The Possibility of Impossible Us Part 1

– The Possibility of Impossible Us Part 1 –

“Nara’s Memory: The Adaptation with the New You, New Us”

.

.

Author: Mina&Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:   Cho KyuhyunChoi Nara (OC)

Other Cast:
Jung Eunji, Kim Myungsoo, Choi Changjo, etc.

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah di ff ini adalah kisah nyata yang dikembangkan ke dunia per-fanfiction-an. This is a simple love story. Beberapa tokoh, karakter, latar tempat dibuat berbeda dengan kisah aslinya. FF ini akan dibuat dengan format yang sedikit berbeda. Jika FF sebelumnya dibuat dengan 3 sudut pandang (sudut pandang author, tokoh utama laki-laki, dan tokoh utama perempuan), FF ini dibuat lebih banyak dengan sudut pandang perempuan dan beberapa sudut pandang author. Jadi, akan lebih terasa seperti diary si tokoh utama perempuan. Well, FF ini basically adalah romance dengan rating PG-15, tapi mungkin akan ada 1 atau 2 part dengan NC didalamnya. Jadi, mohon para readers mematuhi peraturan yang berlaku. Dan sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

There is never an only friendship between boy and girl in this world…

.

.

.

.

-The Possibility of Impossible Us Part 1-

.

.

.

.

Nara’s POV

Aku menjalani hidupku dengan apa adanya. Aku tidak pernah meminta hal yang berlebihan. Memiliki hidup yang cukup dengan orang-orang baik disekitarku sudah membuatku merasakan kebahagiaan sederhana ku. Namun kehadiran satu orang dalam kisah hidupku memberikan berbagai emosi yang seringkali melumpuhkanku. Aku bahkan seringkali berharap ia tidak pernah ada. Namun disaat yang bersamaan, aku membutuhkannya. Tidak pernah ada hubungan (sekedar) pertemanan diantara laki-laki dan perempuan. Aku (pernah) tidak mempercayai itu. Aku berharap aku tidak mempercayai itu.

 

.

Januari, 2007

Aku baru kembali ke rumah jam 4 sore setelah berkelut dengan banyak tugas di perpustakaan. Pekerjaan re-konstruksi dirumah sebelah benar-benar menggangguku. Sudah 1 minggu lamanya mereka mengerjakan itu, tapi seperti nya aku masih harus bertahan 2 sampai 3 hari lagi. Rumah lama peninggalan keluarga Kang yang pindah ke Busan akan dihuni oleh sebuah keluarga yang pindah dari Incheon. Aku sempat melihat beberapa barang yang sudah mereka pindahkan. Jika aku tidak salah menebak, keluarga itu terdiri dari sepasang suami-istri yang tidak lagi muda, dengan dua anak, satu perempuan, dan laki-laki. Kemungkinan usia anak laki-lakinya sama sepertiku, karena tanpa sengaja aku melihat poster-poster yang dibawa masuk ke rumah itu. Poster yang sama dengan yang sering dibawa oleh teman-teman di kelasku. Keluarga ini tampak seperti keluarga dengan keadaan ekonomi yang mapan. Pemilihan design dan beberapa furniture untuk rumah itu terlihat minimalis namun elegan. Apakah keluarga ini akan mudah bersosialisasi dengan tetangga?

.

“O! Hyung!”

.

Adikku disebrang jalan yang juga baru kembali dari sekolah memanggil seseorang dengan sebutan hyung. Aku yang semula sedang memperhatikan proses re-konstruksi dari kejauhan pun menoleh di detik berikutnya. Seorang anak laki-laki dengan celana pendek, sweater abu-abu, bertubuh tinggi, berambut hitam ikal sangat tidak asing bagiku. Aku merasa seperti pernah melihatnya disuatu tempat. Wajahnya sangat familiar. Hanya saja, wajah itu kehilangan lemak-lemak bayi ditubuhnya. Aku membelalakkan mataku saat melihat seorang anak laki-laki menoleh pada Changjo. Tubuhnya menjulang tinggi dengan lekukan-lekukan dan otot yang tidak berlebihan. Cho Kyuhyun. Ia kembali.

.

“Kyuhyunie hyung!” pangil Changjo lagi.

.

“Eo… Changjo-ah. Lama tidak bertemu. Kau sudah besar sekarang”, katanya.

.

Changjo menyebrang jalan menghampiri Kyuhyun. Dari sudut mataku, aku menangkap sosok Kyuhyun yang terdiam di teras rumahnya melihat Changjo yang menghampirinya. Ia menampilkan senyum tipis khas nya sambil melambaikan tangan.

.

“Tentu saja, hyung. Aku kan tidak mau kalah darimu. Aku sangat merindukanmu, hyung”.

.

“Haha aku juga, Changjo-ya… sudah lama sekali ya…”

.

“O, nuna! Wasseo?” tegur Changjo padaku.

.

Cho Kyuhyun menoleh, menatapku dengan tatapan tajamnya. Ia menyipitkan matanya seolah memindaiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Detik berikutnya ia tersenyum lebih lebar.

