan nama saja. Tadi kebetulan aku melihatmu bicara dengannya.”

.

“Seoul sangat sempit”, kataku sambil memalingkan wajahku.

.

“Kenapa?”

.

“Tidak apa – apa. Bagaimana kau mengenal Kyuhyun?”

.

“Kebetulan aku satu SMP dengan Kyuhyun. Dan kau? Bagaimana kau mengenal Kyuhyun? Teman SMA?”

.

“Bukan…”

.

“Kau bukan pacarnya kan?”

.

“Pacar? Tidak pernah terpikirkan.”

.

“Lalu?”

.

“Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku mengenalnya sudah sangat lama, bahkan sebelum masa-masa dimana belum ada PR menulis atau berhitung.”

.

“Sangat lama…”

.

Hening. Aku dan kecanggungan dengan orang asing sudah seperti sahabat karib yang tidak bisa dijauhkan. Aku jauh dari tipe penanya aktif pada orang yang baru aku temui beberapa menit lalu. Kyuhyun tentu saja pengecualian. Kami bukan orang asing yang baru pertama kali bertemu. Kami hanya ‘baru’ bertemu setelah sekian lama menghilang dari hadapan masing – masing.

.

“Sangat dekat dengan Kyuhyun?” tanyanya lagi.

.

“Emm… lumayan.”

.

“Sedekat apa?”

.

Aku menggelengkan kepalaku pelan lalu mengangkat bahuku. Aku tidak bisa menggambarkan kedekatanku dengan Kyuhyun menggunakan serangkaian kata. Apa yang harus aku katakan pada orang asing bernama Soohyuk ini? Kami berteman sejak kami masih sangat kecil? Kami tumbuh bersama? Atau kami berteman, terkadang terlihat seperti berpacaran, kadang seperti kakak adik, kadang seperti ibu dan anak, kadang seperti bodyguard dan majikannya, kadang seperti musuh, atau kadang justru terlihat seperti pasangan menikah muda? Tidak. Penjelasan itu akan memunculkan banyak pertanyaan berikutnya yang rasa – rasanya akan malas untuk ku jawab.

.

“Susah menjelaskannya. Yang jelas tidak sampai share kamar atau celana dalam”, kataku santai.

.

Ia tertawa mendengar jawabanku. Aku menatap wajahnya sekilas lalu tersenyum mengingat jawabanku sendiri. Jawabanku tidak sepenuhnya benar. Kami pernah berbagi kamar hanya untuk tidur di siang hari. Itupun dengan kondisi aku menggunakan tempat tidur dan ia tertidur di karpet tidak jauh dari tempat tidur. Kami berada di kamar yang sama. Itu termasuk berbagi kamar, bukan?

.

“Tentu saja… Kau perempuan, dia laki-laki. Share underwear……no no

.

“Almyeon dwaesseoyo…”

.

By the way, aku boleh minta nomer ponselmu?”

.

Aku menoleh menatapnya beberapa detik. Kemudian mengalihkan pandanganku menimbang – nimbang apakah aku akan memberikan nomer ponselku padanya. Aku belum begitu yakin untuk memberikan nomerku padanya. Kami baru saja bertemu. Sejauh ini aku bahkan hanya tahu ia bernama Soohyuk dan ia teman SMP Kyuhyun. Alasan untukku memberikan nomerku padanya masih belum cukup. Sepertinya aku tidak bisa memberikannya. Aku menatapnya lagi ingin menolak permintaannya saat sebuah pesan masuk ke ponsel ku.

.

“Sebentar”, kataku pada Soohyuk.

.

 

 

.

From : KYUHYUN

Kau dimana, Nara-ya? Aku sudah selesai.

Aku baru mendapatkan nomor gadis idamanku disekolah.

Cepat kesini!! Aku akan menceritakan lengkapnya!!

.

 

.

“Emm… catat ya… 010…..” aku memberikan nomerku pada Soohyuk dan menutup pesan masuk dari Kyuhyun.

.

“Coba aku missed call…” katanya.

.

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum tipis. Lalu ponsel ku bergetar dan layarnya memunculkan nomer handphone milih Soohyuk. Aku menunjukkan layar itu pada Soohyuk. Ia mengangguk cepat dan mematikan sambungan teleponnya. Aku langsung berdiri lalu menatapnya ragu. Aku harus kembali ke lapangan basket. Aku harus menemui Kyuhyun, untuk memintanya pulang, bukan untuk mendengar ceritanya.

.

.

.

Agustus, 2008

 

.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ku lakukan. Satu bulan yang lalu aku bertemu dengan Soohyuk di Han-gang. Seminggu yang lalu kami kembali lagi ke bangku itu, di tempat yang sama dengan status yang berbeda. Kami resmi berpacaran. Serangkaian kata terus saja berputar di kepalaku. Aku dan Soohyuk berpacaran. Sampai pagi ini saat aku membuka mataku karena sinar matahari yang masuk dari jendela, aku masih memikirkan sebuah pertanyaan di kepalaku. Bagaimana bisa?

.

Aku akan bicara jujur. Soohyuk bukan orang jahat. Kami berhubungan (sebagai teman) dengan baik selama beberapa bulan terakhir. Kami juga sering menghabiskan waktu di sebuah cafe hanya untuk sekedar mengobrol. Walaupun tentu saja aku lebih sering menghabiskan waktu luangku dengan Kyuhyun. Ah… berbicara tentang Kyuhyun, ia juga sudah menyatakan perasaannya pada gadis yang ia sebut di pesannya saat itu. Sampai saat ini aku tidak tahu namanya. Kami hanya menyebutnya dengan ‘dia’ disetiap perbincangan kami. Dan kembali ke Soohyuk. Aku belum memberi tahu Kyuhyun tentang hubunganku dengan Soohyuk. Entah apa yang akan ia katakan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana hubungan Kyuhyun dan Soohyuk. Karena mereka bertemu saat SMP, which is masa – masa aku tidak bertemu dengan Kyuhyun.

.

