The Untold Story between Us Part 5

– The Untold Story between Us (Part 5) –

 

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:   Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

Other Cast:

Kim Hyuna, Kim Myungsoo, Park Choa, Cho Kyuhyun, etc.

Preface:

Annyeonghaseyo. FF ini adalah hasil pemikiran dan karyaku sendiri. Tapi, sebelumnya author ingin memohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Author jujur, ff ini sudah author tulis dari tahun 2014, tapi baru sekarang author publish. Dan, author juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi. Selamat membaca…

 

 

The Untold Story between Us Part 5

 

 

Meeting selesai pukul 2 siang. Kepala bagian memberikan waktu istirahat untuk Donghae dan Choa. Akhirnya mereka makan siang bersama di cafetaria. Saat menikmati makan siangnya, seorang penjual makanan disana berbisik pada Donghae, ‘kekasih Donghae-ssi tadi datang. Donghae-ssi tidak ada, dia pulang’. Hyuna memang selalu datang setiap jam makan siang. Donghae terpaksa bertemu dengannya dua kali minggu ini karena Yunji bertugas keluar kantor. Hyuna menepati perkataannya untuk tidak berhenti.

 

“Saya boleh Tanya sesuatu, sunbae?” Choa membuka percakapan.

 

“Tentu. Katakan…”

 

“Yunji itu siapa Donghae sunbae?”

 

“Apa teorimu? Dugaanmu?”

 

“Sahabat. Teman yang benar-benar dekat. Tetangga. Teman kecil. Pacar?”

 

“Hampir semua benar”.

 

Choa tidak melanjutkan pertanyaannya. Kemungkinan jawaban yang salah adalah tetangga. Tidak akan sedekat itu jika hanya tetangga. Jawaban yang lain masih bisa dihubungkan. Tidak ada percakapan setelah itu. Sampai saat memasuki lobby Choa kembali bertanya pada Donghae.

 

“Apa Yunji sunbae ditatap seperti itu juga? Oleh mereka”.

 

“Lebih parah. Yunji itu perempuan yang paling mereka benci. Kalau kata Yunji, mereka bisa saja menculik dia lalu dijadikan pajangan di depan lift. Mendengar kata diculik saja aku sudah merinding, Choa-ya. Teori Yunji selalu berlebihan”.

 

Suasana kembali hening. Dua pertanyaan itu sudah memberikan jawaban jelas untuk Choa. Hubungan mereka bukan hanya teman. Walaupun ternyata hanya sebatas itu, Donghae jelas menyukai Yunji. Choa melenguh berat. Patah hati. Awalnya jika Donghae juga menyukainya, ia akan berusaha melawan siapapun di Frente Corp yang menghalangi hubungan mereka. Namun kenyataannya justru ialah yang diawasi dengan cara seperti itu. Bahkan mereka tidak memperhatikan Yunji.

 

####

 

 

“Wah… Akhirnya hari ini selesai. Lelaaaah. Ingin cepat pulang” kata Yunji.

 

“Aku duluan bos Luna sunbae yang cantik. Aku duluan Yunji-ya!” Myungsoo berpamitan dan berlalu menuju lift.

 

“Besok jum’at dan pekerjaan kita tinggal sedikit. Senangnya…” Kata Yunji lagi sambil memutar kursinya. “Omo! Lee Donghae! Berapa lama kau disana?” Tanya Yunji yang melihat Donghae berdiri di depan lift.

 

“Lima menit. Ayo kita pulang” ajak Donghae malas.

 

“Luna-ya, meonjeo galkke! Donghae-ya, gwaenchanha?” tanya Yunji.

 

“Um…” Donghae mengangguk.

 

Yunji terus memperhatikan Donghae di dalam lift. Raut wajah Donghae sedikit aneh sejak di depan pintu lift tadi. Ekspresi lelahnya bercampur dengan ekspresi lain yang tidak Yunji mengerti. Sementara itu Donghae terhanyut dengan pikirannya. Pembicaraan nya dengan Yunji siang tadi tentang rekan baru Yunji yang disebut ‘Boy’, suara laki-laki itu yang memanggil Yunji santai saat Donghae menelfonnya dan senyum merekah dari laki-laki itu beberapa menit lalu saat mereka berpapasan di depan lift. Suara laki-laki itu saat mengulang menyebutkan nama Yunji pelan membuatnya benar-benar terganggu. Raut wajah cerahnya saat ingin menjemput Yunji hilang seketika kembali ke dalam lift bersama laki-laki itu. Donghae menyesali tindakannya. Seharusnya ia tidak perlu menjemput Yunji ke lantai 8 dan menunggu di lobby. Lebih baik bertemu dengan Sunhwa atau bonusnya mengobrol dengan Shindong ahjussi daripada berpapasan dengan orang itu.

 

“Jeongmal?” tanya Yunji yang sejak tadi memperhatikan Donghae.

 

Suara Yunji menyadarkan Donghae dari pikiran muramnya. “Um? Ya. Lelah mungkin”.

 

“Kalau begitu aku yang menyetir”, kata Yunji.

 

“Tidak menerima bantahan”, kata Yunji lagi sebelum Donghae menolaknya. Donghae hanya mengangguk setuju.

 

 

Di Apartemen

Sesampainya di apartment, Donghae langsung duduk di sofa, membuka sepatu dan kemeja lalu menyandarkan kepalanya. Nafas nya begitu berat dan matanya terpejam. Yunji yang melihat kondisi Donghae memutuskan untuk tidak mengganggu nya dulu dan segera membersihkan dirinya sebelum menyiapkan makan malam untuk mereka. Menurut Yunji, disaat seperti itu sebaiknya Donghae tidak diganggu oleh apapun. Karena reaksi yang akan dimunculkan Donghae berbeda. Donghae mungkin akan marah atau mungkin akan tetap diam. Yunji lebih suka jika ia dimarahi oleh Donghae daripada berada disekitar Donghae tanpa mendengar satu katapun darinya.

 

“Minum air hangat dulu, Donghae-ya. Agar lebih rileks”, kata Yunji sambil memberikan secangkir air hangat pada Donghae.