.

“Itu….. benar Nara, Changjo-ya?” tanya Kyuhyun.

.

“Eo… benar hyung. Waeyo?”

.

“Aniya… anida…” jawabnya masih dengan tatapan terpaku padaku.

.

Aku datang menghampiri mereka. Aku melangkah dengan sangat ragu-ragu. Sudah 5 tahun lamanya kami tidak bertemu. Atmosfer diantara kami sudah sangat berubah. Rasa canggung tentu saja tidak bisa ku tutupi. Bahkan beberapa menit yang lalu aku sudah merasakannya di kejauhan.

.

“Cho Kyuhyun…” sapaku.

.

“Eo… lama tidak bertemu, Choi Nara… You look….. good.”

.

“Kau juga…” hanya kata itu yang keluar dari bibirku.

.

“Nara-ya!!!”

.

Ahra eonni keluar dan ikut memanggilku, membut Kyuhyun mengalihkan pandangannya dariku. Kerut di keningnya menunjukkan ketidak sukaan pada suara bising kakaknya. Hal yang masih selalu ia lakukan. Akupun tersenyum pada Ahra eonni. Seolah menyapa sekaligus mengucapkan terima kasih karena mengakhiri kecanggungan kami.

.

“Kau baru pulang, Nara-ya?” tanya Ahra eonni.

.

“Eo, eonni. Baru saja. Senang bertemu dengan eonni lagi”, kataku.

.

“Aku juga senang… Aku tidak menyangka kau tumbuh menjadi gadis secantik ini…”

.

“Aniyo, eonni… eonni sejak dulu jauh lebih cantik dariku. Aku selalu seperti ini. Tidak ada yang berubah”.

.

“Aninde… kau tampak sangat cantik. Namja chingu isseo?” tanya Ahra eonni lagi.

.

“Ah eonni… kita baru saja bertemu eonni sudah menanyakan itu, aku jadi bingung harus menjawab apa. Eo, eonni sudah bertemu dengan appa dan eomma?” tanyaku.

.

“Ah, kau benar. Aku belum bertemu dengan paman dan bibi. Saat aku datang mereka sedang tidak ada dirumah, Nara-ya”.

.

“Geureohkuna… emm… satu jam yang lalu eomma meneleponku, sepertinya mereka sudah ada dirumah. Eonni mau mampir?” tanyaku.

.

“Geureom… gaja!” kata Ahra eonni.

.

Akupun mengajak Ahra eonni untuk mampir ke rumah. Berada disekitar Kyuhyun dengan perasaan canggung sangat mengangguku. Aku tidak bisa bertahan dalam kecanggungan itu lebih lama lagi. Mengajak Ahra eonni mampir setidaknya bisa membantuku menghindarinya untuk sementara. Ya, untuk sementara.

.

.

Juni 2007

Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Hubungan kami berjalan terlalu baik. Perpisahan selama 4 tahun seolah tidak pernah terjadi diantara kami. Banyak orang diantara kami yang membuat lelucon dengan mengatakan kedekatan kami adalah takdir yang tidak bisa dibantah. Tapi aku memilih teoriku sendiri. Kedekatan kami terbentuk karena suatu kebiasaan. Aku dan Kyuhyun sudah berteman sejak berusia 5 tahun. Kami bermain bersama, belajar bersama, pergi ke sekolah yang sama, dan well… tumbuh bersama. Kami selalu menghabiskan waktu kurang lebih 13 jam bersama setiap harinya. Seolah tidak ada anak lain diantara kami. Kami memiliki dunia kami sendiri. Dan semua hal yang terjadi belakangan ini mungkin dikarenakan oleh alasan itu.

.

“Ya, Choi Nara, kau tidak ingin mentraktirku makan?” tanya Kyuhyun.

.

“Dalam rangka?”

.

“Kau kan baru berulang tahun. Seharusnya kau mentraktirku sesuatu. Bagaimana bisa kau melupakanku? Teman-teman sekolahmu saja kau traktir. Kita kan sudah berteman selama bertahun-tahun…”

.

“Ch… kau bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku, Cho Kyuhyun”.

.

“Saengil chukhahae! Dwaessji?”

.

Aku menghela napasku panjang sambil menggelengkan kepalaku. Laki-laki ini benar-benar tidak terduga. Bagiku ia seperti alien. Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku masih saja bertahan berteman dengannya. Aku juga tidak menemukan alasanku tidak merasa marah padanya.

.

“Baiklah… kau mau apa? Pizza? Jajangmyun? Chicken?”

.

“Pizza pizza pizza! Cheese!” katanya bersemangat.

.

“Arasseo. Akan aku pesankan…”

.

“Iyah… Choi Nara, choigo! Aku tidak menyangka kau memiliki hati yang sangat baik seperti ini”.

.

“Almyeon dwaesseo… (Baguslah jika kau tahu)”, kataku sambil menghela napasku lagi.

.

“Jangan terlalu baik, Choi Nara…”

.

“Wae? Menjadi baik adalah hal yang bagus, kan?”

.