Aku sudah mengetahui sedikit banyak tentang Soohyuk. Aku akan mulai dengan data dirinya. Lee Soohyuk, lahir 31 Mei. Soohyuk adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia memiliki kakak laki – laki bernama Woohyuk 2 tahun lebih tua darinya dan adik perempuan bernama Soomin 3 tahun lebih muda darinya. Orang tua Soohyuk sudah berpisah saat usianya 9 tahun. Sejak saat itu keluarga mereka terpisah di berbagai tempat. Kakaknya memutuskan untuk tinggal di Jeju dan saat ini meneruskan kuliah di Cambridge Uni. Sementara adiknya Soomin tetap menetap di rumah mereka di Jeju bersama kakek dan nenek mereka. Ibu Soohyuk menetap di Seoul. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Soohyuk memutuskan untuk menemani ibunya di Seoul. Soohyuk juga menceritakan padaku tentang ayahnya yang saat ini tinggal di Los Angeles. Ayahnya sudah menikah lagi dan memiliki dua orang anak. Hal itu masih menyakiti perasaan ibunya. Karena alasan kedua orang tua nya berpisah memang disebabkan oleh datangnya wanita lain di kehidupan ayahnya. Soohyuk dan ibunya memutuskan untuk tidak membahas tentang hal itu lagi. Akupun memutuskan untuk tidak pernah mengungkitnya.

.

Aku dan Soohyuk duduk berhadapan di salah satu cafe di daerah Apgujeong. Kami tidak memiliki kepentingan yang berarti. Hanya sebuah date yang tidak kami rencanakan. Aku sengaja memilih hari Jum’at dari hari – hari bebas lainnya. Karena tentu saja akhir pekanku sudah di booking oleh Kyuhyun. Jadwal Sabtu dan Minggu ini sudah penuh dengan rencana Kyuhyun mencari sepatu dan jaket yang ia incar sejak sebulan yang lalu. Aku tidak tahu apa alasan Kyuhyun mengajakku. Bukan aku tidak mau, tapi bukankah Kyuhyun sudah mempunyai seorang pacar yang ‘mungkin’ saja mau menemaninya? Atau ‘mungkin’ pacarnya tidak suka menemani Kyuhyun melakukan hobby membeli sepatunya? Aku tidak mau berasumsi.

.

“Kemarin Soomin meneleponku. Dia menitipkan salam untukmu”, kata Soohyuk.

.

“O ya? Sampaikan salamku padanya jika ia menelepon lagi.”

.

“Soomin bilang aku beruntung”.

.

“Karena?”

.

“Karena kau mau jadi pacar aku”, katanya sambil nyengir lebar.

.

“Jeongmal?

.

“Aniya?

.

“Molla…”

.

“Aku sependapat dengan Soomin. Tidak ada yang salah darimu. Semua tepat. Paling tidak untukku semua tepat. Mungkin justru kau yang mendapatkan zonk karena menjadi pacarku”.

.

“Sepertinya begitu…”

.

“Hmm???”

.

Soohyuk melotot menatapku. Aku hanya tertawa kecil melihat wajahnya. Iapun ikut tertawa bersamaku. Berbicara dengan Soohyuk jauh lebih mudah dari siapapun. Ia berpikir sangat sederhana. Memang terlalu cepat menyimpulkan bagaimana sosoknya. Tapi dari caranya mencoba memahamiku dan membuat segala hal mudah untuk dimengerti, aku bisa menarik kesimpulan itu. Bersama Soohyuk semua hal terasa begitu mudah dan sederhana.

.

“Emm… tadi waktu menjemputmu di rumah aku sempat berpapasan dengan Changjo. Dia sempat mengerutkan dahinya saat melihatku.”

.

Aku tersenyum lalu memasukkan sepotong cheese cake ke mulutku. Ia menatapku dengan wajah menunggu tanggapanku pada pertemuan perdana nya dengan Changjo.

.

“Apa yang Changjo katakan?” tanyaku.

.

“Dia hanya mengatakan ‘Nara nura sedang bersiap – siap’, lalu pergi.”

.

Cold brother, huh?

.

“Sedikit. Sikap Woohyuk juga seperti itu. Aku bisa mengerti.”

.

“Tidak usah dipikirkan. Changjo memang seperti itu kalau mood nya sedang jelek”.

.

“Seberapa dekat kau dengannya?”

.

“Banyak yang menyebut aku dan Changjo anak kembar.”

.

“Kalian memang sangat mirip. Seperti kembar.”

.

“Tentu. Aku kan kakaknya”, kataku.

.

“Jadi, sangat dekat?”

.

“Begitulah. Ada benarnya yang orang – orang katakan. Aku dan Changjo memang seperti anak kembar. Kami sangat dekat. Kadang dia menjadi adik yang sangat menjagaku. Tapi kadang Changjo juga membutuhkanku sebagai kakak tempatnya berlindung.”

.

That’s a must between siblings. I do that too sometimes”.

.

Soohyuk bercerita tentang hubungannya dengan kedua saudaranya. Woohyuk dan Soomin. Walaupun mereka bertiga tinggal berjauhan. Tapi sampai saat ini mereka masih menjalin komunikasi dan hubungan yang sangat baik. Mereka memutuskan untuk tidak menghamiki kedua orang tua mereka saat kedua nya memutuskan berpisah. Mereka memilih untuk meneruskan hidup mereka, melihat kedepan dan meninggalkan segala kesedihan mereka jauh di belakang. Soohyuk memuji kemampuan anak perempuan dalam setiap keluarga. Ia selalu terkejut dengan sikap Soomin yang terkadang bisa bersikap seperti kakak bagi kedua kakaknya. Begitu pula dengan sikapku dalam menghadapi Changjo.

.

.

.

Keesokkan Harinya

.

Kami sudah mendatangi kurang lebih 3 mall dan 7 toko olahraga. Tapi Kyuhyun belum juga menemukan sepatu yang ia inginkan. Rasanya kaki ku seperti dibebani dua buah logam dengan berat 5 kilo masing – masing di kanan dan kiri. Aku merutuki diriku sendiri karena sudah mengiyakan permintaan menemaninya mencari sepasang sepatu basket. Inilah hal yang tidak aku mengerti dari Kyuhyun. Aku pernah menghitung jumlah sepatu di lemari penyimpanannya. Jumlahnya lebih dari 20 pasang sepatu basket. Sepatu – sepatu itu masih sangat cukup untuk digunakan sampai 5 bulan kedepan (Kyuhyun bermain basket setidaknya seminggu sekali). Bahkan belum ada satupun sepatu yang rusak. Menurutku kegiatan membeli sepatu ini benar – benar membuang waktu dan uang.