 

Donghae mengangkat kepalanya dan menerima cangkir yang diberikan Yunji sambil tersenyum tipis. Dilihatnya wajah Yunji yang menunjukkan kekhawatiran padanya. Seperti biasanya, kekhawatiran Yunji tidak pernah bisa disembunyikan dan cenderung berlebihan. Donghae pun menyadari lipatan di dahi Yunji yang semakin memperkuat ekspresi nya. Setelah meneguk air hangat yang diberikan oleh Yunji, Donghae membalikkan badannya membelakangi Yunji.

 

“Tolong pijat aku, Yunji-ya”, kata Donghae dengan nada riang khasnya.

 

“Hah?”

 

Yunji yang sejak tadi khawatir hanya bisa ber-hah mendengar perubahan nada bicara Donghae. Seingat Yunji sebelum ia memberikan secangkir air hangat tadi, Donghae masih dengan posisi lelahnya yang menimbulkan hawa muram ke seluruh sudut apartement nya. Akhirnya Yunji mendaratkan pijatan-pijatannya di bahu Donghae dengan kedua tangan mahirnya. Sesekali Yunji melirik ke arah Donghae untuk memastikan itu bukan cara Donghae menyembunyikan wajah muramnya. Ternyata Yunji salah. Yang dikhawatirkan justru sedang sangat menikmati pijatannya.

 

“Hari ini banyak pekerjaan? Kau terlihat sangat muram. Mukamu abu-abu”, tanya Yunji akhirnya.

 

“Lumayan. Ternyata tadi meeting dengan bos besar juga. Pertama kalinya untuk Choa. Jadi mungkin dia tidak siap lalu gugup. Presentasi nya agak berantakan. Aku sebagai senior pembimbingnya jadi kena tegur”, jelas Donghae.

 

Semua yang diceritakan Donghae memang benar. Tapi Donghae bukan tipe orang serius yang terlalu memikirkan teguran atasan. Baginya itu komentar membangun yang bisa mengubahnya. Ia juga tidak menyalahkan Choa. Ia sangat santai dengan berbagai masalah. Bahkan saat makan siang bersama Choa siang tadi Donghae sudah melupakan sikap tidak mengenakkan atasannya. Laki-laki di lantai 8 itu yang membuatnya begitu muram hari ini. Kemuraman itu membuka pintu gudang lelah yang menyimpan semua kelelahan Donghae beberapa hari ini. Rasa lelah itu bercampur dengan hamburan isi kotak sabar nya yang selalu digunakan untuk menyimpan penat setiap menghadapi sikap Victoria. Semua hal itu akhirnya berkumpul berputar mengalir di seluruh tubuhnya. Membuat seluruh sarafnya lemas dan tidak sanggup menahannya.

 

Pijatan lembut Yunji dan aroma sabun khasnya menjadi penenang yang sangat manjur disaat seperti ini. Aroma lily dari tubuh Yunji seperti menyelinap masuk kedalam pembuluh darahnya dan menenangkan semua keributan disana. Tubuhnya begitu tenang saat ini. Terlebih dengan keadaan ruangan yang sangat tenang dengan lampu yang diredupkan dan alunan music bossanova.

 

Namun tepat dipusat tubuhnya, terjadi pertandingan balap yang begitu ramai. Donghae merasakan seperti ada sekawanan kuda yang sedang digiring berlari menuju kandangnya. Mereka berlari begitu cepat sehingga menimbulkan suara yang begitu ramai serta getaran yang begitu kuat. Hal itu membuyarkan konsentrasi Donghae beberapa waktu. Ia kembali menghela nafasnya dalam dan membangun kembali tembok kandang dengan pondasi yang kuat. Namun sesuatu menghancurkannya begitu saja. Yunji memeluk tubuhnya yang gemetar dan menghembuskan nafasnya tepat dibahunya.

 

“Gwaenchanha… Kau pasti bisa memperbaikinya. Mungkin Choa belum siap saja”, kata Yunji menenangkan.

 

Yunji semakin mempererat pelukannya dan menepuk-nepuk bahu kanan Donghae. Pelukan Yunji begitu hangat dan tulus. Donghae pun menyandarkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di bahu Yunji. Ia memejamkan matanya sambil mengatur frekuensi napasnya yang mungkin akan berhenti jika Yunji selalu melakukan tindakan seperti ini secara tiba-tiba.

 

“Semua tenagaku hilang rasanya”, kata Donghae memecah keheningan.

 

“Mau aku pijat lagi?” Tanya Yunji.

 

“Bisa kita tetep seperti ini beberapa menit… Atau jam? Rasanya aku bisa merasakan setiap organku bekerja lagi dalam posisi ini”.

 

“Apa yang kau rasakan? Ceritakan padaku. Aku akan mendengarkan…”, kata Yunji.

 

“Kaki aku sangat lemas seperti kekuatannya lenyap begitu saja, tubuhku lelah seperti yang kau tahu, kepala ku menemukan sandaran yang tepat, dan ada sekumpulan kuda yang balapan disini, tepat dijantungku”, Donghae menjelaskan.

 

“Karena teguran siang tadi?” tanya Yunji.

 

“Sudah aku lupakann beberapa jam lalu. Pertama mungkin karena deadline gila ini. Lalu kedatangan Hyuna hampir setiap hari yang cukup meneror. Dan pastinya tatapan sinis Victoria dan lainnya ke rekan kerja baruku. Aku mencoba untuk tidak peduli. Ternyata tidak bisa. Choa terlalu dini dijadikan musuh mereka”.

 

“Kau suka padanya?” tanya Yunji akhirnya.

 

“Siapa yang kau maksud?”

 

“Rekan barumu.”

 

“Choa? Tentu saja. Dia bekerja dengan baik. Dan dia menerima perlakuan Victoria tanpa mengeluh. Choa juga berbeda. Tidak suka membicarakan orang lain.”

 

“Begitu ya?”

 

Wait… Bukan ‘suka’ seperti dugaanmu”, kata Donghae sambil mengetuk dahi Yunji pelan dengan telunjuknya.

 

“Memangnya kau tahu apa dugaanku?”