“Geurae… johji… tapi kau bisa membuatku menyukaimu lagi…” katanya berbisik.

.

“Mworago?” tanyaku memastikan pendengaranku.

.

“Aniya… cepatlah pesan pizza nya. Aku sudah lapar…”

.

“Arasseo… augh… Cho Kyuhyun jinjja… ingatlah untuk membalas kebaikanku ini suatu saat nanti, Cho Kyuhyun!”

.

“Arasseo, ahjumma!” katanya sambil tertawa.

.

Aku mendengarnya. Aku mendengar dan mengingat jelas apa yang dikatakannya. Setiap kata tersusun masih dengan urutannya diotakku. Kalimat itu seolah memukul dadaku beberapa saat yang lalu. Tiba-tiba aku merasa tubuhku bereaksi sangat aneh saat mendengar kalimat itu. Sebelumnya kami tidak pernah berbicara serius satu sama lain. Dan barusan juga bukan pembicaraan yang terbilang serius. Tapi nada dalam kalimatnya tidak disertai dengan lelucon. Aku harap ini hanya perasaan anehku karena rasa lelah yang aku rasakan. Aku dan Kyuhyun jelas sudah terlalu lama saling mengenal. Aku bahkan sudah tidak bisa mendeskripsikan tiap emosi yang ada diantara pembicaraan kami dan keseharian kami.

.

.

Maret 2008

Ditengah masa belajar yang intens, aku mendapatkan kesempatan untuk menyegarkan pikiranku dengan perjalanan keluar kota. Aku bersama dengan Jung Eunji, Kim Myungsoo, Lee Chunji dan Jung Daehyun berangkat bersama dengan sebuah bus menuju Gyeonggi-do. Perjalanan 2 hari 1 malam kami pilih sebagai penghilang penat ditengah masa belajar yang tiada henti ini.

.

“Aish… i-jasik… tempatmu kan dipojok, kenapa kau memaksa duduk ditengah?” tanya Chunji pada Myungsoo.

.

“Ditengah kan tidak ada tanda reserved nya, jadi aku boleh saja kan duduk disini?” tanya Myungsoo.

.

“Transparan… Hanya orang beriman yang bisa melihatnya”, jawabku berbisik.

.

“Mungkin dibanding denganmu, Eunji dan Daehyun, aku belum cukup beriman, tapi kalau dibanding Chunji? Aku sudah termasuk kategori orang beriman, Nara-ya”, kata Myungsoo sambil tertawa.

.

“Kenapa kalian bawa-bawa aku?” Chunji protes.

.

“Aniya, ima… Hanya saja penghuni bus yang satu ini agak protes. Lagipula membawamu sangat merepotkan. Berat!”, jawab Myungsoo mengundang tawa seisi bus.

.

Hanya berselang beberapa jam, kami menyerah dan tertidur. Kegiatan belajar yang masih kami lakukan pagi tadi sudah mengambil sebagian tenaga kami. Obrolan dan candaan yang semula mengisi perjalanan kami, kini digantikan dengan sayup suara yang mengalun di headset kami masing-masing. Kegiatan tidur ini akan terasa mudah dengan hanya 2 orang duduk bersama, tapi cukup sulit untuk kami, 5 orang yang duduk bersama. Kepala kami sesekali membentur satu sama lain karena guncangan bus yang melaju. Akhirnya disepakati sebuah formasi. Daehyun menyandarkan kepalanya di jendela kanan, lalu Eunji bisa menyandarkan kepalanya di bahu Daehyun, aku akan menyambung ke bahu Eunji. Sementara Chunji menyandarkan kepalanya ke jendela kiri dan Myungsoo bisa menyandarkan kepalanya di bahu Chunji. Tapi formasi itu hanya bertahan beberapa menit sampai aku menemukan kesulitan menjangkau bahu Eunji. Myungsoo membuka matanya karena merasakan ketidaknyamanan posisiku di tempat duduk. Iapun menarik kepala dan tubuhku, lalu disandarkannya kepalaku di bahunya dengan posisi lengan kiriku berada dibawah lengannya. Aku bisa merasakan tangannya membelai kepalaku lembut lalu berganti dengan kepalanya yang disandarkan dikepalaku.

.

“Kakimu naikan saja ke sebelah ke kursi depan itu. Biar kakimu tidak pegal, Nara-ya”, katanya berbisik.

.

Aku dengan setengah kesadaranku segera meletakkan kaki kiriku ke atas bangku yang ia maksud. Ternyata letak kaki ku diatas bangku itu mempengaruhi posisi duduk kami. Kami duduk tidak berjarak. Aku bisa merasakan telapak tangannya berada diatas punggung tanganku. Ia menggenggamnya. Aku bisa merasakan nafas teraturnya. Dan juga tangannya, yang sesekali membenarkan letak kepalaku.

.

##########

.