.

“Aish… kemana lagi kita harus mencarinya? Sudah tujuh toko sold out semua”, keluhnya.

.

“Sepatu itu tidak dijual online, kah?”

.

“Choi Nara… Membeli sepatu itu lebih baik datang ke toko nya langsung. Bisa dicoba. Jadi tidak kebesaran atau kekecilan”.

.

“Ya sudah cari saja di internet toko mana yang masih ready.

.

“Di mall ini sepertinya masih ada dua toko lagi diatas. Ayo!” kata Kyuhyun sambil berlalu. “Gamsahabnida…”.

.

“Gamsahabnida…” kataku lesu pada seorang SPG yang disapa Kyuhyun tadi.

.

Sampailah kami di toko sport di lantai 3 mall ini. Kyuhyun masuk kesana dengan terburu – buru. Sementara aku berjalan santai – atau mungkin lebih tepat disebut lambat – di belakangnya. Aku tidak suka ritual Kyuhyun yang satu ini. Ya… mungkin lebih tepatnya aku harus mengatakan aku tidak suka ritual belanja. Aku bukan penggila belanja seperti kebanyakan teman – temanku. Jika memang sudah saatnya aku berbelanja, aku akan menuju tempat yang sering ku datangi, atau butik – butik milik bibiku dan teman – teman eomma. Aku bahkan tidak begitu memperhatikan brand apa yang cocok dan bagus untukku. Semua sama saja. Asal nyaman. Brand apapun akan sama saja.

.

“Ada?” tanyaku saat aku bisa menjangkau Kyuhyun.

.

“Ada. Sedang diambilkan. Kau lelah?” tanya nya akhirnya saat melihat wajah lesu ku.

.

Aku hanya mengangguk pelan padanya. For God’s sake, akhrinya Kyuhyun menanyakannya padaku. Sejak awal kami tiba di toko pertama di mall… mall… sebelum ini, ia dengan teganya hanya mengatakan ‘ayo cepat, Nara-ya’, ‘Kau jalan lama sekali sih’, atau ‘tidak ada disini, ayo ke toko lain diatas’. Di mall pertama aku masih berjalan dengan jarak maksimal 1 meter darinya. Tapi di mall kedua dan ketiga, bahkan saat Kyuhyun sudah sampai di lantai berikutnya, aku baru saja naik escalator. Aku benar – benar ingin mengakhiri kegiatan ini dan kembali ke rumah. Aku tidak akan menemani Kyuhyun lagi lain kali. Kalau kau bisa menolaknya, Choi Nara, kata suara hatiku.

.

“Ini terakhir. Kau mau makan dulu? Atau beli sesuatu?”

.

Belum sempat aku menjawab Kyuhyun, ponsel ku bergetar. Aku merogoh tasku untuk meraihnya. Saat ku keluarkan, aku sedikit membelalakkan mataku menatap layar.

 

.

 

 

.

Soohyuk calling…

.

.

“Aku keluar sebentar, Kyuhyun-ah. Ada telepon.”

.

“Tidak bisa disini saja mengangkatnya?” Tanya Kyuhyun.

.

Nope. Give me 5.

.

Aku berjalan keluar toko untuk mengangkat telepon dari Soohyuk. Aku tidak memperkirakan ini sama sekali. Soohyuk bilang ia akan sibuk seharian membantu ibunya menyiapkan acara yang akan diadakan di rumah mereka. Aku tidak tahu kalau Soohyuk masih bisa menelpon ku ditengah persiapan itu. Aku menarik napasku dalam – dalam sebelum menekan tombol hijau di handphone ku.

.

“Yoboseyo?”

 

.

“Nara-ya, kau sedang apa? Kenapa lama mengangkatnya?”

.

“Emm… maaf ya. Tadi aku sedang di kamar mandi. Ada apa?”

 

.

“Tidak ada apa – apa. Setelah bertemu denganmu kemarin aku jadi rindu dengan suaramu”, ia tertawa. “Aku sangat cheesy, kan? Tapi sungguh. Aku serius…”

.

“Geurae? Jadi, hanya pada suaraku saja?”

 

.

“Maldo andwae. Neomu bogoshipeo. But you know I can’t. I wish I can go to you”.

.

Don’t. Kau harus membantu ibumu. Kasihan kalau ditinggalkan.”

 

.

“Eo… arasseo. Geunde, kenapa disana sangat ramai? Kau jadi pergi kemana hari ini?”

.

Aku mengernyitkan keningku. Apa yang harus aku katakan pada Soohyuk? Aku sedang menemani Kyuhyun membeli sepatu? Aku rasa walaupun itu jawaban terakhir yang harus aku katakan, aku tidak akan pernah mengatakannya pada Soohyuk. Karena seharusnya jika itu yang akan aku katakan, aku harus melakukannya kemarin saat kami bertemu.

.

“Aku sedang berada di Lotte World”, kataku berbohong.

 

.

“Dengan siapa? Changjo? Teman?”

.

“Teman. Changjo masih dalam keadaan tidak mood nya.”

.

 

“Teman sekolah?”

 

.

I’m sorry, Soohyuk. It’s Kyuhyun. “Iya. Teman sekolah.”

 

.

“Oh begitu… ya sudah. Have fun ya, sayang. Jangan pulang terlalu malam”

.

“Iya”, kataku pelan. “Emm… Soohyuk?”

 

.

“Ya?”

.

“Mianhae…”

 

.

“Maaf untuk? Kau tidak bisa kesini? Gwaenchanha. Aku juga yang salah baru mengatakannya padamu tadi pagi. Kau sudah terlanjur punya janji. Sudah dulu ya, sayang. Aku dipanggil eomma”.

.

“Eo… Sampaikan salamku padanya”.

 

.

“Okay. Bye.”

.