 

“Ahn Yunji… Tahap pura-pura diantara kita sudah lewat bertahun lalu. Kau tidak pandai berbohong padaku”.

 

Yunji hanya menghela nafasnya pelan. Suasana menjadi hening. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Donghae membenarkan letak kepalanya dan memejamkan matanya lagi. Detak jantung Donghae kembali seperti semula. Belaian tangan Yunji dirambutnya membawanya ke pusat ketenangan yang baru ditemukannya.

 

“Kau mengingatkan aku pada seseorang”, kata Yunji memecah keheningan.

 

Donghae membuka matanya. Hanya satu orang yang diingatnya, laki-laki dalam catatan biru itu. Pikirannya melayang menebak rupa laki-laki yang tidak diketahuinya itu. Bagaimana sosoknya, suaranya, cara bicaranya, caranya berjalan, wajahnya, sikapnya, dan perasaannya pada Yunji. Akhirnya sampai pada pertanyaan apakah semua yang Yunji lakukan pada Donghae semata-mata karena kemiripan mereka. Kemudian Donghae menghela nafas panjang.

 

“Siapa?” tanya Donghae. Pertanyaan itu meluncur begitu saja sekedar menanggapi perkataan Yunji. Donghae tidak benar-benar ingin tahu.

 

“Appa…”

 

Tebakannya salah. Donghae mengingatkan Yunji pada sosok ayahnya. Donghae pernah melihat ayah Yunji satu kesempatan. Saat itu situasinya tidak terlalu baik. Ayahnya memaksa Yunji kembali ke rumah, berhenti dari pekerjaannya dan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Yunji bersikeras menolak permintaan appanya. Lalu ayahnya mendaratkan tamparan di pipi kanan anak perempuan termudanya.

 

“Bukan ingatan sikap buruknya. Kau mengingatkan aku pada sikap appa saat aku kecil. Badannya yang tinggi dan tegap selalu membuatku kagum padanya. Sesekali appa pulang ke rumah dalam keadaan sepertimu sekarang. Muram, lelah dan diam. Aku, Ye Eun eonni dan Youngjae oppa hanya memperhatikan appa dari jauh. Hawa yang dibawa appa ke rumah membuat kami takut untuk mendekat. Takut dimarahi kalau dianggap mengganggu. Hanya eomma yang berhasil menenangkann appa dan mengembalikan senyumnya. Appa selalu bilang, ‘eomma sangat penyayang disaat seperti itu, membuat jantung appa berdebar-debar’. Itu dulu. Sebelum Youngjae oppa memutuskan keluar dari rumah. Sebelum keadaan disana menjadi muram bahkan tanpa kemuraman appa sepulang kerja”.

 

“Kau rindu padanya?”

 

“Sedikit. Hanya rindu melihat wajahnya. Aku selalu tahu kabar appa lewat eomma. Appa baik-baik saja sepertinya. Setelah Ye Eun eonni menikah dengan pilihan appa dan punya anak laki-laki, suasana hati appa membaik. Aku sedikit merasa bersalah pada eonni. Eonni sudah punya pacar waktu itu. Appa dan eomma setuju dengan hubungan mereka. Tapi aku mengacaukan. Appa tiba-tiba berubah pikiran. Aku bertengkar hebat dengan eonni dan oppa saat itu. Mereka benar-benar kesel. Aku menghancurkan hati eonni… dan oppa semakin tidak mau pulang dalam keadaan itu. Dua minggu aku putus komunikasi dengan keluarga. Sampai di hari pernikahan, eonni tersenyum, memelukku dan mengatakan aku melakukan hal yang benar. Sampai hari ini aku tidak tahu apa maksud eonni, dan belum melihat wajah Appa lagi.”

 

“Apa keberadaan aku disini mengobati rasa rindumu?”

 

“Sedikit. Tapi tidak juga. Karena kau lebih tampan. Perempuan lain pasti akan bilang appa mereka laki-laki paling tampan di dunia. Tapi menurutku kau lebih tampan”.

 

“Mengecewakanmu?” tanya Donghae sambil tertawa pelan.

 

“Lumayan. Karena terpaksa aku harus membaginya dengan yang lain”.

 

Donghae tidak menanggapi perkataan Yunji. Semua kata yang disebutkannya lagi-lagi membuat Donghae berpikir. Donghae tidak bisa mengartikan dengan benar maksud sebenarnya dari perkataan Yunji. Intonasi yang dibuatnya begitu mengecoh. Tidak ada keyakinan yang bisa ditangkap Donghae. Seolah Yunji sedang bergurau untuk menghiburnya. Seolah Yunji memainkan lagi perannya walau hanya ada mereka berdua disana.

 

“Aku harap kau tetap disini. Paling tidak aku tidak perlu berbagi pada siapapun disini”, kata Yunji dengan nada jujur didalamnya.

 

 

At Frente Corp

Hari yang ditunggu setiap karyawan Frente Corp akhirnya tiba. Jum’at. Hari dimana waktu bekerja cukup singkat. Hari dimana suasana akhir pekan sudah terasa. Hari dimana semua pekerjaan akan diletakkan dan ditinggalkan sementara di setiap kubikel yang ada. Hari yang cukup tenang untuk Yunji, karena tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun hari itu justru akan menjadi hari berat untuk Donghae. Karena ia harus segera menyelesaikan revisi yang diminta atasannya kemarin. Dengan bantuan Choa, Donghae memperbaiki setiap kesalahan yang telah dikoreksi. Choa merasa bersalah pada Donghae yang menerima teguran kemarin karena dirinya. Karena itu, Choa memutuskan untuk mengacuhkan apapun tanggapan seniornya saat melihat ia dan Donghae bekerja begitu intens. Ia bahkan tidak sempat lagi memikirkan untuk menjaga jarak dengan Donghae. Ia hanya memikirkan untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum sore hari. Beberapa kali sindiran didengar Choa dari seberang kubikel Donghae, tempat Victoria. Suara nyaring Hyorin juga ikut mengimbangi sindiran Victoria yang tidak ada hentinya. Namun dengan kesibukan dan batas waktu yang mereka miliki, Choa memutuskan mengacuhkannya.