Akhirnya kami sampai ditempat tujuan kami. Tempat ini begitu nyaman, dingin dan tenang. Tempat yang tepat untuk menyegarkan otak dari segala kepenatan persiapan menjelan Ujian Semester dan padatnya kota Seoul. Sayang sekali sahabatku yang lain, Krystal tidak ikut. Ia memilih pantai sebagai tempat tujuan long weekend mereka. Aku juga suka pergi ke pantai, angin pantai begitu sejuk, suara ombak juga menenangkan pikiran, dan pemandangan lepas pantai yang begitu menyegarkan mata. Tapi aku lebih membutuhkan udara pegunungan untuk mengembalikan kerja otakku yang sedikit memanas bahkan sebelum ujian dimulai.

.

Disinilah aku berdiri. Dipinggir sebuah tebing tidak jauh dari villa tempat kami menginap. Aku memandang jauh kedepan menyaksikan keindahan alam pegunungan yang tidak mungkin bisa aku nikmati di Seoul. Suara air mengalir di kali kecil beberapa meter di bawahku mengisi kesunyian tebing ini. Sesekali aku mendengar suara burung – burung kecil yang melewati langit luas diatas kepalaku. Segala ketenangan ini mengajakku untuk memejamkan mataku sejenak dan menikmati angin pelan yang menyentuh kulitku yang tidak berbalutkan jaket. Anginnya pelan namun begitu dingin membuatku bergidik sesaat. Kicauan burung semakin ku dengar jelas dan ramai. Tidak ada suara kendaraan berlalu lalang, suara orang – orang berjualan, maupun suara celotehan anak – anak kecil yang baru pulang sekolah. Menyatu dengan alam, begitulah yang mereka katakan untuk keadaanku saat ini.

.

“Jadi bagaimana?” tanya seseorang yang mendatangiku, Eunji.

.

“Mwoga?”

.

“Kau dan Myungsoo?” tanyanya lagi.

.

“Mwoga? Tidak ada apa-apa diantara kami”.

.

“Tapi aku sepertinya tidak percaya” katanya dengan senyum tipis di bibirnya.

.

“Percayalah… Choi Nara masih single sampai detik ini”.

.

“Berarti belum kan?”

.

“Oke… maksudnya?” tanyaku kali ini.

.

“Belum. Kau dan Myungsoo masih belum disadarkan dengan perasaan masing – masing”.

.

“Perasaan seperti?”

.

“Oh jebal… Nara-ya. Coba kau lihat ke dalam hatimu baik-baik. Tidak pernahkah kau sekalipun merasakan hal yang berbeda pada Myungsoo? Bukan sebagai teman yang sudah 3 tahun ini bersama di SMA, tapi sebagai orang yang selalu ada untukmu, bahkan disaat semua orang tidak ada untukmu”.

.

“Dia memang orang yang selalu ada untukku bahkan disaat semua orang tidak ada, Eunji-ya. Dia teman yang selalu ada”.

.

“Teman? Tetap sebagai teman? Kau yakin?” tanyanya beruntun.

.

“Aku tidak tahu”, jawabku jujur.

.

“Geurae… Kau sendiri saja tidak tahu sebenarnya bagaimana. Kalau sepupuku yang satu itu sih aku tahu apa yang sebenarnya dia rasakan padamu”.

.

“……….”

.

“………”

.

“Hei! Sedang apa dipinggir jurang. Kalian bisa jatuh…”

.

Suara Myungsoo mematahkan keheningan diantara aku dan Eunji. Kami dengan serempak langsung menoleh kearahnya yang berjalan mendekati kami. Ia memang selalu datang disaat yang tidak begitu diinginkan. Aku harap ia tidak mendengar apapun dari perbincanganku dan Eunji barusan.

.

“Sejak kapan kau disitu?” tanya Eunji yang juga mewakilkan pertanyaanku.

.

“Baru saja. Tenang… aku tidak menguping. Kalian pasti sedang membicarakan rahasia. Dasar perempuan…” katanya.

.

“Baguslah kalau tidak menguping. Good boy… Good boy…” kata Eunji sambil menepuk pelan bahu sepupunya itu.

.

“Wow… jadi kau menghilang kesini, Nara-ya? Pantas saja kau betah. Ini keren sekali!” Myungsoo berdecak kagum.

.

“Bagus bukan pemandangannya? Sangat pas untuk kegiatan menghilang dari Seoul…” kataku.

.

“Untuk melukis atau foto-foto juga bagus…”, sambung Eunji.

.

“Terlebih untuk berkencan… sepi”, celetuk Myungsoo.

.

Kami saling memandang dan tertawa bersama. Jalan pikiran Myungsoo memang sangat sederhana. Kami tidak begitu heran dengan ucapan Myungsoo yang terkadang tidak dipikirkan betul itu. Tiba – tiba ponsel ku bergetar. Aku berniat untuk mengacuhkannya sementara aku menikmati pemandangan dihadapanku ini, tapi getarannya begitu panjang. Itu menandakan sebuah panggilan masuk dan aku mau tidak mau harus mengangkatnya.

.

Cho Kyuhyun’s Calling…

.