Aku menghela napas panjang. Aku terpaksa berbohong pada Soohyuk. Aku belum cukup punya keberanian untuk menjelaskan pada Soohyuk detil kedekatanku dengan Kyuhyun. Aku bahkan belum tahu bagaimana hubungan Soohyuk dan Kyuhyun dulu. Ada kemungkinan mereka tidak begitu dekat. Karena saat aku ikut Kyuhyun main basket di Taman Menteng minggu lalu, Soohyuk tidak ikut dalam permainan itu. Tapi aku bertemu dengan Soohyuk di hari yang sama disana. Masih ada kemungkinan juga mereka berteman baik namun Soohyuk tidak bermain basket. Aku belum tahu.

.

“Soohyuk? Lee Soohyuk?”

.

Pertanyaan Kyuhyun mengagetkanku. Aku berbalik. Aku tidak tahu sejak tadi Kyuhyun ada dibelakangku. Sejauh mana Kyuhyun mendengarnya? Satu hal yang bisa aku pastikan, suasana hati Kyuhyun berubah. Ia seharusnya ceria karena sepatu yang ia cari sudah ditemukan. Namun air mukanya mengatakan hal lain. Ia mengatupkan rahangnya kuat. Entah karena Soohyuk atau karena aku berbohong di telepon tadi.

.

“Eo…” Jawabku singkat tanpa menatap matanya.

.

“Bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanya Kyuhyun.

.

Suaranya terdengar sangat berat saat mengucapkan pertanyaan itu. Ia menatapku tajam menunggu jawabanku. Akhirnya aku mencoba menatapnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tatapannya membuat kakiku tiba – tiba lemas. Tatapannya begitu mengintimidasi.

.

“Jangan katakan kau berhubungan dengannya…” kata Kyuhyun lagi.

.

Benar. Kyuhyun benar. Seharusnya hal ini tidak begitu sulit untuk diucapkan. Kyuhyun sudah menebaknya. Aku hanya perlu mengatakan ‘iya’ padanya. Tapi aku bahkan tidak bisa menggerakkan bibirku. Aku tidak pernah melihat sisi Kyuhyun yang ada dihadapanku saat ini. Ia terlihat tenang, tapi juga marah. Ucapannya menjelaskan keraguan, tapi matanya seolah memohon untuk mendengar ini semua adalah lelucon baru dariku yang nantinya akan ia tertawakan karena sangat tidak lucu untuknya. Tapi kebungkamanku seolah menjelaskan jawabanku dengan jelas. Kyuhyun benar. Tidak ada lagi yang bisa ditutupi.

.

“Nara-ya?” sebuah suara mmemanggilku, memecah keheningan diantara aku dan Kyuhyun.

.

Jung Eunji.

.

Aku benar – benar tidak suka situasi ini. Rasanya pikiran dan perasaan ku sedang diaduk – aduk menggunakan spatula karatan yang sangat besar. Spatula itu seolah berputar lebih cepat saat aku melihat seseorang yang berjalan tidak jauh dibelakang Eunji. Myungsoo. Aku menangkap reaksi aneh yang muncul darinya.

.

“Hai. Kalian juga kesini?” tanyaku basa – basi.

.

Kyuhyun memalingkan wajahnya mengendurkan saraf – saraf wajahnya yang seolah menegang beberapa menit lalu. Aku lebih tidak menyukai suasana ini saat melihat wajah Myungsoo yang sama tegangnya saat melihat Kyuhyun berdiri begitu dekat denganku. Wajahnya seolah menunjukkan sebuah pertanyaan besarnya untukku. Siapa Kyuhyun?

.

“Aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini dengan…..?” pertanyaan Eunji menggantung. Matanya melirik ke arah Kyuhyun.

.

“Kyuhyun”, kataku cepat. “Kyu, ini Eunji… dan Myungsoo. Teman sekolah.”

.

“Hai”, sapa Kyuhyun dengan senyum tipisnya.

.

Myungsoo tidak mengatakan apapun. Ia mengangguk pelan menanggapi sapaan Kyuhyun lalu kembali menatapku.

.

“Hai. Sedang mencari apa disini? Hari ini sedang banyak sekali diskon…” kata Eunji ringan.

.

“Emm… Kyuhyun mencari sepatu.”

.

“Begitu… kau tidak membeli apapun?” Tanya Eunji padaku

.

“Tidak. Hari ini aku hanya mengantar Kyuhyun.”

.

“Hmm… aku baru tahu sisi Nara yang ini. Manisnya mengantar pacar shopping.”

.

Myungsoo mendengus kesal memalingkan wajah. Sementara Kyuhyun justru ganti menatapnya tajam. Baiklah, bisakah aku menyerah hari ini? Aku bahkan belum sempat menjelaskan tetang Soohyuk. Dan sekarang aku juga harus menjelaskan tentang Myungsoo dan sikapnya yang tidak kalah dinginnya dengan ‘bocah merajuk’ disebelahku ini.

.

“Kok aku lihat – lihat Kyuhyun pucat ya?” tanya Eunji.

.

Aku langsung memperhatikan wajah Kyuhyun. Khawatir. Kyuhyun membelalakkan matanya karena tatapan tiba – tiba ku. Tapi Kyuhyun kembali memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah lain. Ia menatap Myungsoo yang menatapku terkejut dengan perubahan reaksiku. Aku yang menyadari suasana yang begitu buruk itu langsung tersenyum tipis pada Eunji. Aku harus mengakhiri ini secepatnya.

.

“Sepertinya Kyuhyun lapar. Sejak pagi dia belum makan. Kalau begitu aku duluan ya. Annyeong

.

“Eo… Geurae… Selamat makan, Kyuhyun. Sampai bertemu hari senin, Nara-ya. Jalga…”

.

Aku menarik tangan Kyuhyun menjauh dari Eunji dan Myungsoo. Sesekali aku menoleh ke arah mereka, mendapati Eunji yang melambaikan tangannya dengan senyum lebar di wajahnya. Kemudian aku menyadari satu hal bodoh yang sudah aku lakukan. Aku tidak menanggapi ucapan Eunji yang mengatakan Kyuhyun adalah pacarku. Eunji dan Myungsoo pasti mengira aku dan Kyuhyun memang berpacaran. Ya walaupun aku memang sudah mempunyai pacar (Soohyuk, yang saat ini sedang dipertanyakan Kyuhyun), tapi dugaan mereka akan hubunganku dan Kyuhyun seolah terjawab dengan sikap diam-menerima ku barusan. Walaupun faktanya apapun hubunganku dengan Kyuhyun, tidak akan ada pengaruh besar untuk mereka.

