The Untold Story between Us Part 6

– The Untold Story between Us (Part 6) –

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:   Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

Other Cast:

Kim Hyuna, Choi Siwon, Luna.

Preface:

Annyeonghaseyo. Ja, untuk pengantar, seperti sebelumnya, aku sekali lagi menyatakan FF ini adalah hasil pemikiran dan karyaku sendiri. Tapi, sebelumnya aku ingin memohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. FF ini sudah author tulis dari tahun 2014, tapi baru sekarang (setelah menyelesaikan They Who Belong to That Position) aku publish. Dan, tentu saja aku juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi.

As always, jika kalian mau memberikan personal protes, comment, kasih saran, atau cuma sekedar ngobrol-ngobrol aja, e-mail ke kadanao21@yahoo.com

Selamat membaca…

Review Part 5

“Kegilaan ini datang lagi, Donghae-ya…”, kata Yunji lirih.

“Yunji, kau kenapa? Kegilaan apa?”

“Memory itu. Bayangan itu. Nama itu. Catatan itu… Itu milik Choi Siwon”.

“Mianhae… Tentang tadi siang. Yunji?”

“Aaaaa!”

The Untold Story between Us Part 6

Sentuhan tangan Donghae yang dingin mengagetkan Yunji. Gelas yang berada didekatnya pecah jatuh di lantai. Bayangan percakapan hari itu kembali memenuhi pikiran Yunji. Tidak sadar air mata sudah menetes dari mata Yunji. Donghae meraih wajah Yunji dan menatapnya. Yunji memejamkan matanya untuk menghapus bayangan itu dari pikirannya. Namun suara itu masih bergema memenuhi seluruh otaknya.

“Gwaenchanha? Maaf aku mengagetkanmu”, kata Donghae.

Yunji membuka matanya dan mengusap air matanya. “I’m fine. Aku bereskan pecahannya dulu”.

“Aniya… Nanti aku yang membersihkan. Lebih baik kau mandi dulu”.

“Donghae-ya…” Yunji menggenggam erat tangan Donghae. “Bisakah kau menunggu aku di depan pintu kamar mandi?”

“Yunji-ya… aku disini. Kau tidak perlu takut”.

“Kalau begitu pintunya aku buka”.

“Oke, aku tunggu di depan pintu”, Donghae menyerah.

##########

Setelah mandi keadaan Yunji masih seperti sebelumnya. Tidak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Setiap kalimat yang diucapkan Donghae bahkan berlalu begitu saja. Yunji hanya menanggapi Donghae sekenanya dengan ‘oh ya’, ‘hm…’ dan ‘ya’. Donghae yang menyadari hal itu tetap melanjutkan perbincangan satu arahnya. Semua hal ia bicarakan. Situasi tiga singa di Frente Corp, rambut baru Sunhwa, pertandingan basket minggu lalu, pasangan baru lantai tujuh, semuanya. Walaupun Yunji tidak benar-benar mendengarkannya, paling tidak itu cukup membuat suasanya di ruangan itu menghangat dengan celotehan tidak berguna Donghae. Di hari lain mungkin Yunji akan bilang Donghae seperti para ahjumma di sore hari. Namun hari itu Donghae tidak berharap banyak.

“Tidurlah, Yunji-ya. Kau butuh istirahat”, kata Donghae. Ia menyerah. Lelah bicara begitu banyak.

Butuh waktu lima detik sampai Yunji mengerjapkan matanya dan bertanya, “Kau?”

“Aku disini”, jawab Donghae.

“Kenapa?”

“Karena… kasur udaranya ada disini dan kita terlalu lelah untuk memindahkannya ke kamarmu. Lagipula malam ini ada pertandingan Lakers melawan Bulls”.

Donghae tentu tidak akan melewatkan pertandingan itu. Minggu lalu Yunji melarangnya menyaksikan aksi team idolanya Lakers bertanding dengan Heat karena kehadiran Hyuna di apartment itu. Tanpa berkata apapun Yunji berjalan ke kamarnya. Donghae pun memulai persiapannya untuk menyaksikan pertandingan yang sudah ia tunggu. Kasur udara, bantal dan selimut sudah bertengger manis sejak tadi di dekat televisi. Beberapa toples makanan kecil juga sudah Donghae siapkan curi-curi meninggalkan pintu kamar mandi saat Yunji berada di dalam. Tiba-tiba Yunji keluar dari kamar membawa bantal dan selimutnya lalu diletakkan tepat di sebelah bantal Donghae. Yunji ke dapur untuk minum segelas air, tradisi nya sebelum tidur. Donghae hanya menatap heran ke bantal lalu mengikuti arah gerak Yunji. Saat Yunji kembali dari dapur, pandangan mereka baru bertemu.

“Wae?” tanya Yunji.

“Harusnya aku yang bertanya “, jawab Donghae.

Yunji duduk tepat disamping Donghae. Gelas yang dibawanya dari dapur diletakkan di meja kecil dekat kursi. Yunji membuka ikatan dirambutnya lalu membentangkan selimutnya dan merebahkan tubuhnya. Donghae masih menatapnya menunggu penjelasan Yunji.

“Aku tidur disini”, kata Yunji singkat.

“………”

“Kau tidak keberatan kan berbagi space denganku? Kecuali kalau kau berubah pikiran untuk melewatkann Lakers lagi dan tidur didalam”.

“Aku bukan penonton yang tenang, Yunji-ya”.

“Aku bisa tidur bahkan dengan keributanmu”.

