The Untold Story between Us Part 4

 – The Untold Story between Us (Part 4) –

 

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:   Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

Other Cast:

Kim Hyuna, Kim Myungsoo, Park Choa, Victoria, Luna, Kwon Yuri, etc.

Preface:

Annyeonghaseyo. FF ini adalah hasil pemikiran dan karyaku sendiri. Tapi, sebelumnya author ingin memohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Author jujur, ff ini sudah author tulis dari tahun 2014, tapi baru sekarang author publish. Dan, author juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi. Selamat membaca…

 

 

 

Review Part 3

“Tidurlah disini, Hyuna-ssi.”

“Bolehkah?”

“Tentu. Aku sih yakin Donghae akan tega membiarkanmu pulang tengah malam. Tapi aku tidak. Bahaya.”

Thanks. You’re sweet.”

“Tapi, kasur udara tidak apa-apa kan Hyuna-ssi?”

“Maksud dari ‘kasur udara tidak apa-apa’? tanya Hyuna lagi.

“Ya… kau tidur di kasur udara. Nanti sofa-sofa ini bisa dimundurkann. Disini hanya ada satu kamar, jadi…”

Wait… kau? Donghae?”

“Apa yang kau harapkan? Kita tidur bersama? Kita? Kau, Yunji dan aku? Not a good idea, Hyun”.

“Maksudmu begitu, Yunji-ssi?”

“Yunji-ya?”

 

 

 

The Untold Story between Us Part 4

 

 

 

 

 

Author’s POV

 

Yunji mengangguk. Donghae menang lotre hari ini. Sebutan ‘sayang’ dari Yunji, pasta buatan Yunji dengan label ‘Donghae’s favourite’, dan sekarang anggukkan Yunji yang terlihat manis untuk Donghae. Tapi seketika kesenangan personalnya berubah menjadi dugaan pada suatu hal. ‘Laki-laki itu. Seberapa jauh hubungannya dengan Yunji? Sejauh ini?’

“Donghae, bisa membantuku mengeluarkan kasurnya?” tanya Yunji membuyarkan dugaan Donghae.

Donghae mengangguk dan membantu Yunji mengeluarkan kasur udara untuk Hyuna. Sang tamu masih berdesis kesal bahkan saat ia berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian pinjaman dari Yunji. Saat keluar dari kamar mandi, Hyuna hanya menemukan sosok Donghae yang sedang menetidak segelas air didapur. Ia pun mendekati Donghae dan memeluknya dari belakang.

“Akhirnya kita dekat lagi. Aku senang, Donghae-ya”, kata Hyuna sambil merangkul Donghae.

Donghae membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan Hyuna. “Aku lebih senang. Karna kau tidur di kasur udara itu. Selamat tidur, Hyuna-ya…”

Donghae berlalu menuju kamar dan meninggalkan Hyuna didapur sambil mengira-ngira apa yang sedang dilakukan Yunji dikamarnya. Menyiapkan selimut tambahan, mengeluarkan bantal ekstra lainnya, atau bahkan tidak menyediakan apapun untuk tempat tidur Donghae menjadi tiga kemungkinan hal-hal yang sedang dilakukan Yunji. Namun dugaan Donghae salah. Yunji sedang duduk tenang di tempat tidurnya sambil membaca buku fiksi (lainnya) yang dipinjam dari Luna siang tadi. Satu hal yang menarik perhatian Donghae, posisi duduk Yunji sedikit ke pinggir sebelah kanan. Menyisakan tempat lebih disebelahnya. Donghae memutuskan untuk berhenti menduga-duga dan menanyakan langsung pada Yunji yang hari itu sangat berbeda dari biasanya.

“Kau benar setuju?” tanya Donghae.

Yunji mendongakkan kepalanya dan mengangguk pasti lalu tersenyum.

“Aku tidak melantai kan?” tanya Donghae lagi memastikan.

Yunji lagi-lagi tidak menjawab. Yunji menutup bukunya dan menaruhnya di meja kecil biru muda tepat disebelahnya dan memandang Donghae setengah tertawa. Yunji masih tidak menjawab pertanyaan Donghae. Hal itu membuat dahi Donghae melipat tajam menuntut jawaban secepatnya dari Yunji.