.

Setelah makan di McDonald’s kami langsung kembali ke rumah. Untunglah Kyuhyun sudah kembali seperti semula. Wajahnya tidak lagi tegang dan senyumnya kembali. Ia kembali bereuphoria atas keberhasilannya mendapatkan sepatu yang ia cari sejak pagi. Hal itu terlihat dari caranya menghentakan jarinya di kemudi mobil mengikuti irama lagu yang dimainkan. Ia juga mengangguk – anggukkan kepalanya menikmati musik yang memenuhi seisi mobil ini. Tapi cerianya suasana hati Kyuhyun dan bagusnya lagu yang dimainkan tidak bisa mengalihkan pikiranku pada perkataan Kyuhyun saat di McDonald’s tadi.

.

Aku dengan Lee Soohyuk bukan teman baik, Nara-ya. Hubunganku dengannya tidak sebaik yang mungkin kau pikirkan’.

.

Seharusnya kata – kata itu sudah bisa menjelaskan bagaimana keadaan diantara Kyuhyun dan Soohyuk saat ini. Ada suatu hal yang mendasari semua itu. Kyuhyun dan Soohyuk tidak mungkin memiliki hubungan yang buruk tanpa alasan. Setidaknya yang aku tahu anak laki – laki akan menyelesaikan masalah langsung di muka. Mereka tidak akan menyimpan masalah untuk waktu yang lama. Tapi aku tidak tahu apa itu. Kyuhyun bahkan tidak ingin menceritakannya padaku. Begitupun Soohyuk.

.

.

.

September, 2008

.

Hari-hari kami berjalan seperti biasanya. Kyuhyun tidak pernah lagi membahas tentang hubunganku dengan Soohyuk. Kami memutuskan untuk menjalani semua hal yang sudah kami mulai dan membiarkan takdir mengatur semua hal. Hari ini aku dan Soohyuk mengunjungi sebuah restoran Italia di daerah Gangnam. Kami merayakan tepat 1 bulan hari jadi kami. Jujur saja, aku bukan tipe orang yang terlalu memperhatikan perayaan hari jadi dan sebaginya. Soohyuk yang mengajakku merayakannya. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya.

.

“Eotte? Makanannya enak?” tanya Soohyuk.

.

“Eo… sangat enak. Gomawo karena sudah mengajakku kesini”

.
“Kau tidak perlu berterimakash padaku Nara-ya… Aku ini kan pacarmu, tentu aku harus mengajakmu ke tempat-tempat yang sering ku datangi. Nan neol saranghanikka…”

.

Soohyuk mengatakan kalimat itu sambil menatapku intens. Tatapannya lembut namun tegas dan menunjukkan kesungguhan. Sejujurnya ada hal lain yang ku tangkap dari tatapannya. Aku tidak yakin dengan dugaanku, tapi tatapannya seolah menunjukkan kekhawatiran, keposesifan, dan yang beberapa hari terakhir ku takutkan….. obsesi. Ada sesuatu dalam tatapannya yang mengintimidasiku. Seolah ia memindai tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kuku kakiku. Tatapan itu bukan proteksi, tapi posesif. Sebagian sisi feminim-ku bersukaria karena sikap itu, karena sikapnya menunjukkan kesungguhan perasaannya padaku. Tapi sisi lainku justru merasa takut dan membutuhkan pertolongan untuk keluar dari genggamannya. Tiba-tiba ada rasa takut menjalar ke seluruh sel ditubuhku yang merasakan cengkramannya padaku.

.

“Bicara tentang itu…..” katanya lagi. “Kita sudah satu bulan berpacaran, tapi aku belum pernah sekalipun mendengar kau mengatakan cinta padaku…”

.

“Nan…… niga joha…” kataku pelan.

.

“Hanya itu? Kau menyukaiku? Tapi tadi aku mengatakan aku mencintaimu, Nara-ya…”

.

“Semua hal butuh proses, Soohyuk-ah. Begitupun denganku. Ingatkah kau kalau kita baru saling mengenal dua bulan yang lalu. Kita juga baru berpacaran selama sebulan. Aku butuh waktu untuk menuju tahap selanjutnya secara perlahan. Bukankah memang sebaiknya begitu?”

.

“Tapi aku bisa mencintaimu dengan mudah, Nara-ya… karena aku bersungguh-sungguh padamu”.

.

“Kau pikir aku tidak bersungguh-sungguh menjalin hubungan ini denganmu?” tanyaku.

.

“Bukan itu maksudku, tapi…..”

.

Ponsel ku bergetar. Ini sudah yang kelima kalinya. Sejak tadi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya untuk menghormati Soohyuk. Aku berusaha untuk meluangkan waktuku dengannya. Tapi getar kelima ini membuatku ragu untuk tidak menghiraukannya lagi.

.

“Sebentar. Ada telepon”, kataku akhirnya pada Soohyuk.

.

“Bisakah kau tidak mengangkatnya dulu? Kita sedang bicara, Choi Nara…” kata Soohyuk lembut namun tetap dengan nada tegasnya.

.

“Ini sudah getar kelima. Aku khawatir ini penting”.

.

“Arasseo…” katanya menyerah.

.

Aku mengeluarkan ponselku dari dalam clutch ku. Getar telepon sudah mati. Namun aku tetap membuka lock layarku untuk memeriksa siapa orang yang dengan rutinnya menghubungi ku disaat seperti ini.

.

.

6 missed calls: CHO KYUHYUN

.

.

Kyuhyun mengejutkanku lagi. Kali ini dengan 6 panggilan tidak terjawabnya. Ini bukan Cho Kyuhyun yang ku kenal. Ia tidak pernah sesabar ini terus-menerus meneleponku sampai mendapatkan jawabanku. Apalagi kali ini? Apa ada hubungannya dengan Lee Soohyuk? Tapi Kyuhyun bahkan tidak tahu aku sedang bersama Soohyuk. Akupun memutuskan untuk meneleponnya untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku.

.