Beberapa menit kemudian Yunji sudah tertidur lelap. Wajahnya begitu tenang, jauh berbeda dengan ketegangan dan kebungkaman nya beberapa jam lalu yang sempat mendinginkan suasana. Nafasnya halus berhembus menyentuh lengan Donghae yang memperhatikannya. Tayangan pertandingan Lakers di televisi pun teralihkan dengan pemandangan yang sudah cukup sering dilihatnya ini. Sesekali Donghae tetap menoleh ke layar kaca untuk memastikan score sementara. Tatapannya kembali ke Yunji yang sepertinya sudah bermimpi berada di suatu tempat jauh dari sana. Kemudian Donghae menyandarkan punggungnya ke sofa yang ada di belakangnya.

Donghae memutuskan untuk menonton pertandingan di televisi karena tanpa sadar pertandingan sudah berlangsung 3/4 dari waktunya. Di menit terakhir score menunjukkan 94 untuk Lakers dan 92 untuk Bulls. Sambil menyantap makanan kecil yang disiapkannya, Donghae memperhatikan dengan serius langkah pemain dalam mengdrible bola. Ditukarnya toples makanan dengan ponselnya karena sebuah email yang masuk. Donghae mengeluh menyesal karena email itu dikirim oleh Hyorin yang mengundangnya datang sabtu itu ke apartmentnya untuk merayakan tepat hari ke 1500 nya bekerja di Frente Corp. Entah untuk apa hari itu dirayakan.

Tiba-tiba lengan kiri Yunji meraih pinggang Donghae. Donghae yang kaget hampir melepaskan ponselnya. Kepala Yunji berada tepat di atas diafragma nya. Lenguhan pelan Yunji membuat Donghae bergidik, namun tetap tidak bisa melakukan apapun. Donghae menghela nafas panjang lalu membenarkan posisinya. Ia berbaring perlahan agar tidak membangunkan Yunji. Kini Yunji tertidur begitu pulas di dadanya. Pertandingan di televisi tidak lagi menarik untuk Donghae. Bahkan sudah berakhir bermenit lalu tanpa Donghae tahu score terakhir dan pemenangnya. Tangan kiri Donghae memeluk tubuh Yunji dan menepuk punggungnya perlahan. Sementara tangan kanan Donghae membenarkan selimut Yunji lalu mengusap lembut pipi Yunji dan menyingkirkan helaian rambut yang hampir menutupi wajahnya. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Yunji, kemudian keningnya. Yunji bergerak membuat Donghae memundurkan kepalanya. Namun dahi Yunji menyentuh rahang Donghae sehingga nafas Yunji dengan msudah menyentuh dagunya.

“Lama-lama aku bisa gila, Yunji-ya”.

Keesokan Harinya

Matahari muncul di hari sabtu yang tenang. Suara burung-burung yang hinggap di balkon mulai meramaikan pagi itu. Sementara di dalam ruangan Donghae dan Yunji masih tertidur sangat pulas. Tadi malam, setelah melakukan berbagai usaha akhirnya Donghae bisa memejamkan mata dan tertidur. Keberadaan Yunji tepat dilengannya membuat Donghae kehabisan nafas.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7.30, namun belum ada satupun diantara mereka yang bangun. Kelelahan selama 5 hari dilampiaskan dengan tidur lebih lama di hari sabtu. Menyadari suhu ruangan yang menghangat, Yunji mulai membuka matanya. Butuh waktu beberapa menit untuk Yunji mengumpulkan kesadarannya dan menyadari Donghae berada disebelahnya sepanjang malam tadi. Yunji mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tatapannya berhenti pada wajah tenang Donghae. Yunji memandang wajah Donghae dalam diam dan merasakan setiap helaan nafasnya yang menyatu dengan suara-suara kecil aktivitas diluar ruangan yang terdengar di telinga Yunji. Seakan bisa merasakan ada seseorang yang memperhatikannya, Donghae membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkannya dan mulai menggeliat. Namun aktivitas itu terhenti saat Donghae benar-benar menyadari ada seseorang yang memperhatikannya. Donghae ikut memandang wajah Yunji tanpa kata. 5 detik berlalu… 10 detik berlalu…

“Ouch…” Kata pertama yang keluar dari bibir Donghae.

Yunji membulatkan matanya seolah bertanya apa arti keluhan pertama Donghae.

“Lenganku…” Kata Donghae lagi, “…mati rasa”. Donghae mengernyitkan keningnya membuat wajah seolah ia benar-benar tidak dapat merasakan lengannya.

Perasaan Donghae sebenarnya? Donghae hanya mencari akal untuk melenyapkan kecanggungan yang ia rasakan karena tatapan intens Yunji padanya. Jantungnya kembali berdetak begitu cepat sesaat setelah ia menyadari Yunji menatapnya dengan tatapan lembut itu. Ia tidak bisa lebih lama lagi menyembunyikan gelisah diwajahnya yang sudah hampir berhasil ia atasi semalaman.

“Ups…” Kata pertama yang keluar dari bibir Yunji, “…mian, Donghae-ya”.

Yunji akhirnya benar-benar bangun dari posisinya dan duduk lalu menggeliat. Yunji menghela nafas panjang beberapa kali. Rambutnya yang terurai kemudian digulung dan diikat dengan gerakan super malasnya. Donghae hanya terdiam menyaksikan ritual bangun pagi Yunji untuk pertama kalinya. Setelah rambutnya tergulung, Yunji hanya duduk diam. Donghae terus memperhatikan Yunji yang tidak melakukan apapun seolah sedang mengumpulkan nyawanya. Di dalam kepalanya timbul berbagai kemungkinan yang bisa ia lakukan. Besar keinginan Donghae untuk meraih tangan Yunji dan mengembalikannya ke posisi semula, membawanya memejamkan mata lagi dan terlelap. Keinginan lain yang terbersit adalah ikut bangun dari posisi tidurnya kemudian meraih tubuh Yunji dan memeluknya hangat sambil mengucapkan selamat pagi dan mengutarakan pujiannya akan kecantikan Yunji pagi ini yang dengan mudah meluluhkan hatinya. Namun kedua keinginan itu cepat-cepat dikuburnya dalam-dalam. Akhirnya yang dilakukan Donghae hanya bangun dari posisi tidurnya dan ikut duduk sambil sesekali meregangkan ototnya. Dan benar saja, Yunji yang dikiranya semula hanya duduk diam ternyata memejamkan matanya dalam posisi itu seolah mencoba kembali tidur. Tidak ada suara yang terdengar dari Yunji. Donghae melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Yunji memastikan. Tetap tidak ada respon.