Aku terdiam sejenak melihat nama Kyuhyun di layar ponsel ku. Aku menimbang-nimbang apakah aku harus mengangkatnya dan bicara padanya saat ini. Sampai getarannya berhenti. Lalu tampak di layar ponsel ku pemberitahuan 3 missed calls. Aku membuka pemberitahuan itu, dan ketiganya dari Kyuhyun. Aku mengernyitkan dahiku. Baru kali ini ia begitu kukuh menghubungiku. Biasanya Kyuhyun akan menyerah saat aku tidak mengangkat teleponnya yang pertama. Tapi kali ini ia terus menghubungiku. Ponsel ku kembali bergetar memunculkan nama Kyuhyun di layar. Ini yang keempat. Aku masih ragu untuk mengangkatnya. Kami tidak sedang bertengkar atau menjauh. Justru beberapa tahun ini kami kembali akrab seperti saat kami kecil. Tapi bukankah alasanku ikut ajakan Eunji dan yang lainnya ke gunung adalah untuk menghilang dari Seoul dan meninggalkan segalanya sejenak disana? Termasuk hari – hariku yang penuh dengan Kyuhyun.

.

“Mau aku bantu angkat teleponnya?” tanya Eunji yang menyadari getaran ponsel di tanganku.

.

Eunji dan Myungsoo menatapku serempak. Myungsoo mengernyitkan dahinya mengira-ngira siapa orang yang ada diujung telepon entah dimana yang sedang menungguku. Aku menatap mereka bergantian kemudian menggeleng pasti dan menyerah untuk mengangkat telepon itu sendiri. Eunji dan Myungsoo kembali mengalihkan pandangan mereka ke bukit – bukit disekitar kami. Memberiku privasi. Aku mengangkatnya, dan tidak mengucapkan ‘halo’, ‘kenapa?’ atau ‘ada apa?’ pada Kyuhyun. Aku tetap diam. Menunggu ia bicara lebih dahulu.

.

“Lupa cara bilang halo?”

.

“Hmm…” jawabku singkat.

.

“Kau dimana? Aku mencarimu sejak tadi…”

.

“Gyeonggi-do”.

.

“Mwo??? Kenapa kau tidak bilang padaku?”

.

Aku mengernyitkan dahiku mencari alasan. “Aku lupa. Mian…”

.

Seolah kepalaku dipukul oleh buku yang besar, aku menyadari perkataanku barusan. Aku mengucapkan maaf untuk sesuatu yang tidak perlu. Aku dan Kyuhyun hanya teman. Teman di masa kecil yang setelah 5 tahun baru bertemu dan berteman kembali. Dan ini tahun ketiga setelah pertemuan kami di usia remaja.

.

“Pesanku tidak dibalas. Di telepon tidak diangkat. Menghindariku? Sedang marah padaku? Atau ba…”

.

“Kyuhyun-ah, ada apa denganmu?” tanyaku menghentikan pertanyaan beruntunnya.

.

Aku bisa merasakan Myungsoo yang langsung menatapku saat mendengar nama Kyuhyun dari bibirku. Ia bertahan selama beberapa detik menatapku sampai akhirnya kembali mengalihkan pandangannya. Namun saat aku menatapnya sekilas, aku tahu betul ia menatap kosong ke pemandangan di depannya. Ia mendengarkan pembicaraanku dengan Kyuhyun.

.

“Ada apa? Kau tanya ada apa? Aku mencarimu, Choi Nara”.

.

“Iya, aku tahu. Kenapa kau mencariku?”

.

“Kenapa kau pergi jauh tidak bilang apapun padaku?”

.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Dan aku yakin, sampai akhir hubungan telepon ini ia tetap tidak akan mengatakan alasannya mencariku.

.

“Seoul – Gyeonggi-do tidak jauh, Cho Kyuhyun”.

.

“Itu jarak terjauh kau pergi sendiri”.

.

Benar. Kyuhyun benar. Aku tidak pernah pergi sejauh ini sendirian. Tidak tanpa keluargaku, atau tanpanya. Akhirnya hal itu ku jadikan jawabannya mencari ku seperti ini. Situasi disekitarku jadi berubah hening. Eunji memutuskan mengabadikan pemandangan di hadapannya dengan kamera ponsel. Sedangkan Myungsoo masih berdiri diam menatap jauh kedepan. Akupun menjauh dari tempat awalku untuk berbicara lebih leluasa dengan Kyuhyun yang terdengar sedang kesal itu.

.

“Lalu?”

.

“Lalu? Ya i-gijibae… Masih tidak mengerti maksudku? Aku khawatir padamu…”

.

Aku tersenyum tipis. Ini kali pertama aku mendengar Kyuhyun mengutarakan kekhawatirannya dengan kata – kata. Sebelumnya ia mengutarakannya dengan omelan, atau mendiami ku beberapa hari.

.

“Tidak biasanya. Kau baru kembali bermain di rumah kosong mana tiba-tiba khawatir padaku?” tanyaku sedikit meledek.

.

“Ya!!! Aku sedang serius kau justru bercanda. Terserah padamu! Lakukan sesukamu!”

.