“Membiarkan kau tidur bersama Hyuna? Atau aku tidur bersama kau dan dia di kasur udara?” kata Yunji akhirnya. “Bukan ide yang lebih baik, Donghae-ya. Sini. Kemarilah. Kau tidak melantai malam ini.” Yunji menepuk kasur tepat disebelahnya, lalu Donghae mendekat duduk disana.

“Aku actress yang profesional. Harus all-out. Lagipula sayang punggung tampanmu. Aku penggemar beratnya. Dan walaupun besok weekend, kau tetap harus tidur. Hari ini tidak ada nonton NBA. Hyuna disini. Lain kali. Sleep well.

Yunji mengecup kepala Donghae dan langsung membenamkan tubuhnya dibawah selimut kebanggaannya. Donghae masih dalam posisinya. Ia terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun. Di satu sisi Donghae senang atas sikap Yunji hari ini. Disisi lain, Yunji baru saja mengatakan dia seorang actress. Yunji bersandiwara.

 

 

 

 

##########

 

 

 

Akhir pekan pertama dengan Donghae didalamnya. Hujan baru saja berhenti beberapa menit yang lalu. Yunji tidak yakin pasti akan hal itu. Tapi iya masih bisa merasakan bau embun menempel dihidungnya, kelembabannya pun memenuhi aroma ruangannya bersatu dengan aroma maskulin yang begitu akrab dengan indera penciumannya. Aroma itu menyadarkan Yunji sekejap tanpa ritual beberapa detik berkedip pelan seperti hari biasanya. Aroma itu begitu dekat seakan melekat di setiap sudut kamarnya. Mata Yunji memang membulat sadar, tapi pikirannya belum. Beberapa detik kemudian ia baru tersadar Donghae sedang tertidur memeluknya erat dari belakang tempatnya tidur. Yunji yang semula kaget justru menghela nafasnya pelan takut membangunkan Donghae yang terdengar mendengkur halus. Rasa kagetnya perlahan berubah menghangat. Yunji seperti tidak ingin segera berakhir. Berharap waktu melambat hebat pagi ini saja.

“Aku cukup berguna sebagai pengganti heater ya?” pertanyaan Donghae menyadarkan Yunji dari buaian khayalannya.

“Maksud…..mu?” tanya Yunji terbata.

“Aku membantumu mengurangi penggunaan listrik untuk heater.” Kata Donghae sambil membenarkan posisi tidurnya. Memeluk Yunji lebih erat.

“Lumayan. Gomawo. Kau baik.”

Close your eyes. It’s weekend, baby. Take your time to sleep more. Ini baru jam 5 pagi.

“Kau lupa diluar ada Hyuna?” pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulut Yunji. Berharap Donghae tidak mendengarnya. Berharap Donghae tidak menyudahi situasi ini.

“Hyuna?” Donghae mendengarnya. Yunji memejamkan mata menyesali pertanyaannya. “Who cares? She slept very well out there. Don’t think about her. Just sleep. A handsome-natural-heater’s here. Jangan disia-siakan.”

Yunji hanya terkekeh kecil. Yunji sendiri tidak mengerti dengan kerja sarafnya pagi ini. Ia seperti kehilangan kesadarannya. Aroma ini begitu kuat. Seperti memabukkannya sampai ia tidak sanggup melepaskannya dari indera penciumannya. Ia mengisi setiap sudut kepalanya dengan aroma itu. Takut kehilangan sesedikit apapun.

 

 

 

July 14th, 2007

Hujan berhenti beberapa menit lalu. Aku bukan hanya menduga, aku melihatnya benar berhenti. Aroma embun sebentar lagi akan memenuhi ruanganmu. Yang aku tahu, kau sangat menyukai itu. Kau akan berlama-lama disana sampai bau itu melemah. Lalu menghampiriku atau menungguku menghampirimu untuk menyiapkan coklat hangat favoritmu. Aku suka melihat wajahmu saat menikmati aroma embun itu memenuhi setiap sudut apartementku. Walau aku tidak bisa melihat langsung wajahmu ketika aku baru membuka mataku. Satu hal yang aku kesalkan darimu. Aku tidak suka saat kau menolakku yang ingin memelukmu, karena kau tidak ingin aroma embun itu meninggalkan hidungmu. Kau selalu bilang aroma tubuhku tidak selembut aroma embun pagi hari setelah hujan dan sampai kapanpun kau akan menolaknya…

 

 

“Yunji-ya…” kata Donghae berbisik.