 

Ditengah kesibukan Donghae dan Choa, Hyuna muncul di ruangan itu. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, namun Donghae dan Choa masih berkutat dengan pekerjaan mereka. Bahkan Victoria dan yang lainnya sudah lenyap sejak beberapa menit yang lalu. Hyuna menghampiri kubikel Donghae dan memperhatikan wajah Donghae. Pakaian yang dikenakannya sempat menarik perhatian setiap mata laki-laki yang berpapasan dengannya. Hyuna senang akan hal itu. Ia cukup membanggakan kesempurnaan fisiknya. Dengan gaun maroon selututnya, ia memperlihatkan keindahan kaki jenjangnya. Namun cukup lama berdiri di depan sebuah kubikel, sang pemilik kubikel justru tidak sedetikpun menoleh padanya. Kertas-kertas dihadapannya jauh lebih menarik perhatiannya. Hyuna yang bosan menunggu hanya bisa berdecak kesal. Dilambaikan tangannya tepat didepan wajah Donghae yang akhirnya menoleh pada si pemilik tangan itu. Donghae mengerutkan keningnya dan memandang Hyuna. Tidak ada kata yang diucapkan Donghae, hanya memandang Hyuna.

 

“Kau lupa cara menyapa?” tanya Hyuna.

 

“Kalau kau kesini hanya untuk disapa, Hai. Cukup? Aku tidak punya waktu untuk hal yang lain.”

 

Donghae kembali tenggelam membaca tiap lembar kertas ditangannya. Sesekali mengusap tengkuknya, lalu menyanggah kepalanya dengan tangan kanannya. Hyuna masih berdiri memperhatikan Donghae heran. Penampilannya hari itu tidak sedikitpun membuat Donghae menatapnya seperti laki-laki lain yang memperhatikannya sepanjang perjalanan dari lobby menuju ruangan ini. Hyuna memegang tangan Donghae tiba-tiba, membuat Donghae menghela nafas panjang dan menatapnya dengan tatapan malas.

 

What?” tanya Donghae akhirnya.

 

“Aku jauh-jauh datang kesini hanya untuk mendapatkan tatapan sinis itu? Come on!

So?”, tanya Donghae yang akhirnya harus berdiri mencoba melepaskan tangannya.

So? Have lunch? Drink something? Take me to a good place to eat? Or anything. Think about that”, tuntut Hyuna.

“Pertama, aku tidak meminta kau kesini. Kedua, aku tidak dalam mood untuk makan. Dan ketiga, aku bukan pemandu wisata, okay?”, jawab Donghae sedikit meninggikan nada suaranya.

Hyuna melepaskan tangan Donghae yang menatapnya tajam. Ini pertama kalinya Hyuna melihat tatapan itu dari Donghae. Dulu saat mereka masih bersama, Donghae memang sedikit dingin, tapi kata-kata dan tatapannya tidak pernah sedingin ini. Choa yang berada di ruangan itu juga akhirnya mau tidak mau menyaksikan perdebatan kecil Donghae dan Hyuna di depannya. Choa tidak kenal dengan wanita yang menghampiri Donghae ini. Tapi Choa bisa menangkap dengan jelas ketidak sukaan Donghae pada wanita ini dengan melihat warna muka Donghae yang berubah sunbaeu.

Well, seems like that chick changed you. Look at you. You’re not Donghae I knew. It’s a sarcastic attitude, Mr. Lee. You can’t do this to me”.

“Terserah kau, Hyuna. Aku sibuk. Terima kasih untukmu yang sempat membuat waktuku kacau beberapa hari ini. Tapi jangan hari ini. Atau kalau perlu jangan temui aku disini. Ini bukan kantor keluargamu yang bisa kau datangi kapan saja”.

“Lee Donghae!” seru Hyuna pada Donghae.

Tiba-tiba seseorang datang dari arah lift dengan suara tenang khasnya. Yunji berjalan menuju kubikel Donghae dan Choa yang terasa sepi karena yang lainnya sedang makan siang. Hanya ada Donghae, Choa dan seorang tamu tidak terduga disana, Hyuna. Yunji menghentikan langkahnya beberapa meter dari Hyuna. Yunji tidak tahu kedatangan Hyuna disana. Hawa ruangan itupun berubah dingin dengan tatapan marah Donghae pada Hyuna. Yunji-pun berpendapat sama dengan Hyuna. Bukan seperti Donghae yang ia kenal. Ini kali pertamanya melihat tatapan sekesal itu dari Donghae. Biasanya sesibuk apapun Donghae, wajahnya akan tetap hangat dan sesekali mengeluarkan candaannya untuk menenangkan suasana. Tapi sikap Donghae kali ini justru membuat suasana bertambah tegang ditengah deadline yang menunggu.

“Hai”, hanya itu kata yang keluar dari bibir Yunji.

What now? Kenapa semua pengganggu datang disaat bersamaan? tanya Donghae masih dengan nada kesalnya. Donghae tidak menyadari kehadiran Yunji disana.

Hyuna menoleh dan memandang Yunji sesaat lalu kembali menatap Donghae lekat. “That chick, right?”

“Aku mengganggu?” tanya Yunji.

Melihat wajah Yunji yang sangat berhati-hati, membuat Donghae melenyapkan tatapan dinginnya dan menggeleng pelan, “Yunji-ya aku…”

“Aku hanya mengantar makan siang untuk Donghae dan Choa. Sepertinya kalian tidak bisa makan siang. So…”

Yunji berjalan ke kubikel Donghae melewati Hyuna dan Donghae yang berdiri berhadapan, lalu meletakkan sebuah kotak makanan di meja Donghae kemudian meja Choa. Yunji memberikan senyum tipis pada Choa yang juga tersenyum padanya. ‘Thank you’, kata Choa tanpa bersuara. Yunji hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kemudian Yunji menghela nafas dan berbalik tanpa memandang Donghae dan Hyuna.

“Hei…” Donghae memegang tangan Yunji untuk menghentikannya.

Yunji kembali menghela nafas panjang dan berbalik menatap Donghae dengan senyum tipis di bibirnya.