Akhirnya Donghae mendekatkan wajahnya untuk melihat kearah mata Yunji lebih dekat. Donghae tidak menyadari apapun ketika jarak wajah mereka sudah benar-benar dekat dan tiba-tiba Yunji membuka matanya, mengecup tepat disudut kiri bibir Donghae lalu membisikkan, “Selamat pagi, Donghae-ya” dengan suaranya yang terdengar serak kemudian berlalu secepat mungkin ke dapur. Donghae terdiam cukup lama. Otaknya mencerna apa yang baru saja terjadi. Hal itu tidak seperti dua khayalan nya beberapa menit lalu. Ia tidak meraih lengan atau tubuh Yunji. Ia bahkan tidak menyentuh Yunji dengan ujung jarinya sekalipun. Ia juga tidak memeluk Yunji. Hal yang baru saja terjadi bukan khayalannya. Karena kecupan Yunji masih ia rasakan. Dan suara serak itu seolah pernah ia dengar. Benar… Donghae pernah mendengarnya beberapa hari lalu di kamar tidur Yunji ketika mereka berdua mempertanyakan keadaan mereka bukan karena pengaruh segelas alkohol. Perlu beberapa menit sampai akhirnya Donghae meyakinkan hatinya bahwa Yunji memang baru saja memberikan morning kiss dan ucapan selamat pagi untuknya entah untuk alasan apa.

Wow… What was that, Yunji-ya?

Sedetik kemudian Donghae menggigit pelan lidahnya dan menepuk dahinya. Ia merutuki dirinya sendiri menanyakan pertanyaan itu seperti menanyakan iklan sabun cuci perdana yang terlewatkan oleh pandangannya.

“Mworago? Aku tidak mendengarmu.” Yunji memberikan respon.

“Umm… aniya. Amugeotdo…”, sangkal Donghae. “…damn you, Lee Donghae!” katanya dalam hati.

Sementara di dapur Yunji diam-diam menyunggingkan senyumnya. Yunji tentu saja bisa mendengar pertanyaan Donghae dengan jelas. Yunji sendiri tidak mengerti dengan fungsi otaknya akhir-akhir ini. Berada disekitar Donghae setiap hari membuat Yunji menjadi bukan seperti dirinya. Masih dengan senyuman yang begitu cerah diwajahnya, Yunji membuat coklat hangat untuknya dan Donghae. Suara dentingan sendok teh yang digunakan Yunji untuk mengaduk coklat hangat mengisi keheningan di ruangan itu. Kemudian Yunji meletakkan sendok itu di wastafel dan mengangkat kedua mug di depannya untuk diberikan pada Donghae. Ketika Yunji berbalik, Donghae sudah ada dihadapannya, memandangnya tajam tanpa ekspresi. Yunji mendekati Donghae dan menjulurkan tangan kanannya untuk memberikan mug hitam berisi coklat hangat itu pada Donghae. Sementara mug di tangan kirinya sudah ia dekatkan ke bibirnya, siap untuk diminum. Donghae mendekat sambil menatap ke mug yang di tangan kanan Yunji, lalu Donghae meraih mug itu dan meletakkannya di meja dapur tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan tangan kanannya.

Forget it…

Yunji menatap bingung kearah mug hitam yang diletakkan Donghae di meja dapur lalu menjauhkan mug ditangannya dari bibirnya. Saat Yunji baru akan menoleh, Donghae sudah meraih tengkuknya dan mencium bibirnya. Mata Yunji membelalak kaget. Donghae yang menyadari keterkejutan Yunji segera mengambil mug di tangan Yunji dan meletakkannya juga di meja dapur sebelum mug itu terjatuh ke lantai. Donghae melumat bibir atas dan bawah Yunji bergantian sambil meraih pinggang Yunji mendekat. Kemudian Donghae melepaskan ciumannya lalu memegang kedua bahu Yunji dan menatap mata Yunji perlahan. Yunji masih dalam kondisinya beberapa detik lalu. Matanya masih terbelalak dan kini berkedip cepat.

“Yunji-ya, breath…”, kata Donghae.

Seperti terhipnotis, Yunji langsung menghembuskan nafasnya panjang seperti yang diminta Donghae. Kemudian Yunji menolehkan wajahnya ke kanan menghindari tatapan Donghae. Tidak ada suara diantara mereka. Keduanya terdiam. Donghae masih memegang bahu Yunji kuat dan memandangnya lembut, menunggu reaksi Yunji selanjutnya. Yunji mengernyitkan dahinya kemudian menggigit bibirnya.

“Andwae Yunji-ya, jebal. Bernapaslah…” kata Donghae frustasi melihat Yunji.

What was that?” tanya Yunji akhirnya. Masih tidak melihat lawan bicaranya.

A kiss…”

“Aku tahu Donghae barusan itu…”

“Saranghae…” kata Donghae memotong kalimat Yunji.

“Hah?” akhirnya Yunji menatap Donghae.

“Aku cinta padamu…” Donghae memperjelas ucapannya. “Oh gezz! Sounds so cheesy, right?” Donghae mengernyitkan dahinya.

“Lee Donghae…”

“Ya?”

“Katakan lagi…” pinta Yunji.