“Ya?”

“Tolong katakan padaku aku tidak bermimpi… Tell me I’m not drunk.

“Aku sudah bangun beberapa menit lalu, Donghae-ya. Kau jelas bicara padaku. Semalam kita tidak buka sebotol wine-pun. Kau tidak mabuk.” jawab Yunji masih memejamkan matanya. ‘Aku yang mabuk,Lee Donghae’, lanjut Yunji dalam pikirannya.

Donghae memejamkan matanya lagi dan kembali ke alam tidurnya. Deru nafas Donghae yang hangat membuat Yunji ikut tertidur.

##########

Donghae terbangun dan tersenyum melihat Yunji masih tertidur di lengannya. Ia memutuskan untuk bangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan untuknya, Yunji, dan…Hyuna. Ia mendengus sedikit kesal mengingat ada seseorang lain diluar yang membuyarkan kebahagiaan pribadinya sejak kemarin. Donghae berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar, mengendap agar tidak membangunkan Yunji yang tertidur begitu pulas. Namun sebuah kertas yang menempel dipintu menghentikannya. Dahinya terlipat melihat lambang H besar disudut kanan bawah sebagai penanda si penulis surat ini. Hyuna.

 

 

Ternyata kau sudah sejauh itu dengan Yunji. Tidur bersama, memeluknya mesra dengan wajah kalian yang tersenyum menikmati akhir pekan. Kau peluk dia terlalu erat, Donghae-ya. Kalau lepas akan jatuh dan sangat sakit. Aku bukan menakuti atau mengancam. Itu kenyataannya. Aku tidak terpengaruh. Kau tetep harus jadi milikku.

 

Love, H

 

 

 

Donghae langsung keluar dari kamar dan membuatkan sarapan sesuai dengan rencana nya semula. Hyuna pergi, sebelumnya masuk ke kamar Yunji sesaat setelah percakapan Donghae dan Yunji. Pesan Hyuna tidak mempengaruhi Donghae. Sudah sejak lama Donghae tidak mempedulikan apapun yang dikatakan Hyuna. Hanya satu hal yang memenuhi pikirannya. Kata-kata Hyuna dalam pesan itu, ‘wajah kalian tersenyum menikmati akhir pekan’. Donghae tersenyum tipis mengulangi kata-kata itu berkali-kali dalam pikirannya.

“Kau bohong, Yunji-ya. Aku pasti bermimpi. Aku pasti sedang mabuk. Harusnya kau katakan sejujurnya.”

Senyum Donghae terhenti. Donghae teringat catatan laki-laki dalam buku biru usang itu. ‘Walau aku tidak bisa melihat langsung wajahmu ketika aku baru membuka mataku…’ ‘…Aku tidak suka saat kau menolakku yang ingin memelukmu, karena kau tidak ingin aroma embun itu meninggalkan hidungmu. Sampai kapanpun kau akan menolaknya…’

“Ada apa denganmu Yunji-ya? Kau beda sejak kemarin. Kau bahkan tidak menolak aku. Aroma ku jelas menghalangi aroma favoritmu. Bahkan dia…kau menolak dia…” kata Donghae berbisik pada dirinya sendiri.

“Good morningKemana Hyuna?” tanya Yunji menghampiri Donghae di dapur sambil mencoba mendapatkan kesadarannya. Donghae langsung merubah ekspresi wajahnya.

“Kau sahabatnya? Hyuna… akrab sekali.”

“Memang kenapa? Tidak boleh? Kenapa kau yang sewot?”

Nope. I’m okay. Dia sepertinya sudah pergi sejak pagi.”

“Kau membuat sarapan? Untukku?” Tanya Yunji saat melihat beberapa sandwich berjajar rapi diatas piring dan dua cangkir coklat hangat.

“Dan untukku…” Koreksi Donghae.

“Tentu. Perutmu harus diutamakan. Masih itu motto nya?” goda Yunji pada Donghae.

Hyuna left a message before left. Dia bilang kau tersenyum saat tidur. Senyaman itukah?” Tanya Donghae.