Ya! Choi Nara!” kata Kyuhyun tepat setelah dering pertama.

.

“Eo… ada apa meneleponku?”

.

Kau dimana?

.

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku…” kataku pada Kyuhyun.

.

Ediganyago? (aku tanya kau ada dimana?)” tanya Kyuhyun memaksa.

.

“Gangnam. Wae? Kenapa meneleponku?”

.

Gangnam? Apa yang kau lakukan disana? Ini sudah jam berapa Choi Nara? Abeoji mencari-mu, katanya kau harus pulang dalam 30 menit!

.

“Uri… appa? (ayah…ku?)” tanyaku heran.

.

Geureom… untuk apa appa-ku mencarimu? Tentu saja appa-mu. Cepat kembali, kalau tidak akan ku lacak kau dengan GPS dan aku akan menyeretmu pulang dengan tanganku sendiri”, kata Kyuhyun sambil menutup teleponnya.

.

Aku mengerutkan keningku. Appa memintaku pulang melalui Kyuhyun. Kenapa appa tidak meneleponku secara langsung? Apakah appa terlalu marah untuk meneleponku sendiri sehingga ia meminta Kyuhyun untuk menghubungiku? Ah… molla. Cho Kyuhyun jinjja…

.

“Siapa yang menelepon?” tanya Soohyuk yang sejak tadi memperhatikanku.

.

“Eo? Emm….. Changjo”, jawabku berbohong. “Katanya appa memintaku pulang dalam 30 menit. Aku rasa aku harus segera pulang. Nada bicaranya sangat serius…” menyebalkan lebih tepatnya, sambungku dalam hati.

.

“Baiklah. Kita bicara lagi besok”, kata Soohyuk dingin.

.

Benar. Kami ditengah pembicaraan tentang ‘cinta’ itu. Aku rasa aku bisa gila. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kedua remaja laki-laki disekitarku ini. Keduanya memiliki tingkat emosi yang benar-benar tidak bisa ku tebak.

.

Soohyuk pun segera mengantarku pulang. Aku memintanya untuk tidak perlu mampir ke rumah karena aku ragu dengan keadaan mood di dalam rumah. Aku tidak ingin mood Soohyuk yang sudah jelek semakin menjadi setelah bertemu dengan appa yang saat ini dalam mood yang sama. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah perlahan. Namun sesampainya di ruang keluarga, aku justru menemukan pemandangan yang jauh dari dugaanku. Appa, eomma, dan Changjo sedang menonton TV bersama. Appa bahkan sedang menyesap teh nya santai dengan ekspresi yang sama santainya.

.

“Aku pulang…” kataku akhirnya.

.
“Eo… kau sudang pulang?” tanya eomma sambil tersenyum padaku.

.

“Aku pikir kau akan pulang sedikit larut…” sambung appa.

.

“Ne? Tapi….. bukankah appa yang menyuruhku pulang secepatnya?” tanyaku ragu.

.

“Aku? Kapan aku mengatakan itu?”

.

“Ani, tadi Kyuhyun meneleponku katanya ap…….” Cho Kyuhyun. Ini semua rencana nya. Ia tidak benar-benar diminta oleh appa untuk menghubungiku. Bocah itu…

.

“Ada apa, Nara-ya?” tanya eomma.

.

“Hahahaha… sekarang aku paham…” kata appa sambil tertawa. “Kyuhyun yang memintanya pulang, yeobo… anak itu cham….. Tadi Kyuhyun datang kesini, ia menanyakan apakah kau ada dirumah atau tidak. Kyuhyun bilang ada sebuah barang yang harus ia ambil darimu. Katanya kau menyembunyikannya dan ia sangat membutuhkan barang itu. Appa suruh saja meneleponmu menggunakan nama appa untuk menanyakan dimana barang itu. Tapi setahu appa, Changjo sudah memberitahunya. Appa tidak tahu kalau Kyuhyun tetap meneleponmu. Anak itu benar-benar….. hahahaha”

.

Aku menghela napas panjang mendengar penjelasan appa. Cho Kyuhyun. Aku sudah tidak lagi menemukan kata-kata apapun untuk menjelaskan bagaimana rasa kesalku padanya. Pikiranku sudah menduga terlalu jauh. Aku benar-benar tidak bisa mengerti Cho Kyuhyun lagi. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas diotakku. Mungkinkah Kyuhyun melakukan itu karena ia tahu aku sedang pergi bersama Lee Soohyuk? Tapi apa alasannya?

.

.

.

Maret, 2009

.

Perayaan yang lain. Kali ini perayaan hari jadi kami yang ke 200. Hari jadi kami memang sudah menginjak hari ke 200, tapi bagiku, tidak ada perubahan yang signifikan diantara kami. Soohyuk justru semakin menunjukkan keposesifannya padaku. Setelah hari itu, ia selalu mengantar-jemputku ke sekolah, dalam satu hari Soohyuk meneleponku minimal 5 kali, ia juga selalu berusaha meluangkan waktunya lebih banyak denganku. Beberapa gadis remaja lain mungkin merasa senang mendapatkan perhatian seperti ini dari kekasih mereka. Tapi entah mengapa aku justru merasa sesak diperlakukan seperti ini oleh Soohyuk. Beberapa bulan terakhir aku bahkan sangat jarang bertemu dengan Kyuhyun. Terakhir kali ku ingat, aku hanya bertemu Kyuhyun setidaknya seminggu sekali atau dua kali.

.

Kembali pada tuan Lee Soohyuk. Ia mengajakku ke Namsan Tower kali ini. Ia membawa sebuah gembok berwarna olive green dan sebuah spidol. Tentu saja aku tahu apa yang ingin ia lakukan. Ia ingin menuliskan nama kami di gembok itu lalu memasangnya disalah satu pagar yang saat ini sudah terpasang begitu banyak gembok. Ada yang berbeda dari Soohyuk hari ini. Ia begitu sumringah, senyumnya lebih mengembang dari biasanya, wajahnya bahkan sesekali tersipu saat menatapku. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku dan mengajakku mendekat ke pagar. Ia mengeluarkan sebuah spidol dan memberikannya padaku.

.

“Apa yang ingin kau tulis?” tanya Soohyuk.

.