Dahi Donghae kembali seperti semula dan sudut bibirnya terangkat. Donghae menolehkan wajahnya kearah lain lalu menghela nafasnya panjang sebelum kembali menatap Yunji tajam.

I love you… I love you… I do love…”

 

“Oh, whatever…”

Yunji meraih tengkuk Donghae dan mencium bibirnya dalam. Donghae yang semula terkejut dengan tindakan tiba-tiba Yunji, akhirnya menyerah kemudian meraih pinggang Yunji dan mendekatkan jarak diantara mereka. Donghae mendorong tubuh Yunji sampai terapit diantara tubuhnya dan meja dapur dibelakang Yunji. Tangan kanan Yunji meraih rambut Donghae dan meremasnya pelan membuat Donghae semakin memperdalam ciumannya. Yunji menggigit pelan bibir bawah Donghae membuat pemiliknya meringis kecil. Sementara kedua tangan Donghae di pinggang Yunji melesak lembut ke dalam kaus Yunji yang sudah terangkat sedikit memperlihatkan kulit punggungnya. Donghae melepas ciuman dibibir Yunji, mendaratkan bibirnya di rahang, leher, kemudian kembali ke bibir Yunji. Lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya yang teredam dalam ciuman mereka.

Good……morning?

Sebuah suara menghentikan aktifitas mereka. Keduanya saling melepaskan dan menatap satu sama lain. Tangan Yunji dipindahkan ke bahu Donghae sementara Donghae menurunkan kaus Yunji lagi. Keduanya mematung memberikan isyarat melalui tatapan masing-masing, bertanya-tanya siapa yang datang pagi-pagi di hari sabtu, disaat yang sangat tidak tepat dan bisa berada di dapur Yunji tanpa mengetuk pintu. Donghae memberikan isyarat untuk melihat siapa tamu tidak diundang itu. Dan benar saja, Luna. Mata Yunji kembali terbelalak. Yunji lupa kalau ia pernah memberi tahu sahabatnya itu kode apartementnya. Yunji menggigit bibirnya dan kembali menatap Donghae sambil melepaskan genggamannya di bahu Donghae.

“Luna…” kata Yunji setengah berbisik pada Donghae.

Damn…” kata Donghae juga setengah berbisik.

Well, Yunji, kau tidak pernah cerita tentang laki-la…”

“Hai…” sapa Donghae.

Donghae membalikkan badannya menatap Luna yang terkejut membuka mulutnya lebar dan mengernyitkan dahinya.

“Lee Donghae!” kata Luna akhirnya dengan nada yang sangat tinggi.

Yes, ma’am…” jawab Donghae ragu.

“Aku pasti salah masuk apartement. I can’t believe it. Oh my God… my head… Oh my God!” Luna berjalan menjauh dari dapur.

Yunji yang panik melihat wajah terkejut Luna segera membawa Luna untuk duduk di ruang TV. Sementara Donghae yang juga ikut panik melihat kedua wanita yang melangkah cepat menjauh segera mengisi gelas dengan air mineral untuk diberikan pada Luna. Sesampainya di ruang TV, Luna berhenti dan kembali membelalakkan matanya terkejut melihat kasur udara tepat di depan TV, dengan dua bantal dan satu selimut besar yang belum sempat dirapikan. Disamping kiri bantal terdekat ada ponsel Yunji, gelas kosong dan sebotol air mineral, sementara tidak jauh dari bantal sebelahnya ada ponsel Donghae dan beberapa toples makanan kecil. Yunji menatap ke arah kasur udara dan Luna bergantian dengan cepat masih dengan wajah paniknya.

“Minumlah, Luna-ya”, kata Donghae yang datang membawa segelas air untuk Luna.

Luna menatap Donghae kemudian mengambil segelas air yang dibawakan Donghae dan meminumnya cepat sambil menepuk pelan dadanya. Luna langsung menenggak seisi gelas lalu menatap kedua sahabatnya bergantian dengan tatapan sangat tajam. Luna menjulurkan tangannya menunjuk kedua sahabat didepannya.

You both… explain all of this… now!” kata Luna.

Now, like now now? Kau tidak ingin tarik napas dulu?” tanya Donghae.

NOW!” kata Luna lagi dengan nada yang jauh lebih tinggi.

“Arasseo!” jawab Yunji terkejut.

“Apa yang baru saja aku lihat di dapur beberapa menit yang lalu?” tanya Luna.

“Aku tidak begitu yakin. Aku rasa kau hanya melihat punggungku dan… Yunji’s hand on my head. Well, that was an interrupted kiss”, Donghae menjelaskan santai.

“LEE DONGHAE!” Yunji berseru sambil meninju pelan perut Donghae.

Ouch! Sakit. Mwo? Luna bertanya apa yang dia lihat beberapa menit lalu di dapur, dan aku memberitahukan yang sebenarnya. Kita memang melakukannya tadi. Apa aku salah?”

But, you don’t need to…

Okay… Kalian berdua, duduk!”

Luna memotong kalimat Yunji. Kedua sahabatnya itu hanya bisa menuruti Luna yang masih memasang wajah galaknya sambil masih saling menyalahkan dengan isyarat mata mereka.

So, Lee Donghae-ssi, what are you doing here in the morning on the weekend?” tanya Luna skeptis.

Well, Luna-ssi, itu adalah pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu beberapa menit lalu di dapur. What on earth that brings you here in the morning on the weekend?” Donghae balas bertanya pada Luna.

“Um… Luna, aku belum sempat…”

“Yunji, stop. Jawab aku, Luna-ssi”, Donghae memotong kalimat Yunji.

You don’t answer mine too…” kata Luna.

Well, aku tinggal disini”, jawab Donghae santai.

“Mwo?” ini sudah kesekian kalinya Luna terkejut.

“Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku”, kata Donghae datar.

“Ya… aku berkunjung ke rumah sahabat aku di hari sabtu untuk santai-santai sesama perempuan, tidak boleh?” tanya Luna.

“Tidak boleh. Karena waktumu sangat tidak tepat. Itu moment yang belum tentu bisa terulang…” Yunji membekap mulut Donghae.

Stop it you both!” kini giliran Yunji yang memotong kalimat mereka.

Keduanya menatap Yunji. Target yang ditatap oleh keempat mata tajam itu tiba-tiba terdiam dan lupa kalimat yang mau diucapkan setelahnya.

“Oke. Luna, Donghae tinggal disini dari beberapa hari… atau minggu… yang lalu. Okay? Aku belum sempat cerita padamu karena masalahnya sedang sangat complicated”, jelas Yunji.

Tiba-tiba Donghae menggigit jari Yunji yang membekap mulutnya. “Ouch! Don’t bite me!” seru Yunji sambil melepaskan tangannya dari mulut Donghae.

“Kau juga menggigitku. Disini…” kata Donghae sambil menunjuk bibirnya.

“……….”

“……….”

Yunji tidak mempedulikan perkataan Donghae dan kembali menatap Luna yang memandang curiga padanya dan Donghae. Luna kembali mengernyitkan dahinya menerka-nerka kebenaran yang sebenarnya terjadi di apartement milik sahabatnya ini.

“Oke aku terima alasannya. Lalu… yang di dapur barusan itu apa? Don’t say it was an interrupted kiss again, Lee Donghae. I know it very well. Jelaskan padaku. Kalian pacaran? Sejak kapan? Kenapa aku juga tidak tahu itu?”

“Tentu kau tidak tahu karna baru terjadi pagi ini. I mean the kiss. Pacaran? Well, thanks God, almost… this morning… sampai akhirnya kau datang dan aku belum sempat menanyakannya. Kau tahu apa yang terjadi tadi malam? Aku sangat sengsara karena gadis ini berada tepat disampingku, tidur, bernapas dan menyentuhku. Kau pasti tahu yang aku rasakan, Luna-ya. Aku seorang laki-laki yang sangat normal…”, jelas Donghae.

Yunji menatap Donghae dengan tatapan tidak percaya. Donghae yang penuh kata sudah kembali. Ia mengatakan semua yang ada di pikirannya tanpa harus memilah-milah kata yang tepat untuk diucapkan terlebih dahulu. Sementara Luna dibuat tertawa mendengar perkataan Donghae, seolah lupa beberapa detik yang lalu ia masih dalam perannya sebagai pihak yang marah karena tidak tahu apa-apa tentang kedua sahabatnya.

“Donghae-ya, kau memalukan…” kata Luna sambil tertawa kecil. “…ah aku kesal padamu. Aku berniat marah padamu karena pagi-pagi berada di apartement sahabatkku dan sedang make out di dapur. Aku bertaruh, kaliain berdua juga pasti baru membuka mata kan? Belum berkunjung ke kamar mandi juga pasti”, Luna tertawa keras sementara kedua sahabatnya memandangnya sambil tersenyum malu.

“Jadi, jadi, bagaimana ceritanya sampai…..you know… di dapur?” tanya Luna masih sambil tertawa kecil mengulang kata ‘di dapur’.

“Aku tidak tahu alasannya. Tadi malam, Yunji mengatakan dia ingin tidur disini. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan menonton NBA, tapi Yunji tetap memaksa. Aku sudah berusaha sangat keras untuk tidak… bagaimana mengatakannya….. seperti itu… kau tahu….. dan intinya, pagi tadi saat aku buka mata, Yunji sedang memperhatikan aku. Dia bangun, duduk, entah mengumpulkan nyawa atau apa, yang jelas matanya terpejam. Suddenly, she kissed me, right here…” kata Donghae sambil menunjuk sudut bibirnya.

“Aku tahu aku salah… tapi setelah itu aku ke dapur untuk membuatkan coklat hangat, well, untuk kita. Baru saja aku mau membawakannya tiba-tiba Donghae….. yeah… yang seperti kau lihat, Luna-ya. Ah sudah sudah… cerita seperti ini sangat tidak seru tahu tidak? Aku malu…”

“Kenapa kau malu, Yunji-ya? Semua sudah terlanjur….. hahaha”, tanya Luna menggoda.

Sore Hari di Apartemen

January 28th, 2008

Suasana diantara kita mulai berbeda. Aku tahu apa yang terjadi padamu, Ahn Yunji. Semua aku tahu. Tapi entah mengapa aku tidak bisa bahkan satu katapun mengatakannya padamu. Kita selalu berbicara akan banyak hal. Semua kata dapat menyatu dengan mudah. Sejak suasana ini berubah abu-abu, aku bahkan kesulitan merangkai kataku untuk ku sampaikan padamu. Suasana diantara kita seakan terpengaruh oleh suasana hatimu yang begitu pilu. Kau buku terbuka ku. Begitu mudah membacamu. Bahkan tanpa harus kau katakan, aku mampu membacamu. Aku selalu mengingat dengan jelas dipikiranku, masa-masa ketika kau tersenyum lebar, matamu memancarkan sinar yang tak biasa dan dengan semangat kau ceritakan kisah harimu padaku. Hari ini, matamu bahkan enggan menatapku. Seketika aku merasa kau sudah memasang sebuah gembok besar yang kuat. Buku itu tidak terbuka lagi. Bahkan sampulnya pun tidak tampak jelas. Aku sadar betul, Yunji-ya… kau menjauh dariku untuk sebab yang mungkin aku tidak tahu…