Yunji yang sedang menetidak segelas air mineral tersedak mendengar pertanyaan Donghae. ‘Anak ini selalu langsung pada poin nya‘, pikir Yunji. Hal itu membuat Yunji salah tingkah dan memutuskan untuk menetidak segelas lagi sambil memikirkan jawabannya.

“Um… Hari ini temeni aku belanja ya. Persediaan mulai habis. Aku mandi dulu.” Yunji memilih menghindari pertanyaan itu sebelum Donghae menyadari wajahnya yang bersemu.

“Aku harap kau tidak lagi memulai sebuah permainan, Yunji-ya” kata Donghae berbisik.

##########

Yunji berjalan dengan sebuah catatan barang-barang yang harus dibelinya, sementara Donghae berjalan mengikuti dengan sabar dibelakangnya. Menurut Donghae, cara berbelanja Yunji terlalu rumit. Yunji akan membaca setiap kandungan dari makanan yang akan ia beli, benar-benar memperhatikan zat-zat yang sekiranya dibutuhkan tubuh mungilnya. Lain lagi dengan kebutuhan yang dengan bahan kimia di dalamnya (sabun, shampoo, pasta gigi, sabun pencuci piring, dsb), Yunji lebih memilih membelinya hanya untuk persediaan 2 minggu. Teorinya cukup aneh, ‘nanti kalau kembali kesini lagi jadi tidak hanya beli makanan. Siapa tahu selera berubah’, begitu katanya. Donghae selalu takjub dengan kebiasaan Yunji ini. Benar saja, ini bukan kali pertama Donghae menemani Yunji berbelanja. Setiap minggu genap Donghae atau Luna selalu menjadi ‘teman’ setia yang menemani Yunji berbelanja. Kebiasaan Yunji masih tidak berubah. Itulah yang membuat Yunji menghabiskan banyak waktu di supermarket. Bahkan lebih lama dari waktu Yunji membeli pakaian.

“Omo… maaf. Saya tidak lihat jalan”.

Seorang laki-laki tidak sengaja menabrak Donghae. Laki-laki itu bertubuh tinggi, berambut hitam, bermata cokelat terang, kulitnya terlalu putih untuk ukuran seorang lelaki, dan caranya berpakaian membuat Donghae mengernyitkan dahinya sejenak. Laki-laki itu menggunakan T-Shirt berwarna hijau muda, celana jeans, sneakers dan sebuah kemeja yang diikat dipinggangnya.

“Oh… Tidak apa-apa. Mungkin saya menghalangi jalan” balas Donghae basa basi.

“Tidak. Saya yang salah. Sekali lagi maaf. Saya permisi. Um… Pacar anda sangat cantik”, kata laki-laki itu yang kemudian berlalu entah kemana.

Pacar. Donghae memang bukan seorang ahli dalam tata kesopanan antar manusia, tapi mengatakan itu saat pertemuan pertama dan baru saja meminta maaf atas sebuah kesalahan sepertinya tidak masuk dalam kaus kesopanan yang selama ini ia tahu. Kata-kata itu lebih terdengar seperti ‘om-om mata kerangjang’ yang memperingati seorang laki-laki kalau ia akan merebut kekasihnya dan memperistrinya. Memikirkan hal itu membuat Donghae bergidik.

“Lain kali kalau ke supermarket kau tidak perlu berdandan, Yunji-ya. Para ahjussi sepertinya mengincarmu” kata Donghae.

“Ada apa denganmu? Tiba-tiba mengatakan itu”.

“Baru saja ada seorang pria yang langsung mengatakan padaku ‘pacar anda sangat cantik’, membuatku tidak tenang saja…”

“Ah benarkah? Aku tersanjung dipuji begitu” Yunji menanggapinya santai.

“Tidak perlu tersanjung. Pria itu lebih terlihat seperti ayah dengan dua anak…”

Yunji hanya tersenyum mendengar tanggapan sinis Donghae. Yunji sudah terlalu terbiasa dengan semua tanggapan Donghae tentang segala hal, positif maupun negatif. Yunji sudah tidak heran dengan apapun yang mungkin Donghae katakan.