“Aku pergi dulu. Go ahead”, kata Yunji sambil melepaskan tangan Donghae.

Namun Donghae menahan Yunji dengan memegang bahu Yunji sehingga membuat Yunji kembali berbalik dan menatap Donghae. Kali ini tidak dengan sebuah senyuman diwajahnya.

“Mianhae…” kata Donghae.

“Aniya. Gwaenchanha…” kata Yunji sambil berusaha berbalik.

No, Yunji-ya. Jeongmalo…” Donghae mengecup kening Yunji dan menatapnya lekat dengan wajah menyesal. “Maafkan aku”.

Yunji hanya mengangguk dan tersenyum pada Donghae. Kemudian mengusap dahi Donghae lalu benar-benar berbalik dan pergi dari ruangan itu. Suasana disana akan semakin buruk jika ia tetap berada disana walaupun Donghae yang memintanya. Aura yang ditunjukkan Hyuna sedang tidak bersahabat. Seperti yang Donghae katakan padanya, Hyuna bisa melakukan apapun jika kesabarannya dipermainkan. Apapun. Bahkan jika Donghae disana dan melihatnya.

##########

Yunji menengadahkan kepalanya memandang langit luas yang terpampang jelas di hadapannya. Tempat ini begitu menenangkan untuk Yunji. Tidak ada seorangpun disekitarnya. Hanya ia dan langit yang berhadapan, siap bercengkrama. Yunji memandang hamparan luas langit untuk waktu yang cukup lama. Membiarkan setiap ingatan yang tidak diinginkannya terbang bersama angin yang berhembus kencang.

“Hari ini pekerjaan aku sedikit. Tapi kenapa rasanya aku lelah ya? Kakiku lemas seperti agar-agar. Sedih. Tapi aku bahkan tidak thau sedih karena apa. Bodoh kan?” Yunji berbicara pada langit.

“Aku kira kau lupa tempat ini”.

Sebuah suara menyadarkannya dari lamunan singkatnya. Cho Kyuhyun, 25 tahun, tampan, tubuh proporsional, kulit sawo matang, berpenampilan menarik, pintar, dan menduduki jabatan direktur Frente Corp selama dua tahun terakhir. Pamornya di perusahaan ini tidak terkalahkan. Setiap wanita di gedung ini berusaha berpenampilan begitu sempurna ketika berhadapan dengan Kyuhyun Sajangnim. Beberapa diantara mereka yang berada di kursi jabatan menengah keatas masih berusaha mendekatinya, sementara yang lain memutuskan untuk mengejar Donghae. Mereka yang menyerah sebelum berjuang memiliki teori mereka sendiri. Mengejar direktur muda ini sama saja dengan mengharapkan salju turun di teriknya matahari yang menyinari Jakarta. Terlalu sulit diwujudkan, bahkan terlalu jauh untuk sekedar dipikirkan. Donghae terlihat lebih ‘mungkin’. Seperti biasanya, hanya Yunji yang tidak banyak berpikir tentang hal itu. Direktur muda yang dijadikan target banyak wanita di Frente Corp ini tetaplah teman berbagi ceritanya yang paling setia. Namun laki-laki yang bernama Kyuhyun ini tetaplah direktur di tempatnya bekerja. Ia tetap Kyuhyun Sajangnim bagi Yunji jika berpapasan di koridor atau lobby kantornya, seperti yang lainnya.

“Hai. Lama tidak bertemu”, kata Yunji.

“Harusnya aku yang bilang begitu. Kemana kau beberapa bulan ini? Menemukan tempat lain untuk mengeluh?”

Nope. Aku bahkan tidak sempat mencari tempat tertidur lima menit. Hari ini sedikit senggang dan agak penat. Jadi aku pikir ini tempat terbaik untuk didatengi. Boleh kan, sajangnim?”

“Hei… hei… kau lupa janji kita?” tanyanya.

“Apa ya? Aku lupa…” Yunji menunjukkan ekspresi berpikirnya lalu ia tertawa kecil saat direktur muda itu menaikkan sebelah alisnya. “I remember. 100% remember it. No boss when just the two of us here”.

Keduanya tertawa bersama. Seperti sebuah reuni setelah waktu yang cukup lama, keduanya tidak berbicara banyak. Sesekali saling melihat ekspresi masing-masing. Mereka lebih banyak menatap langit dan tersenyum pada diri sendiri. Saat tatapan mereka bertemu, keduanya akan tertawa bersama. Tertawa begitu lepas.

Well… apa yang membuat wajah pujaan milik Kyuhyun ku ini abu-abu? Pekerjaan? Um… biar aku tebak. Pengejar setiamu?” tanya Yunji.

“Satu benar… pekerjaan. Rasanya ingin tukar tempat dengan abeoji. Mungkin sekarang aku sedang menikmati angin pantai”.

“Mungkin Taehoon ahjussi punya keluhan yang sama berpuluh tahun lalu”.

“Ya. Mungkin. O ya, dua bulan lalu aku bicara banyak dengan Youngjae hyung. Di London. Dia rindu padamu dan Ye Eun nuna. Oh, kau tahu? Dia besar. Sepertinya setelah keluar dari rumah hidupnya makmur. Dia kelihatan bahagia. Selalu tersenyum. Aku pikir lama-lama dia gila kalau senyum seperti itu terus”.

“Dia memang gila… Tapi belum segila aku, kan?”

“Belum. Kau paling gila. Pulang lah… Ye Eun nuna tidak marah padamu. Kalau itu alasanmu menolak pulang. Aku makan bersama nuna dua minggu lalu. Dia rindu adik kecilnya. Aku hanya bilang pada nuna, kau bukan adik kecilnya yang dulu lagi. Senyummu berkurang, mungkin terbawa Youngjae hyung ke London. Dan… adik kecilnya sekarang sok kuat. Padahal rapuh kalau sedang berada di tempat ternyamannya”.

Yunji hanya tersenyum mendengar cerita Kyuhyun. Kedua kakak yang juga dirindukan Yunji ternyata baik-baik saja. Yunji senang mendengar kabar baik tentang mereka. Terutama tentang kata maaf dan rindu yang disampaikan Kyuhyun. Yunji dapat bernafas sedikit lega dengan kedua kata itu. Paling tidak keduanya mengurangi rasa bersalah Yunji pada keduanya.