“Apa yang harus aku tulis?” aku kembali bertanya padanya.

.

“Apapun. Tentu saja harus ada nama kita disana…” katanya dengan senyuman mengembangnya.

.

.

.

Dddrrrtttt…. dddrrrrrrrtttt….

.

.

.

Ponselku bergetar. Aku secara reflex mengeluarkan ponselku dari tas dan melihat nama orang yang mengubungiku. Cho Kyuhyun. Sungguh waktu yang sangat tepat Cho Kyuhyun… kataku sinis dalam hati. Terakhir kali ia melakukan ini kira-kira 5 atau 6 bulan yang lalu, hanya untuk meminta barangnya kembali. Apalagi kali ini? Haruskah aku mengangkatnya? Otakku memintaku mematikan ponselku, tapi ada sesuatu dalam diriku yang justru tiba-tiba merasa cemas dengan panggilan telepon ini. Akupun tersenyum pada Soohyuk, berbisik padanya untuk menunggu sebentar karena (akhirnya) aku memutuskan untuk mengangkat telepon itu.

.

“Wae?” tanyaku langsung pada intinya.

.

Kau sedang ada dimana, Nara-ya?” tanya Kyuhyun dengan suara serak. Seperti nya Kyuhyun baru bangun tidur.

.

“Aku sedang di Namsan Tower. Ada apa meneleponku?” tanyaku lagi.

.

Apakah kau masih la…..

.

“Kyuhyun-ah, bisakah kau meneleponku lagi nanti? Aku memiliki beberapa hal yang harus ku urus…”

.

Eo… uhuk… uhuk… arasseo….. telepon aku… uhuk… saat kau sampai di… uhuk….. rumah…” kata Kyuhyun.

.

“Kyuhyun-ah, kau sakit?” tanyaku berbisik agar tidak terdengar oleh Soohyuk.

.

Eo… sepertinya begi… uhuk….. tu…”

.

“Apakah eomeoni dan abeoji belum kembali? Ahra eonni-neun?”

.

Mereka kembali besok lusa…” jawab Kyuhyun lemah. “Geurae Nara-ya… uhuk uhuk… lanjutkan apa yang… uhuk… sedang kau… uhuk uhuk… lakukan… Hubungi aku nan…..”

.

“Aniya… aku akan pulang sekarang. Tunggu aku”, kataku cepat memotong ucapan Kyuhyun.

.

Akupun menghampiri Soohyuk setelah mematikan sambungan telepon dengan Kyuhyun. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku katakan padanya. Tapi sayangnya otakku tidak bisa digunakan untuk berpikir saat ini. Diotakku hanya terdapat potongan-potongan suara Kyuhyun yang serak dan lemah saat di telepon barusan. Aku tidak bisa berpikir lagi.

.

“Soohyuk-ah, aku harus pulang”, kataku.

.

“Mwo? Wae? Apakah ada sesuatu dirumah?” tanya Soohyuk sambil mengerutkan keningnya.

.

“Eo… karena itu aku harus pulang…”

.

“Mwonde? Apa yang terjadi?” tanya Soohyuk lagi.

.

Aku tetap tidak menemukan alasan lain untuk ku katakan pada Soohyuk. Kekhawatiranku pada keadaan Kyuhyun menghambat sel-sel diotakku untuk bekerja. Jika seperti ini terus, maka aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membiarkan Kyuhyun menunggu terlalu lama.

.

“Kyuhyun sakit. Tidak ada siapapun dirumahnya. Aku ha…”

.

“Mwo??? Cho Kyuhyun? Apa kau tidak salah bicara?” tanya Soohyuk dengan raut wajahnya yang kini berubah merah karena amarah.

.

“Tidak. Aku tidak salah bicara. Kyuhyun sakit. Aku harus pulang sekarang. Kau tidak perlu mengantarku jika tidak ingin…” kataku sambil berlalu meninggalkan Soohyuk.

.

“Choi Nara, tunggu!!!”

.

Soohyuk mengejarku yang sudah berlari menuju kereta gantung. Aku berhasil menaiki kereta yang hampir tertutup dan meninggalkan Soohyuk yang menatapku dengan raut marahnya. Aku melihat dari kereta gantung ku yang sudah menjauh Soohyuk menaiki kereta berikutnya yang baru saja tiba di tempatnya. Tanpa berpikir panjang aku segera keluar dari kereta gantung yang sudah tiba. Aku berlari menuju pintu keluar lokasi wisata Namsan Tower, berharap ada taksi yang segera bisa aku berhentikan. Tapi tiba-tiba tanganku diraih oleh seseorang.

.

“Aku bilang tunggu, Choi Nara!!!” kata Soohyuk dengan suara geramnya.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu, aku harus segera pulang, Lee Soohyuk”.

.

“Tidak tanpa seijinku… kau pikir aku apa? Batu? Bagaimana bisa kau pergi begitu saja hanya demi seorang Cho Kyuhyun?”

.

“Kyuhyun sedang sakit, Soohyuk-ah. Dan tidak ada siapapun dirumahnya yang bisa merawatnya. Tidakkah kau bisa mengerti itu?”

.

“Tidak. Kyuhyun bukan anak-anak. Ia sudah beranjak dewasa. Ia bisa merawat dirinya sendiri. Kau tidak akan pergi kemanapun tanpa ijin dariku!”

.

Aku mendengus kesal mendengar ucapannya. Akupun mengeluarkan ponselku dari tas dengan tanganku yang tidak digenggam oleh Soohyuk. Aku menekan lama tombol 4 di ponselku.

.

“Changjo-ya, kau dirumah? Bagus. Segera ke rumah Kyuhyun, periksa kondisinya. Dia sakit. Lakukan apapun yang kau tahu, aku akan segera pulang”, kataku cepat memberikan instruksi pada Changjo.

.

Soohyuk membelalakkan matanya padaku. Tanpa menunggu jawaban Changjo, aku segera mematikan sambungan teleponnya. Aku kembali menatap Soohyuk kemudian meronta berusaha melepaskan genggaman tangannya. Melihat tanganku yang mulai kemerahan, Soohyuk pun melepaskan tanganku.

.

“Maafkan aku, aku harus pulang sekarang…”

.