 

 

 

##########

 

 

 

 

October 11th, 2007

Jantungku benar-benar berpacu cepat beberapa hari ini setelah kepindahanmu. Sebenarnya aku tidak begitu yakin penyebab pastinya. Keberadaanmu disini membuatnya cukup tenang sekaligus melompat girang. Kau memilih tinggal disini bersamaku agar orang tuamu tidak menemukanmu. Anak nakal. Kau selalu bersembunyi dari mereka, tapi tetap memastikan mereka tidak khawatir dengan meninggalkan pesan kecil bahwa kau baik-baik saja. Aku terlalu senang Yunji. Aku bahkan berharap hanya ada satu kamar di apartemen ini. Walaupun akhirnya aku harus tidur di sofa kamarku, setidaknya aku bisa melihatmu tertidur pulas di tempat tidurku…

Senin terlalu kuat. Sabtu dan minggu digulingkan dengan mudahnya begitu saja. Pekerjaan yang menumpuk di meja menunggu untuk disentuh oleh sang pemiliknya. Bagi Donghae, senin mengacaukannya. Lain halnya dengan wanita-wanita yang menyukainya. Datangnya hari senin adalah sebuah permohonan yang terkabul setelah 2 hari lamanya tidak menikmati pemandangan wajah Donghae. Yunji tidak pernah ingin memberi tanggapan tentang hari kerja yang datang lagi. Bukan berarti ia suka hal itu. Karena baginya, berada dirumah dan bersantai jauh lebih ia sukai. Yunji hanya menggunakan logikanya, siapa yang akan memberi asupan gizi pada tubuhnya jika ia tidak bekerja. Akhirnya Yunji lebih memilih mencoba mencintai hari kerjanya.

Ada yang berbeda di Frente Corp hari ini. Donghae mendengar dari seorang teman dari bagian HRD, Ryeowook, ada tiga orang yang baru saja dipekerjakan. Satu laki-laki dan dua perempuan. Jika pengintai perempuan memiliki Sunhwa, Ryeowook adalah pengintai laki-laki yang akan selalu update dengan berita wanita cantik dalam daftar Frente Corp. Yang pertama Yui, 22 tahun. Yui adalah rekan baru Sunhwa di meja lobby utama. Tinggi 170cm, berat 44kg, berambut lurus sepunggung, bermata sedikit sipit, hidung mancung, leher jenjang, C-cup, 25, 39 -jika kalian mengerti maksudnya-. Yui adalah wanita kota urban Seoul yang baru saja meraih gelar sarjana pertengahan tahun lalu. Setelah mencari pekerjaan dengan modal nekat dan penampilan diatas rata-rata, perjuangan Yui berlabuh dibelakang meja resepsionis Frente Corp. Semua laki-laki muda -dan single- di gedung ini menaruh harap padanya agar dijauhkan dari pengaruh makhluk bernama Sunhwa disebelahnya.

Yang kedua Choa. 21 tahun. Tinggi 166cm, berat 48kg, berambut blonde sebahu, bermata cokelat besar dengan tubuh S-line. Fresh graduate yang langsung ditempatkan di kandang singa. Bagaimana tidak, menurut Ryeowook betapa kurang beruntungnya Choa langsung ditempatkan di lantai 7 dengan Victoria sebagai seniornya. Semua pasti berpendapat serupa. Langkah pertamanya memasuki ruangan lantai 7 akan sangat dingin dan mencekam. Tatapan menjatuhkan Victoria dan sekutunya akan melumpuhkan pertahanan mental Choa begitu melihatnya. Dari kepala ke kaki kembali lagi ke kepala lalu menatapnya lekat sampai yang ditatap memutuskan untuk menunduk sungkan. Itu semacam masa orientasi setiap tahunnya yang dilakukan Victoria.

Yang terakhir, seorang laki-laki. Kim Myungsoo. 23 tahun. Baru saja lulus setelah 5 tahun kuliah. Tinggi 181 cm, berat 75 kg, rambut hitam pekat, alis tebal, wajah tampan dan mata tajam. Menurut Ryeowook, nasib Myungsoo-lah yang paling beruntung diantara kedua temannya yang lain. Myungsoo ditempatkan di lantai 8 dimana populasi laki-laki begitu sedikit. Walaupun ada Sooyoung disana, tapi Myungsoo pasti cukup tangguh menghadapi Sooyoung. Sooyoung tidak akan melakukan hal yang sama dengan Victoria karena junior barunya seorang laki-laki. Dan Myungsoo mungkin tidak akan terganggu oleh wanita-wanita yang mendekatinya di lantai 8. Karena wanita-wanita lantai 8 sudah mengukuhkan diri sebagai pengagum dan pengejar fanatik Lee Donghae. Hanya saja di akhir laporannya Ryeowook menambahkan untuk berhati-hati kalau suatu saat Myungsoo justru mendekati Yunji.