Sambungan telepon terputus tanpa salam apapun darinya. Aku dibuat geli dengan tingkahnya. Kyuhyun selalu seperti ini jika sedang kesal. Ia akan menutup sambungan telepon tanpa basa-basi. Kalau ia benar-benar kesal padaku, maka kira-kira 2 sampai 3 hari lagi ia akan menghubungiku dan keadaan kembali baik-baik saja seperti semula. Pola Kyuhyun semudah itu. Ia tidak akan marah terlalu lama. Karena menurutnya terlalu lama memendam kemarahan justru akan merugikannya saat ia membutuhkan sesuatu dari orang yang sedang bermasalah dengannya. Versiku berbeda. Aku pikir Kyuhyun tidak pernah berubah. Ia tetap seorang anak bungsu yang belum terlepas dari sifat kekanakannya. Orang lain harus mengalah untuknya. Ia harus selalu terpenuhi keinginan dan kebutuhannya. Itulah sebabnya aku tidak membujuknya untuk tidak kesal padaku di setiap sesi merajuknya. Aku akan membiarkannya memikirkan apa yang sudah ia lakukan dan yang harus ia lakukan. Dan kali ini, ia mengubah pikirannya jauh lebih cepat dari biasanya. Saat aku kembali ke tempatku semula berdiri, tidak jauh dari Myungsoo, sebuah pesan masuk ke ponsel ku.

.

From : Cho Kyuhyun

Tapi, kau baik-baik saja kan, Choi Nara??

Kalau ada apa2 telepon aku, bisa??

Thx..

 

.

Ia masih kesal. Namun khawatir. Dan aku yakin rasa kesalnya sebanding dengan kekhawatirannya. Karena menurutku jika seseorang sedang mengkhawatirkan orang lain, kata-kata yang akan dipilih adalah ‘kalau ada apa-apa telepon aku, ya?’. Tapi dengan kondisi kesal Kyuhyun justru mengungkapkan kekhawatirannya dengan kalimat, ‘kalau ada apa-apa telepon aku, bisa?’. Aku kembali dibuat tertawa dengan keunikannya. Aku tidak ingin membuat masalah sepele ini menjadi panjang. Tentu saja aku juga tidak ingin Kyuhyun merasa kesal sepanjang akhir pekan. Mau tidak mau aku harus membalas pesannya.

.

To : Cho Kyuhyun

Nan gwaenchanha… geogjeongma…

Minggu siang aku kembali.

 

.

Aku menyadari beberapa hal yang berubah dari Kyuhyun. Ia memang masih kekanakan. Tapi akhir-akhir ini ia berubah. Ia tidak sekeras kepala dulu. Ia juga tidak seacuh dulu. Kyuhyun yang akhir-akhir ini ku lihat adalah Kyuhyun yang mau mengalah, menjalani perannya sebagai seorang anak laki-laki yang akan beranjak dewasa, dan seorang Kyuhyun yang lebih leluasa mengatakan isi pikiran dan hatinya.

 

##########

 

 

Tiga minggu setelah kekhawatiran langka dan kemarahan Kyuhyun, segalanya kembali seperti semula. Kemarahannya lenyap, digantikan dengan sikap kekanakan nya lagi. Perubahan sifatnya terkadang mengejutkanku. Kyuhyun begitu ekspresif, eksplosif, dan aneh. Aku sempat meragukan kewarasanku sesekali. Ahra eonni pernah mengatakan bahwa aku satu-satunya orang yang bisa bertahan dengan sifat Kyuhyun. Tapi, aku pikir Ahra eonni salah.

.

“Aku harus bilang apa padanya, Nara-ya? Aku sudah minta untuk berpisah dengan baik-baik, tapi dia terus saja menanyakan alasannya”, kata Kyuhyun.

.

“Kau katakan saja alasan yang sebenarnya, Kyu” jawabku yang masih duduk malas sambil membolak – balik halaman majalah di tempat tidur Kyuhyun.

.

“Apa?”

.

“Loh? Kenapa kau malah bertanya padaku? Ya, mana aku tahu. Apa alasanmu ingin putus darinya? Bosan? Sudah tidak suka? Suka pada gadis lain?”

.

“Wets! Enak saja. Aku laki-laki yang setia, Choi Nara. Aku tidak mungkin mendua!”

.

“Lalu?”

.

“Dia sangat posesif, Nara-ya. Satu jam sekali dia menelepon atau mengirim pesan menanyakan aku sedang apa, bersama siapa, dengan perempuan lain atau tidak. Kalau pesannya tidak aku balas atau telepon tidak aku angkat dia akan marah – marah. Bilang aku sedang selingkuh lah, melupakan dia lah, tidak sayang padanya lagi lah, sedang mencari…”

.

Stop, stop, stop. Oke? Kau membuatku pusing”, kataku menghentikan ocehan Kyuhyun.

.

“Aku juga sedang pusing, Choi Nara. Makanya kau harus bantu aku…”

.

“Sekarang begini, kau masih suka padanya? Jujur.”

.

“Aku tidak yakin…”

.

“Kenapa?”

.