“Kau tahu, Yunji-ya? Kau lebih baik dari aku dalam beberapa hal”, kata Kyuhyun.

“Oh ya? Apa itu?”

“Kau bisa menjaga ekspresi bagaimanapun suasana hatimu”.

“Bisa aku sebut itu bakat terpendam?”

“Hm… akan aku pikirkan”, kata Kyuhyun. “Yunji-ya, bisa pinjam bahumu sebentar? Rasanya aku sangat hari ini”.

Yunji hanya mengangguk dan membiarkan Kyuhyun duduk disebelahnya lalu menyandarkan kepala di bahunya sambil berharap angin juga membawa ingatan yang tidak diinginkan Kyuhyun pergi jauh dari kepalanya. Keduanya diam dan memejamkan mata mereka, menikmati angin yang menyentuh lembut kulit mereka.

 

 

 

 

 

2 November 2007

Seorang temanmu memberi tahu aku perasaanmu hari ini. Katanya tidak begitu baik dan cenderung buruk. Aku mencari disetiap cafe yang sering kau datangi. Aku juga mencarimu di setiap taman bermain berharap kau duduk di salah satu ayunan disana. Ketika hari mulai petang, aku hampir kehabisan nafasku. Jantungku berdetak begitu cepat. Aku bahkan tidak bisa berfikir. Sampai akhirnya aku menemukanmu, di tempat rahasiamu selama ini. Selama ini aku selalu bertanya pada diriku, apa yang kau lihat di langit lepas? Kau memandangnya begitu lekat. Kau juga menghabiskan waktu begitu lama. Jika suatu saat nanti aku disana, apa kau masih memandangnya dengan senyum damaimu itu?

 

“Siwon menemui aku di London lalu”, kata Kyuhyun.

Mendengar nama Siwon sontak membuat Yunji membuka namanya dan membuka kembali memori tentang orang itu. Choi Siwon. Laki-laki yang pernah menjadi tempat tujuannya di masa pelarian dari rumah. Laki-laki yang selalu berada didekatnya dalam setiap situasi. Laki-laki yang juga disayanginya. Mendengar nama itu seperti menyeret Yunji kembali ke memory yang sudah jauh ditinggalkannya.

“Yunji-ya? Kau dengar aku?” Tanya Kyuhyun.

“Ya. Aku dengar”, jawab Yunji lirih.

“……….”

“……….”

“Sudahlah. Kita tidak perlu membicarakan dia. Lupakan aja. Maafkan aku”, kata Kyuhyun sambil menegakkan tubuhnya.

It’s okay. But, ya. Lupakan”, jawab Yunji setuju.

Yunji kembali memejamkan matanya. Lalu keheningan itu kembali hadir diantara mereka. Pikiran mereka melayang ke tahun-tahun sebelumnya, saat mereka bertemu di sebuah kota dan menjadi dekat. Dua orang yang menjalani hari bersama. Sampai malam memisahkan mereka. Namun mereka tidak benar-benar terpisah. Angin menyampaikan pesan keduanya dan berbicara ringan di langit lepas. Sampai perpisahan terjadi diantara mereka karena suatu alasan.

Yunji membuka matanya cepat. Bayangan seseorang seperti muncul tepat di belakangnya. Bayangan itu begitu kuat, seperti siap mengikatnya. Yunji sulit bernafas dan jantungnya berdebar cepat. Ia butuh seseorang menenangkannya. Namun sepertinya Kyuhyun bukan orang yang tepat disaat seperti ini. Keberadaan Kyuhyun membuat bayangan itu justru semakin dekat.

“Sepertinya aku akan absen kesini satu atau dua minggu”, kata Yunji.

“Kenapa? Apa aku membuat kesalahan?” Tanya Kyuhyun.

NoNo… Aku yang salah. Pikiranku masih belum waras, Kyu. Kegilaan itu menghantui aku terlalu jauh”.

“Harusnya tadi aku tidak perlu banyak bicara”.

Nope. Itu keahlianmu. Tidak bisa disalahkan”. Yunji tersenyum tipis pada Kyuhyun. “Okay, well, karena wajah sendumu itu, aku kasih discount 50%. Aku akan berusaha menghilangkan bayangan itu seminggu kedepan. Kita bisa mengobrol disini lagi secepatnya. How? Wajah tampan itu bisa kembali sekarang”.

Kyuhyun tertawa kecil. Yunji yang begitu baik belum hilang. Ia juga tidak tertinggal di London. Yunji tidak sepenuhnya berubah seperti yang dikatakan Youngjae dan Ye Eun. Sebagian darinya di masa lalu masih melekat kuat sampai hari ini. Salah satunya seperti yang saat ini diterimanya. Yunji tidak bisa melihat orang lain sedih atau khawatir karenanya. Ia terlalu mahir dalam hal itu. Bahkan jika itu menyakiti dirinya. Sifat itu satu dari sekian banyak hal yang meyakinkan Kyuhyun memberikan perasaannya pada Yunji. Walau sudah bertahun lamanya.

##########

Dalam ruangan yang sama. Dalam keheningan yang sama. Dalam kesenduan yang berbeda. Yunji dan Donghae hanya duduk diam tanpa suara. Bahkan Jio (anjing milik Yunji) juga memilih diam di kandangnya. Kemuraman kembali memenuhi ruangan. Donghae menatap lekat Yunji yang memandang kosong ke layar televisi yang bahkan tidak menyala. Terkadang Yunji memejamkan matanya cukup lama, membukanya cepat lalu menghela nafas panjang dan menggeleng pelan. Donghae tidak mengalihkan tatapannya dari Yunji sambil menimbang apa yang sedang memenuhi pikiran Yunji. Keinginannya untuk meminta maaf dengan apa yang ia lakukan siang tadi harus tertahan kuat dalam-dalam. Donghae bahkan tidak bisa membaca wajah Yunji saat ini. Tubuh Yunji memang berada tepat didepannya, namun jiwanya seperti melayang jauh ke sebuah tempat yang tidak teraih.