Ternyata bukan hanya Donghae yang dibuat khawatir akan kedatangan rekan-rekan muda ini, kelompok pengagum Donghae-pun cukup khawatir dengan situasi yang terjadi. Choa sementara ditempatkan sebagai rekan Donghae, mengingat akhir-akhir ini Donghae bekerja ekstra keras karena rekan lamanya Eunhyuk telah mengundurkan diri tepat sebulan lalu.

“Sudah cukup ospek nya, Nona-nona. Kalau dia berubah jadi debu dihari pertama, sangat tidak lucu…”, kata Donghae menghentikan sikap senioritas Victoria.

“Itu sudah tradisi dari dulu, sayang. Biarkan lah…” Sahut Yuri.

Nope. Aku sibuk. Dia harus mulai kerja. Orientasi ditunda, okay?”

Donghae langsung mengajak Choa ke kubikel kosong disebelah kubikelnya. Victoria dan kaki tangannya hanya mendengus kesal karena sikap dingin Donghae.

“Aku Lee Donghae. Kau bisa memanggilku Donghae. Namamu Choa, kan? Maaf sebelumnya, kalau langsung kerja saja tidak masalah, kan? Karna banyak yang harus dikerjakan”, kata Donghae menjelaskan.

“Oh tidak apa-apa, pak. Saya siap kerja hari ini”, jawab Choa.

“Pak? Kita hanya berbeda beberapa tahun. Donghae saja”.

“Tapi saya tidak enak, Donghae-ssi”.

“Baiklah. Sunbae saja kalau begitu. Cukup perkenalannya. Ini langsung dikerjakan saja. Kalau ada yang tidak mengerti langsung tanyakan padaku. Jangan mereka. Mereka menggigit”.

“Lee Donghae!” Bentak Victoria kesal.

“Aku hanya bercanda, Victoria-ku yang manis. Ini masih hari senin kau sudah membuat mood jelek saja. Aku hanya menyegarkan kembali…”, kata Donghae sambil tertawa kecil.

Victoria masih menunjukkan wajah kesalnya. Namun sebenarnya ia senang karena Donghae memanggilnya dengan ‘Victoria-ku yang manis’. Kedua kaki tangannya, Ken dan Tarra-pun berdecak iri pada Victoria. Lalu ketiganya kembali menatap Choa dengan tatapan senioritasnya. Tatapan yang memperingati agar ia membuang jauh impian untuk mendekati Donghae. Karena mereka bertiga tidak akan membiarkannya terjadi. Dan jika hal itu terjadi kemungkinan hari-hari Choa tidak akan tenang di Frente Corp. Yang diperhatikan justru tidak menyadari tatapan buas dari para seniornya. Ia menjalankan apa yang diminta Donghae padanya. Namun diam-diam ia menyimpan senyum tipis dibibirnya mengingat cara Donghae berbicara padanya. Sudah merupakan hal biasa seorang Donghae menaklukan hati seorang wanita bahkan dihari pertama mereka bertemu. Ia perlu beberapa detik untuk menenangkan jari-jari nya yang gemetar karena jaraknya dengan Donghae saat bicara tadi. Suara Donghae yang mengatakan ‘tidak perlu gugup. Kerja santai aja’ seperti memenuhi kubikelnya. Dihari pertamanya bekerja ia sudah dibuat gila oleh seorang Lee Donghae.