“Mungkin aku memang sudah bosan dengan sifat posesifnya. Dan… perasaanku jadi datar saja padanya.”

.

“Kalau begitu bilang saja jujur padanya, kau tidak tahan pada posesifnya. Mudah bukan?”

.

“Sudah, Nara. Sudah! Dia tidak percaya padaku. Dia bilang aku pasti memang sedang selingkuh, bersama perempuan lain, dan lain – lain.”

.

“Dia tidak salah.”

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun dengan kening berkerut.

.

“Cho Kyuhyun, aku ini seorang perempuan. Detik ini kau sedang ada didepan mataku. Kekasihmu tidak salah tentang hal yang satu itu. Dia hanya salah dibagian selingkuh. Aku bukan selingkuhanmu. Sangat bukan”.

.

“Itulah… dia juga marah karena aku main de…”

.

Ia menghentikan kalimatnya kemudian menutup bibirnya rapat – rapat dan berbalik. Aku mengernyitkan dahiku menunggu kalimatnya yang selanjutnya. Tapi ia tetap diam sambil berlalu lalang di hadapanku.

.

“Kyuhyun?”

.

“Hmm?” ia menyahut tanpa menatapku.

.

“Cho Kyuhyun, stop! Lanjutkan kalimatmu yang terakhir.”

.

“Kalimat apa?”

.

“Dia juga marah karena kau main de?” tanyaku mengulangi kalimatnya yang terputus.

.

“…nganmu terus.” jawabnya sedikit berbisik.

.

Ia berbalik menatapku menunjukkan wajah polos meminta maaf. Ia mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan tanda V padaku dengan kedua jarinya. Aku menggeleng menatapnya heran. Sejak acara makan bersama kami hari itu, kami menjadi sangat dekat. Kami berbicara tentang banyak hal hingga larut malam. Kami sesekali bertemu untuk sekedar menghabiskan waktu di sebuah tempat makan yang ia pilih. Ia juga selalu menyetujui ajakanku yang memintanya menemaniku membeli buku dan peralatan sekolah. Ia bahkan tidak menolak menemaniku di rumah saat orang tua dan Changjo pergi keluar kota. Ternyata itulah alasan keleluasaan waktu luangnya. Ia sedang menghindari pacarnya yang posesif. Dan dugaan pacar Kyuhyun mmemang benar. Ia tidak mengangkat telepon dan membalas sms karena sedang berjalan dengan perempuan lain. Tepat seperti dugaannya.

.

“Ah… aku tahu!” katanya tiba – tiba dengan wajah sumringah. “Aku bilang saja aku baru bertemu lagi dengan cinta pertamaku setelah sekian lama dan ternyata aku masih sangat menyukainya. Bagaimana?” tanya Kyuhyun sambil menaik – naikkan alisnya.

.

“Terserah. Kalau kau yakin itu bisa membuatnya percaya”, kataku setuju.

.

“Kenapa aku baru kepikiran sekarang ya…” katanya lagi sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. “Nanti malam aku akan mengatakan itu saja padanya…”

.

“Emm… tapi kalau dia tanya siapa cinta pertamamu?” tanyaku.

.

Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku ataupun berpikir untuk mencari jawabannya. Akupun menyimpulkan bahwa alasan yang baru ditemukan Kyuhyun itu bukan sebuah kebohongan yang tidak sengaja ia buat. Kyuhyun benar – benar bertemu dengan cinta pertamanya kembali. Kami mmemang berteman sejak kecil, tapi kami tidak pernah membicarakan hal – hal pribadi terlalu dalam, seperti cinta pertama. Sesaat aku merasakan hal aneh terjadi padaku. Seakan – akan ada ratusan klip video berputar di otakku, seakan ada seekor tupai yang baru saja meninju perutku, dan ada sesak yang memenuhi paru – paruku. Aku tidak memengerti sistem kerja tubuhku baru – baru ini. Kecanggunganku menghilang begitu saja dihadapan Kyuhyun, aku jadi begitu mudah mengatakan ‘ya’ untuk semua ajakan keluar rumah dari Kyuhyun sementara ajakan lain dari teman – temanku akan aku pikirkan 2 atau 3 kali, dan kali ini ada rasa tidak karuan saat mendengar Kyuhyun mengucapkan ‘cinta pertama’ untuk pertama kalinya.

.

“Bagaimana? Apa yang akan kau jawab?” tanyaku lagi, kali ini sedikit mendesak.

.

“Mudah saja! Aku hanya perlu memberitahu namanya. Kalau dia mau aku juga bisa memperlihatkan fotonya”.

.

“Memangnya siapa cinta pertamamu? Sepertinya kita tidak pernah membahas tentang ini…”

.

“Kau sangat ingin tahu?” tanya Kyuhyun menggoda. “Tapi, aku pikir kau tidak tahu pun tidak apa-apa…”

.

“Siapa? Katakan saja. Apa aku mengenalnya?”

.

“Sepertinya kenal… tentu kau kenal…”

.

“Aku kenal? Siapa?”

.