“Tidak, Choi Nara! Aku bilang tidak! Bisakah kau mendengar perkataanku sekali saja?”

.

“Kau bilang sekali? Aku selalu mendengarkan mu Lee Soohyuk. Jadi sekarang tolong dengarkan keinginanku. Butakhanda… aku harus pulang sekarang…”

.

“Jadi kau lagi-lagi lebih memilih Kyuhyun daripada aku?” tanya Soohyuk.

.

“Apa yang kau katakan?” tanyaku padanya.

.

“Kau pikir aku tidak mengetahui nya? Hari itu, saat perayaan satu bulan hari jadi kita, kau menerima telepon, kau bilang Changjo menyampaikan pesan ayahmu untuk segera pulang, kau pikir aku tidak tahu siapa yang sebenarnya meneleponmu? Dan….. saat kita baru berpacaran selama satu bulan, kau pergi ke Lotte World, kau bilang kau pergi dengan teman-temanmu, kau pikir aku tidak tahu sebenarnya kau pergi dengan siapa? Lalu dikesempatan yang lain, saat aku mengajakmu pergi ke banyak tempat tapi kau menolakku, kau pikir aku juga tidak tahu alasanmu menolakku? Cho Kyuhyun! Selalu Cho Kyuhyun! Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, Choi Nara? Aku kekasihmu! Bukan Cho Kyuhyun! Sekarang aku tanya padamu, ini yang pertama dan terakhir kalinya, kau pilih aku, atau Cho Kyuhyun brengsek itu?”

.

“Lee Soohyuk!”

.

“Mwo? Aniya? Apakah bukan brengsek namanya jika seseorang selalu berusaha merebut kekasih orang lain? Aniya? Jawab aku!”

.

“Hentikan, Lee Soohyuk!”

.

“Jawab aku….. kau pilih aku, atau Cho Kyuhyun?”

.

“Jangan mengujiku, Soohyuk-ah…”

.

“Geunyang daedabhae!!! (Jawab saja!!!)”

.

“Kau benar-benar ingin mendengar jawabanku? Sungguh? Cho Kyuhyun! Aku memilih Cho Kyuhyun! Sampai kapanpun aku akan memilihnya. ‘Cause it’s only him. It will always be him, Lee Soohyuk…” kataku sambil berbalik untuk meninggalkannya.

.

Tapi Soohyuk kembali meraih tanganku. “Mwo? Bagaimana kau melakukan itu padaku, Choi Nara? Kau bilang kau menyukaiku dan membutuhkan waktu untuk mencintaiku. Kau juga membohongiku tentang hal itu?”

.

“Aku berusaha, Lee Soohyuk. Aku berusaha….. Tapi semua hal yang kau lakukan padaku membuatku menyerah. Aku tidak bisa. Aku lelah denganmu, Lee Soohyuk. Aku hanya mencoba bertahan… menunggu… dan berharap suatu saat nanti kau akan berubah. Tapi lihatlah, kau memintaku memilih. Aku sudah mengatakan pilihanku sekarang. Jadi, tolong, lepaskan aku…”

.

“Jadi kau benar-benar meninggalkan aku demi si brengsek itu???”

.

“Hentikan! Ku bilang hentikan! Kau tidak berhak menyebutnya begitu! Kau ingin tahu sebutan brengsek lebih pantas diberikan pada siapa? Sebutan itu lebih pantas diberikan pada seorang laki-laki yang selalu mengatakan cinta pada kekasihnya, bersikap posesif, mengekang, dan selalu menahan kekasihnya, tapi ternyata berhubungan dengan perempuan lain di tempat yang tidak diketahui oleh kekasihnya!” kataku dengan nada membentakku.

.

“Jangan kau pikir aku tidak mengetahuinya, Lee Soohyuk. Kau… dengan Goo Hara…” kataku lagi. “Kau tahu betul aku membencinya… Salahkan aku atas rasa sakitmu sebanyak yang kau mau… tapi aku harap kau menyadari perbuatanmu sendiri. Dan, setidaknya kau mengetahui alasanku yang lain untuk memilih Kyuhyun…”

.

.

.

TBC

.

.

Note:

Hubungan Nara dan Soohyuk berakhir tepat di hari jadi mereka yang ke 200. Dan Nara dengan tegas memilih Kyuhyun. Apa alasan Nara memilih Kyuhyun? Apakah Nara ternyata kembali jatuh cinta pada Kyuhyun? Apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Nara putus dari Soohyuk? Apakah Nara dan Kyuhyun memiliki perasaan cinta untuk satu sama lain? Atau justru diantara mereka hanya terikat sebatas persahabatan saja? Nantikan di part selanjutnya…..

Advertisements

27 thoughts on “The Possibility of Impossible Us Part 2

  1. Kupikir setelah putus dgn pcr nya yg lma kyuhyun bakal pcran sma nara kok mlah kyuhyun pcran sma cwek lain ini ff bkin bngung tp penasaran jga

    Like

  2. Baguslah mereka putus ngga setuju juga sama hubungan mereka ,,itu kyuhyun sakit beneran apa cuma pura2 biar nara cepet pulang ,,oh nara ternyata kamu tau penghianatan yang soohyuk lakukan

    Like

  3. omo ternyata soohyuk selingkuhi nara bagus deh nara tau sendiri dan memilih bersama kyuhyun tp benernya ada masalah apabsih soohyuk ma kyu

    Like

  4. nara tahu soohyuk selingkuh dari mana yak?
    soohyuk ternyata mengerikan kalo lagi marah
    tp soohyuk oppa super duper gantenggg

    Like

  5. Ini Lee Soohyuk yg dimaksud disini, aktor itu kah?, kalo iya cocok bnget sama karakter nya dsini…
    Kyu labil deh..
    Klo dia suka sama cewek lain, knapa dia msih aja gangguin Nara??
    Kerennnnn
    Peace…

    Like

  6. Hubungan soohyuj sama kyuhyun sebenernya tuh apa?? Teman? Musuh? Penasaran😣😣
    Nara sepeetinya kamu jatuh cinta sma kyuhyun untuk yang kedua kalinya atau kamu masih mencintai kyuhyun dari kecil sampe sekarang😣😣ceritanya keren suka banget😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s