Setelah mendapatkan penjelasan dari kedua sahabatnya dan gagal membuat mereka menemani nya berjalan-jalan, akhirnya Luna memilih untuk pergi sendirian. Kedua sahabatnya itu sedang tidak dalam keadaan yang menyenangkan untuk diajak keluar rumah. Berakhirlah keadaan di apartemen sore itu dipenuhi oleh atmosfer romansa Donghae dan Yunji. Keduanya duduk bersama di sofa sambil menonton siaran televisi yang lebih sering mereka hiraukan. Yunji merebahkan tubuhnya dalam rengkuhan Donghae, kemudian meletakkan kepala nya di bahu Donghae. Kedua kaki Yunji dinaikkan keatas pangkuan Donghae. Yunji memejamkan matanya, menghirup dalam aroma tubuh sehabis mandi Donghae yang akhir-akhir ini seringkali melumpuhkan kerja sarafnya. Sesekali Yunji menempelkan hidungnya di tulang selangka laki-laki itu, yang akhirnya membuat Donghae mengalihkan pandangannya dari televisi untuk menatap Yunji.

Donghae pun menarik tubuh Yunji mendekat padanya. Saat ini siaran televisi sudah tidak lagi menarik untuk keduanya. Yunji melingkarkan tangan nya di pinggang Donghae, merasakan otot-otot keras Donghae dibalik kaosnya. Dahi Yunji menyentuh tepat di rahang Donghae, membuat Donghae dapat merasakan helaan napas Yunji dikulitnya. Donghae meletakkan tangan kanan nya dikepala Yunji, kemudian membelai rambut Yunji pelan. Sementara tangan kirinya membelai lengan Yunji lembut, seolah lengan Yunji adalah hal yang sangat rapuh. Akhirnya Donghae melonggarkan rengkuhannya pada Yunji, membuat Yunji membuka matanya dan menatap Donghae. Mata keduanya bertemu, lalu senyuman tipis merekah dari bibir keduanya. Yunji membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu. Kemudian Yunji menggigit pelan bibir bawahnya, berpikir apa yang ingin dikatakannya. Melihat itu, tangan kiri Donghae yang semula berada di lengan Yunji, berpindah ke dagu Yunji untuk melepaskan gigitan di bibir Yunji. Donghae mengusap pelan bibir Yunji dengan ibu jarinya, kemudian di detik berikutnya ibu jari itu sudah digantikan oleh bibir Donghae yang mengecup lembut bibir Yunji. Keduanya memejamkan mata, sambil saling memberikan kecupan satu sama lain. Kemudian keduanya saling melepaskan dan menghela napas panjang.

This is crazy…” bisik Yunji masih dengan mata terpejamnya.

“Aku tidak akan menyangkalnya. Kau tahu betul aku pernah mengatakannya. Ada bersama mu membuatku gila”, kata Donghae.

Yunji membuka matanya, menjauhkan dahinya dari dahi Donghae, kemudian menatap wajah laki-laki dihadapannya dengan tatapan lembut khasnya.

“Aku pernah membayangkan ini sebelumnya. Hanya saja, aku tidak pernah mengira khayalan ku menjadi kenyataan, Yunji-ya…” kata Donghae sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau banyak mengkhayalkan aku rupanya. Kau yakin khayalan mu hanya sebatas ini?” Tanya Yunji menggoda Donghae.

Donghae mengecup singkat bibir Yunji. “Tentu tidak. Kau kenal aku dengan baik. Tapi aku rasa, khayalan ku sedikit berbeda dari dugaanmu”.

Yunji melepaskan pelukannya pada pinggang Donghae, meletakkan tangan kirinya di dada Donghae dan tangan kanannya di pipi Donghae. Ia mengusap pipi Donghae dengan ibu jarinya. Donghae pun kembali memejamkan matanya, meraih tangan Yunji di pipinya dan menciumnya. Donghae kembali membuka matanya dan menatap manik mata berwarna Hazel milik Yunji. Ia menggenggam tangan Yunji.

“Aku pasti benar-benar sudah gila sekarang…” kata Yunji berbisik. “Katakan padaku bagaimana cara agar aku bisa menjauhkan diriku darimu.”

“Kau tidak perlu menjauh, sayang…” jawab Donghae.

“Tentu aku perlu…” kini giliran Yunji yang mengecup singkat bibir Donghae. “Kita bekerja di lantai yang berbeda, Lee Donghae-ssi. Aku tentu perlu menjauh sedikit darimu. Tapi entah kenapa aku ragu bisa melakukannya”.

“Kau harus belajar menahannya, Ahn Yunji-ssi. Aku sudah expert dalam hal itu. Setidaknya selama beberapa tahun terakhir. Dan, bagaimana dengan gadis-gadis yang mengejarku? Kau juga bisa menahannya, kan?” tanya Donghae menggoda Yunji.

Yunji mendekatkan tubuhnya, mengecup pelan bibir Donghae, kemudian memeluknya. Yunji meletakkan hidungnya di bahu Donghae, menghirup aroma Donghae sejenak, kemudian menggantikannya dengan dagunya.

“Aku tidak tahu kalau seorang Ahn Yunji menyukai ku seperti ini…” kata Donghae pelan.

“Aku selalu menyukai mu, Lee Donghae. Hanya saja, beberapa bulan terakhir aku merasa perasaan ini sudah diluar batas perasaan antar teman. Dan… bisakah kau berhenti menatap Victoria dengan tatapan itu?”

“Memangnya ada apa dengan tatapanku ke Victoria?” tanya Donghae bingung.

“Kau menatapnya seolah dia adalah bidadari yang turun dari kayangan. Aku tahu dia sangat cantik. Aku sangat mengakui itu. Bahkan terkadang aku iri padanya. Tapi saat melihatmu menatapnya dengan tatapan itu, membuatku membencinya. Kau juga baru tahu ini kan?”