Ia mengambil bantal lalu meletakkannya diatas kaki ku. Ia juga meraih setoples wafer di meja tidak jauh dari tempat tidurnya kemudian meletakkan kepalanya diatas bantal. Ia memasukkan 2 potong cookies ke mulutnya. Aku menggerakkan kaki ku, mendesaknya lagi untuk menjawab pertanyaanku. Ia mmemang hobby membuatku menunggu jawabannya.

.

“Coba kau lihat lurus ke depan…” katanya.

.

Aku langsung memandang lurus ke depan seperti yang dikatakan Kyuhyun. Aku melihat sebuah cermin berbentuk persegi panjang dibingkai dengan kayu berwarna cokelat tua di dinding kamarnya. Jaraknya kira – kira 3 meter dari tempatku duduk. Aku mencari – cari ke sudut cermin itu, mungkin saja Kyuhyun menempelkan foto ‘cinta pertama’ nya disana. Tapi aku tidak menemukan tempelan apapun disana. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas lagi. Kyuhyun mungkin menempelkan fotonya disekitar cermin itu. Tapi aku tetap tidak menemukan apapun.

.

“Sudah melihatnya?” tanya Kyuhyun santai.

.

“Dimana?” tanyaku sambil masih mencari.

.

Kyuhyun menoleh ke cermin itu dan menemukan pantulan wajahku yang masih mencari – cari tempelan apapu yang ada di dinding itu. Kyuhyun yang menyaksikan ku mencari – cari dengan wajah bingung pun ikut menjadi bingung. Ia langsung bangun dan duduk tepat di sebelah kiriku. Ia mengikuti arah pandanganku lalu mengernyitkan dahinya.

.

“Mata mu minus?” tanyanya.

.

“Tidak. Kenapa memang?” tanyaku menoleh padanya.

.

“Sebesar itu kau tidak bisa melihatnya?” tanya Kyuhyun heran.

.

“Hah?”

.

Aku menoleh lagi ke arah cermin itu. Aku masih tidak menemukan yang ia sebut ‘segede itu’ dimanapun di dinding itu. Kyuhyun merapatkan duduknya padaku. Lalu ia menjentikkan jarinya tepat di depan mataku. Ia mengacungkan telunjuknya lalu menunjuknya ke cermin di hadapan kami kemudian ia membalikkan telunjuknya menunjukku. Ia melakukan hal itu berulang – ulang untuk meyakinkan bahwa aku benar – benar memperhatikan dan memengerti maksudnya.

.

“Aku?” tanyaku arkhirnya.

.

“Pintar!” ia kembali merebahkan tubuhnya.

.

“Jangan bercanda, Cho Kyuhyun…..”

.

“Hmm… dia tidak percaya padaku. Terserah…”

.

“Benar aku?” tanyaku lagi meyakinkan.

.

“Tentu saja… Sekarang coba kau ingat – ingat. Teman perempuan yang dekat denganku sejak kecil kan hanya kau saja. Kita hampir setiap hari bersama. Jelas saja aku hanya menyukaimu…” Katanya sambil memasukkan wafer lagi ke mulutnya.

.

“Ya… mungkin saja kau punya teman lain dikelasmu saat di SD”.

.

“Aku sangat kaku saat kecil, Nara-ya. Jangan berpura-pura tidak tahu”.

.

“Geurae… kau memang sangat kaku dulu…”

.

“Waktu itu di mata, hati dan pikiranku hanya ada seorang Choi Nara.”

.

Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya barusan. “Auh… kau berlebihan, Cho Kyuhyun. Astaga…”

.

“Hei, aku bersungguh-sungguh. Aku tidak bohong… tapi itu dulu, Choi Nara.”

.

Rasa sesak yang aku rasakan seolah menghilang begitu saja setelah cerita Kyuhyun barusan. Aku menghela napasku pelan saat menyadari hal itu. Aku benar – benar sudah tidak memengerti system kerja tubuhku lagi saat ini. Lalu aku menyadari akan satu hal. Sesuatu yang aku pertanyakan di hari pertamaku bertemu dengannya lagi. Tepat 3 minggu yang lalu. Aku menemukan jawaban dari pertanyaanku saat itu. Aku adalah cinta pertama Kyuhyun. Dan Kyuhyun adalah cinta pertamaku. Ia tidak pernah tahu hal itu. Ia juga tidak pernah menanyakan hal itu.

.

TBC…

Note:

Setelah perpisahan selama 4 tahun, Kyuhyun dan Nara dipertemukan kembali. Mereka kembali menjalin persahabatan seperti yang mereka lakukan sejak kecil. Satu-persatu rahasia dimasa lalu terungkap dalam pertemuan kembali mereka. Keduanya juga menemukan perasaan baru diantara mereka. Apakah mereka akan tetap hanya sebagai sahabat? Apa perasaan yang sebenarnya mereka miliki di hati masing-masing? Apakah Kyuhyun akan mengetahui kenyataan bahwa ia juga cinta pertama Nara? Nantikan part selanjutnya…..

Advertisements

31 thoughts on “The Possibility of Impossible Us Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s