Donghae duduk mendekat. Yunji masih menatap kosong layar televisi. Seperti tidak menyadari keberadaan Donghae di ruangan itu. Sejak beberapa jam lalu saat Donghae masuk kesana, Yunji tidak merubah posisinya sedikitpun. Namun aroma tubuh Donghae menyadarkan Yunji. Ia mengerjapkan matanya cepat lalu menghirup banyak oksigen ke dalam paru-parunya. Lalu Yunji menoleh ke seseorang yang sejak tadi memperhatikannya, tepat di sebelah kirinya. Yunji meraih bahu Donghae lalu memeluk tubuhnya. Masih dengan keheningan yang sama. Donghae hanya bisa memeluk Yunji dan menenangkannya. Entah apa yang sedang dirasakannya.

“Yunji-ya, aku…”

“Kegilaan ini datang lagi, Donghae-ya…”, kata Yunji lirih.

“Yunji, kau kenapa? Kegilaan apa?”

“Memory itu. Bayangan itu. Nama itu. Catatan itu…”

Donghae mengatupkan rahangnya. Laki-laki dalam catatan itu yang membuat hawa di ruangan ini menjadi begitu dingin. Donghae tidak menyukai laki-laki itu sejak ia membaca catatan yang sudah lama diletakkan Yunji diatas meja kamarnya. Saat ini Donghae merasa begitu membencinya bahkan sebelum ia bertemu dengannya.

“Yunji-ya… Gwaenchanha… Aku disini”, kata Donghae menenangkan.

“Ya. Kau disini. Kau harus tetap disini”.

Nada bicara Yunji berubah. Kepedihan menjalar keluar dari setiap kata yang disebutkannya. Seakan memory masa itu datang menghatuinya lagi. Ya. Lagi. Kata itu yang Donghae temukan dari semua kalimat, ekspresi dan sikap Yunji saat ini. Yunji sudah meninggalkan memory itu bertahun lalu. Dan kini memory itu datang lagi. Donghae tidak tahu pasti apa dan siapa yang membuatnya kembali. Namun Donghae hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa bukan laki-laki itu yang kembali. Laki-laki itu seperti sudah menghilang dalam catatan terakhirnya. Tubuh Yunji gemetar ketika meminta Donghae tetap disana.

“Mungkin ini waktunya kau menceritakan tentang catatan itu, Ahn Yunji”, kata Donghae.

Tidak ada jawaban dari Yunji. Suasana tetap hening dengan tubuh Yunji yang masih gemetar di pelukannya. Hembusan nafas Yunji berat menyentuh tengkuk Donghae. Dengan lembut tangan Donghae membelai kepala Yunji menenangkannya. Kebungkaman Yunji membuat ruangan yang sudah dingin itu bertambah dingin. Cengkraman Yunji begitu kuat di punggung Donghae. Seolah belaian tangan Donghae hanya angin pelan yang menerbangkan rambut Yunji.

“Gwenchana, Yunji-ya. Aku selalu disini…” kata Donghae lagi, menyerah.

“Itu milik Choi Siwon. Seorang yang aku kenal. Dulu sekali, Choi Siwon sahabat Youngjae oppa. Aku dan Ye Eun eonni juga dekat dengannya. Aku pernah cerita padamu tentang kepindahanku ke London mencari Youngjae oppa. Separuh waktu hidupku disana, aku tinggal bersama Siwon. Tidak seperti kita saat ini. Berbeda jauh…”

Yunji menghela nafasnya dalam. Begitu pula dengan Donghae. Kini Donghae tahu siapa pemilik catatan itu. Yunji bahkan menceritakan peran laki-laki itu dalam hidupnya. Seketika Donghae seperti mendengar setiap kata dalam catatan itu dikepalanya. Beberapa kata membuatnya marah dan yang lain cukup membuatnya bertanya-tanya. Yunji belum melanjutkan ceritanya. Donghae memutuskan tidak memaksanya dan tetap mengusap lembut punggung Yunji untuk menenangkannya. Meski ia tahu dirinya bahkan tidak menemukan ketenangan dalam ruangan itu.

“Semua baik-baik saja sampai oppa meminta aku pulang”, Yunji melanjutkan. “Aku menolak dan bersikeras tinggal disana. Sempat aku berpikir untuk tinggal bersama Kyuhyun. Waktu itu aku pikir oppa tidak akan memaksaku kalau dia tidak menemukan aku”.

Wait, Kyuhyun?” tanya Donghae.

“Ya. Kyuhyun yang sama. Direktur Frente Corp yang selalu dibanding-bandingkan denganmu. Beruntung kau bukan penggosip. Akan jadi gawat kalau seisi Frente Corp tahu dulu aku berhubungan dengan Kyuhyun”.

“Ternyata aku tidak kenal kau sepenuhnya”, kata Donghae.

“Kau tahu sebagiannya…”, Yunji melepaskan pelukannya. Masih dengan wajah sendunya Yunji meraih lengan Donghae dan bersandar dibahunya. “Kyuhyun adalah sunbae ku saat SMA. Waktu itu aku sekertarisnya di organisasi. Kami berteman selayaknya sunbae dan hoobae. Aku tahu daftar gadis yang jadi pacarnya. Begitupun sebaliknya. Waktu aku pindah ke London, Kyuhyun juga disana. Di kampus yang sama. Aku berpacaran dengan Kyuhyun tahun 2007. Enam tahun lalu. Ternyata Kyuhyun sempat menjadi adik kelas Choi Siwon. Mereka berhubungan cukup baik. Sampai…”, Yunji menghentikan kalimatnya.

Skip bagian yang menyakitikan…”, kata Donghae.

“Mungkin takdir. Aku bertemu lagi dengan Kyuhyun di Frente Corp”.

“Kau masih suka padanya?” tanya Donghae.

Definitely... Dia teman baikku saat Luna tugas keluar kantor dan kau error seperti siang tadi”.

“Sebagai teman?” tanya Donghae lagi memastikan.