“Kau selalu mengejutkanku, Ahn Yunji. Baik. Tidak ada tatapan pada Victoria lagi. Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan, Nona Ahn Yunji?” tanya Donghae sambil mengeratkan pelukannya.

Yunji tidak menjawab. Ia justru mencium bahu Donghae lagi kemudian menghela napas panjang. Donghae yang merasakan itu mengerutkan keningnya, menimbang-nimbang apa yang sedang dipikirkan oleh Yunji. Donghae membelai punggung Yunji. Tapi Yunji tidak juga mengatakan apapun.

“Hanya….. apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku, jangan melepasku. Aku tidak ingin yang lain”, jawab Yunji akhirnya.

“Setelah bertahun-tahun aku baru mendapatkanmu, bagaimana bisa aku melepasmu begitu saja?”

“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Donghae-ya…”

“Kalau begitu, ada kemungkinan kau juga akan meninggalkanku, begitu?”

“Aku akan bersama mu sampai kau tidak mengingingkanku lagi. Aku ahli dalam hal itu…”

Donghae terdiam. Ucapan Yunji seolah menjelaskan hal yang pernah ia lakukan dulu. Yunji selalu bertahan dengan seseorang sampai orang itu tidak menginginkannya lagi. Donghae teringat semua cerita Yunji. Ia terlalu sering ditinggalkan. Ia selalu menjadi yang ditinggalkan. Tapi…..

March 2nd, 2008

Hari saat aku kehilanganmu.

Kau benar-benar melakukannya. Kau pergi dariku. Tanpa kata. Tanpa salam perpisahan. Tanpa bertemu denganku. Bahkan kau tidak meninggalkan pesan apapun padaku. Kau benar-benar pergi dariku. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali, Yunji-ya? Aku meninggalkan semua hal untukmu. Aku melakukan apapun untuk membuatmu selalu berada disisiku. Tapi bahkan semua itu tidak cukup untuk membuatmu tinggal. Aku tidak dapat memikirkan apapun lagi, Yunji-ya. ‘Aku kehilanganmu’. Kata-kata itu seolah berputar diotakku, membuatku kehilangan seleraku, kehilangan keseimbanganku, dan kehilangan napasku. Bisakah aku hidup tanpamu? Tolong katakan padaku Yunji-ya, bisakah aku?

Yunji meninggalkannya. Yunji tidak ditinggalkan. Yunji pernah meninggalkan seseorang. Yunji meninggalkan Choi Siwon. Sebersit tanya terlintas dipikiran Donghae. Pertanyaan yang sejak lama mengganggunya. Siapakah Choi Siwon? Dan apa arti Choi Siwon dalam hidup Yunji?

“Donghae-ya….. Nan neol saranghanabwa… (Donghae-ya, aku pikir aku mencintaimu…)” kata Yunji memecahkan keheningan diantara mereka. “Cheoum-iya.. ireon gamjeong… (Ini pertama kalinya… perasaan seperti ini…)”

Donghae membelalakkan matanya. Ia tidak bisa mengatakan apapun. Pertanyaan itu semakin memenuhi pikiran Donghae. Tapi ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya pada Yunji. Walaupun Yunji baru saja menyatakan perasaannya pada Donghae, tapi Donghae tetap tidak memiliki kepercayaan diri itu. Ia tidak memiliki kesiapan untuk mendengarkan penjelasan Yunji tentang laki-laki itu.

“Lee Donghae, tolong katakan sesuatu. Aku ingin mendengar suara mu…”

“Sejak kapan?”

“Sejak kau menjadi satu-satunya orang yang selalu ada disisiku. Sejak kau menciumku di kubikel hari itu. Sejak kau memelukku dalam tidurku malam itu. Aku tidak yakin. Aku tidak menemukan jawabannya…”

“Kenapa kau baru mengatakannya padaku?” Tanya Donghae pelan.

“Karena aku tidak ingin Kim Hyuna merebutmu dariku. Semua gadis di Frente Corp belum pernah ada yang menjadi kekasihmu. Tapi Kim Hyuna….. dia mantanmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padanya saat itu. Di hari pertama aku mendengar namanya darimu, aku tidak merasakan apapun. Tapi kemudian saat kau mulai bertemu dengannya, Kim Hyuna datang ke kantor, aku tidak sengaja mendengar perlakuan mu padanya berubah. Perlakuan padanya lebih baik dari sebelumnya. Saat itu aku merasa cemas. Kemudian datang seorang asisten perempuan bernama Park Choa. Dia cantik, pintar, dan sangat baik. Kau menyukainya…sebagai kolega. But still, I found myself hate that thing. Lalu di hari dimana pertama kalinya kau meninggikan suaramu padaku, didepan Kim Hyuna dan Choa, aku merasa takut. Kau bilang aku pengganggu. Aku takut kau akan pergi dariku karena aku mengganggu mu. Aku….. menemukan ketakutan itu lagi, setelah bertahun lamanya rasa itu tidak pernah ku rasakan. Saranghae, Donghae-ya… geuraeseo, jebal nal tteonajima… (Aku mencintaimu, Donghae-ya… jadi, aku mohon jangan tinggalkan aku…)”

“Sssttt…” Donghae melepaskan pelukan Yunji, kemudian memegang bahu Yunji, meminta Yunji memandangannya. “Harus berapa kali aku meyakinkanmu, Yunji-ya… aku tidak akan meninggalkanmu…”

“Mereka juga mengatakan itu pada awalnya, Donghae-ya…”

“Aku sangat mencintaimu, Ahn Yunji. Dan aku berjanji dengan nyawaku, aku tidak akan meninggalkanmu…”

“Walau apapun yang terjadi?” tanya Yunji.

“Apapun yang terjadi… sampai kau yang memintaku pergi darimu”.

“Jangan tinggalkan aku meski aku yang memintamu. Aku mohon… yaksokhaejwo… (berjanjilah…)”

“Aku berjanji”.

Donghae mencium kening Yunji, lalu turun ke kedua matanya, dan berakhir di bibirnya. Tiba-tiba bel berbunyi. Keduanya saling melepaskan dan menatap.

“Biar aku yang bukakan…” kata Donghae, dijawab dengan anggukkan dari Yunji.

Donghae bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu dan menemukan Kim Hyuna berdiri disana dengan senyumannya. Donghae mengerutkan keningnya melihat kedatangan Hyuna.

“Annyeong…” kata Hyuna.

“Ada apa kau kesini?” tanya Donghae dingin.

“Mengunjungi kalian. Dan… saat dalam perjalanan kesini aku bertemu dengan seseorang di lift. Ia menuju tempat yang sama…” jelas Hyuna.

Kemudian muncul-lah seseorang dari balik pintu. Seorang pria dengan tubuh tinggi menjulang, berisi, dengan otot yang tercetak jelas dibalik kemejanya. Pria itu membuka kacamata nya, dan memberikan senyum pada Donghae. Kening Donghae kembali berkerut, kini semakin dalam. Donghae merasa pernah bertemu dengan pria ini. Oh, pria yang di supermarket. Tapi kenapa dia ada disini? Pikir Donghae.

“Donghae-ya… siapa yang datang?” tanya Yunji dari dalam apartemen sambil berjalan menghampiri Donghae.

Yunji muncul beberapa detik kemudian, yang disambut dengan senyuman oleh Hyuna. Donghae menoleh dan menjulurkan tangannya ingin meraih tangan Yunji. Saat sampai tepat disebelah Donghae, tiba-tiba Yunji meraih lengan bisep Donghae dan tercekat. Wajahnya berubah pucat dan pegangannya di lengan Donghae berubah menjadi remasan yang cukup kuat.

“Lama tidak bertemu, Yunji-ya…” kata pria yang datang bersama Hyuna itu.

“Kau….. Choi Siwon…”

TBC

Note:

Jeng jeeeeng… To be continued disaat yang mengesalkan ya? Mian… mian… Choi Siwon kembali. Kali ini sepaket dengan Hyuna disaat Donghae dan Yunji sudah memulai hubungan mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tetap tunggu part selanjutnya ya…

Advertisements

13 thoughts on “The Untold Story between Us Part 6

  1. AAAAAAAA……!!!!!! bnar” menjengklkan…. brsmbung d saat yg sangat” gk tpat… ah author mmang pling bsa buat para readernya stressss…… but it’s ok.. no problem…!! aslkan ttap lnjut smpai ending ok thorr…!! 😉
    smoga ajh donghae ttap stia pada jnji.x… n knpa jga hyuna n siwon dtng pda saat gk tpat …. blum jg shari mrka jdian… udh ad lg mslh yg dtang. . .!!!
    ok ttap smngat thor… !!! keep writing. .!!:-D 😀 😀

    Like

  2. mash bngung ma hati yunji… Klo donghae dah kliatn dy suka n cinta ma yunji. Klo yunji kya’a mash abu2, wlw dy bilng cinta. Wjar klo donghae mash sangsi ma yunji palgi skrang siwon nongol. Donghae-ya keep hwaitin’…. Perthankn n bwt yunji g mau pisah….
    Bwt author thanks bwt ff’a n keep writn’. Dtnggu karya2 slnjut’a….

    Like

  3. Waaa yunji knp bisa semacam trauma gtu pas hbs denger cerita dr kyu??? Oh ternyata ahjussi beranak 2 yg dimaksud donghae itu siwon…wkwkwk😂 Penasaran sm endingnya. Semangat authornim~~~

    Like

  4. Huwaaaa, aku nyesel baru tau dan baru baca cerita ini sekarang, kenapa gak dari dulu aja -.-
    Seru banget soalnya, bikin penasaran 😩
    Tapi kenapa tiba2 siwon dateng? Perasaannya yunji ke siwon sebenernya gimana sih? Kan sebelumnya dia milih kyuhyun, tapi kenapa pas ketemu siwon bisa sampe shock banget gitu? Sekedar penyesalan yg terlalu besar ato jangan2 malah suka? tapi kalo suka kok siwon nya ditolak hehee 😂
    Authornim, semangat nulisnya, ditunggu kelanjutannya buat jawab rasa penasaranku😄😄

    Like

  5. wahh siwon akhirnya muncul… Tapi disaat yang ga tepat! Disaat yunji sama donghae nikmatin masa-masa romansa mereka. Tapi semoga yunji-donghae bisa menghadapi si hyuna sama siwon.. Apapun yg terjadi.

    Like

  6. akhir’y donghae sama yunji bersatu jg,,,dari dulu kek saling ju”r,,,,btw mau apa Siwon k apartemen yunji,,,jng bilang mau balik sm yunji,,,please jngn pisahkan donghae sama yunji

    Like

  7. akhir’y donghae sama yunji bersatu jg,,,dari dulu kek saling ju”r,,,,btw mau apa Siwon k apartemen yunji,,,jng bilang mau balik sm yunji,,,please jngn pisahkan don

    Like

  8. Aduuuhhhh kenapa sih disaat yunji sama donghae baru mau mulai hubungan mereka, choi siwon malah dateng diantara mereka belum lagi kim hyuna yang siap kapan aja ngerebut donghae dari tangan yunji.
    Buat yunji sama donghae semangat yaa 🙂 kalian harus bisa ngelewarin cobaan ini 😀
    Di tunggu ka kelanjutan dari part selanjutnya, setiap hari pasti selalu cek email supaya ga ketinggalan partnya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s