Yunji duduk menghadap Donghae. Pertanyaan Donghae barusan membuatnya tersenyum. Ada kata tersembunyi dibalik pertanyaan Donghae yang Yunji sendiri tidak tahu apa kata itu.

“Teman, atasan, rekan kerja, sunbae, direktur, pemilik perusahaan. Aku jawab semua biar tidak ada lagi pertanyaan beruntun darimu. My Donghae’s back”, Yunji meninju lengan Donghae seperti yang sering dilakukannya.

Yunji berdiri untuk mengambil segelas air di dapur. Namun Donghae menggenggam tangannya. Menahannya tetap berada disana. Yunji menoleh kearah Donghae. Namun Donghae ternyata tidak sedang memandangnya. Donghae menundukkan kepalanya.

“Mianhae… Tentang tadi siang”, kata Donghae sedikit berbisik.

Yunji mengerutkan dahinya saat mendengar permintaan maaf Donghae. Lalu Yunji berlutut menghadap Donghae dan melepaskan genggaman tangan Donghae. Yunji mengangkat kepala Donghae dengan kedua tangannya dan menatap Donghae lekat. Yunji tersenyum pada Donghae dan menggeleng pelan. Setelah menghela nafasnya panjang, Yunji memeluk Donghae lagi. Kali ini Yunji yang membelai lembut rambut Donghae. Indera penciuman Yunji kembali bereaksi ketika ia berada dalam pelukan laki-laki itu. Aroma kayu-kayuan dan mint memenuhi kepalanya. Dihirupnya aroma itu dalam dari bahu orang yang sedang dipeluknya. Aroma itu terasa begitu dingin menyentuh hidungnya, namun menghangatkan darah yang mengalir ditubuhnya. Tiba-tiba Donghae melepaskan pelukan Yunji dan tersenyum padanya.

“Sebaiknya aku mandi. Ada disekitarmu bisa membuatku gila”.

Yunji hanya bisa melihat tubuh Donghae berjalan menjauh menuju kamar mandi. Yunji tertawa kecil dengan sikap Donghae yang begitu canggung. Yunji baru menyadari maksud Donghae. Ia sendiri bingung dengan kontrol tubuhnya yang akhir-akhir ini berubah. Tangannya jadi begitu mudah meraih bahu Donghae – bahkan terkadang leher Donghae– untuk memeluknya. Yunji pun berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air yang tadi sempat tertahan oleh Donghae. Ia meneguk air hangat di gelasnya dan meletakkannya di meja dapur. Keheningan kembali menyelimuti Yunji di dingin dan gelapnya ruangan apartmentnya.

 

 

‘Sebegitu kecilnya kepekaanmu padaku? Kita bukan satu dua bulan kenal, Yunji-ya. Sebenernya what am I for you?’

 

‘Apa maksudmu, oppa? Kau teman baikku. Kau tahu itu.’

 

‘Aku hanya teman baik untukmu? Sejauh ini yang aku lakukan untukmu, kau hanya anggap aku teman baik?’

 

‘Siwon oppa, tolong stop teriak-teriak. Jelaskan dengan kepala dingin. Apa yang aku lakukan sampai kau begini?’

 

‘Aku mencarikan apartment, kuliah, barang-barang. Bahkan aku skip kuliah untuk membantu kau mencari Youngjae yang kau sendiri bahkan tahu hubunganku dengannya tidak baik. Aku menyiapkan kamarmu disini. Aku selalu ada untukmu kapanpun kau butuh. Bahkan aku meninggalkan orang yang membutuhkan aku demi kau. Sekarang kau bilang kau cinta padanya, berpacaran dengannya dan akan tinggal bersama dia? Aku ini apa, Yunji-ya? Kenapa Cho Kyuhyun?’

 

‘Jadi semua bantuanmu itu mengharapkan imbalan dariku? Aku pikir kau ikhlas membantu aku, oppa’.

 

‘Jangan mengalihkan. Kau tahu betul aku ikhlas dengan semua itu, aku dengan senang hati membantumu. Kita sedang membicarakan Cho Kyuhyun, Yunji-ya. Cho Kyuhyun! Bajingan itu merebutmu dariku!’

 

‘Stop, Choi Siwon! Kau tidak boleh judge orang lain seenaknya’.

 

‘Kenapa? Karna kau cinta padanya? Bilang! Karna kau cinta dia dan aku bukan siapa-siapa? Begitu? Who do you think you are, Ahn Yunji? You’ll die freezing in London if I didn’t help you! Youngjae dan Cho Kyuhyun bahkan tidak bisa menemukanmu kalau tidak ada aku!’

 

‘Kau gila, Choi Siwon. Kau bukan Choi Siwon yang aku kenal’.

 

‘Memang! Apa yang kau harapkan? Choi Siwon yang datang kerumahmu menemui Youngjae? Dia sudah tertinggal di Seoul, Ahn Yunji! Kau tidak boleh pergi dari sini. Kau akan tetap disini bersamaku, Yunji!’

 

“Yunji-ya?”

“Aaaaaa!”

TBC

Note:

Terungkap sudah pemilik catatan yang selama ini Yunji baca. Catatan itu milik Choi Siwon. Siapakah Siwon sebenarnya? Masih banyak rahasia yang disembunyikan olehYunji. Kyuhyun pun punya hubungan dalam kehidupan rumit Yunji. Bagaimana dengan Donghae? Nantikan jawabannya di part selanjutnya…

Advertisements

6 thoughts on “The Untold Story between Us Part 5

  1. bener” the untold story… Donghae siwon fan sekrang kyuhyhn… gtau mau ngomong apalagi.. tp aku ngrasa Donghae terlalu polos dan bingung sm semua kisah yg pernah dirasain yunji.. next secepatnya kakakkk

    Like

  2. yeesss pertama kah ?????
    akhir’y terungkap jg pmilik catatan’y,,,q kira itu catatan pnya kyuhyun,,trnyata punya Siwon,,,,
    thanks arthur yg udah bikin FF ini,,,,sumpah FF’y keren banget,,,oh ea tlong dong bkin moment romantis donghae ama yunji,,,,buat mereka sadar sm perasaan masing”,,,,,d tunggu part selanjutnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s