Sementara itu pemandangan berbeda di lantai 8. Seperti yang diperkirakan Ryeowook, tidak ada yang mengganggu Myungsoo dihari pertamanya. Semua wanita di lantai itu -kecuali Yunji dan Luna- tetap menjadi pengejar fanatik Donghae. Dan keberuntungan memang sedang berpihak pada Myungsoo. Ia ditempatkan sebagai junior art creative team bersama Yunji dan Luna. Tepatnya sebagai asisten Luna. Sambutan Yunji dan Luna padanya benar-benar hangat. Tidak ada orientasi ataupun senioritas. Hal berbeda yang dialami oleh Myungsoo adalah di jam pertamanya bekerja ia justru diajak sarapan bersama dua seniornya. Yunji yang menyelesaikan tugasnya hanya memberikan komentar kecilnya saat Luna menjelaskan seluk-beluk divisi ini beserta karakter setiap individu di dalamnya. Myungsoo yang mendengarkan lebih sering ber-oh dan ber-wow ria.

“Di lantai 7 ada seorang pria, namanya Donghae…”, Sisi memulai acara infotainment nya. “…dia idola para gadis di Frente Corp. Alasan kau safely, happily dan cheerfully di hari pertama mu karena gadis-gadis di lantai ini adalah pengejar, eh penggemar fanatik Donghae”.

“Fanatik?” Tanya Myungsoo heran.

“Sangaaaat. Parah. Aku sebenarnya agak khawatir dengan anak baru di lantai 7. Pasti Medusa sudah memberi tatapan lasernya untuk dia”, jelas Luna lagi, meringis.

“Mungkin lebih parah. Dia… Saya dengar dia jadi asisten nya”, kata Myungsoo hati-hati.

“Semoga Tuhan memberkati dia…” Luna tulus mendoakan. Sementara Yunji hanya tertawa kecil mendengar temannya.

Doa itu memang sangat dibutuhkan Choa. Karena setelah hampir seminggu bekerja di Frente Corp, ia masih saja dalam masa orientasi. Saat datang di pagi hari, ia tidak bisa masuk ke lift bersama Victoria, Sooyoung dan yang lainnya. Ia harus menunggu lift berikutnya, atau terpaksa menaiki tangga jika Donghae sudah mencarinya. Victoria juga memperingatinya untuk tidak berbicara dengan Donghae diluar masalah pekerjaan kecuali Donghae yang mengajaknya bicara, Choa juga tidak boleh menggunakan rok pendek atau berdandan berlebihan, Choa tidak boleh menatap mata Donghae lebih dari satu menit dan yang terutama Choa tidak boleh mencari perhatian Donghae. Choa hanya bisa menerima nya agar tidak ada masalah apapun padanya dilain hari. Choa takut akan diperlakukan buruk di tahun awalnya bekerja. Berbeda dengan Yunji yang tidak pernah takut dengan tatapan ataupun ucapan Victoria sejak awal ia bekerja di Frente Corp.

Seperti hari kemarin, Victoria dan kedua temannya bekerja ganda. Menyelesaikan pekerjaan nya dan mengawasi Choa. Mereka tidak akan mentolerir satu tindakan pelanggaran kecil apapun. Namun, sejak kemarin pengawas Choa bertambah. Wanita-wanita lain di lantai itu memutuskan untuk bergabung dan mengawasi langkah Choa. Membuat Choa hampir menangis setiap ia menyadari tatapan mengawasi semua pegawai di lantai itu. Tatapan mereka bahkan tidak teralihkan dengan terbukanya pintu lift yang menampakkan sosok Yunji yang keluar dari lift. Sesampainya di kubikel Donghae, mata-mata itu baru menyadari keberadaan musuh sebenarnya disana. Kali ini Choa ikut menatap wanita yang sudah bertandang dan mengetuk-ngetuk kubikel Donghae.

“Lee Donghae…”

“Ya?” Donghae masih fokus ke pekerjaan nya dan tidak menyadari kedatangan Yunji.

“Donghae-ya…” Yunji memanggil Donghae lagi dengan nada manja yang membuat hampir seisi ruangan mendengus kesal.

“Ya… Kena… Yunji-ya? Sejak kapan?” Donghae membelalakkan matanya melihat Yunji dihadapannya.

“Tiga menit yang lalu. Cukup melihatmu garuk kepala, mengusap leher lalu menggelengkan kepala” jelas Yunji.

“Kenapa kau hanya diam?” Tanya Donghae sambil menuliskan beberapa kata terputusnya.

“Sangat sibuk?” Tanya Yunji.

Donghae langsung meletakkan pensilnya dan melipat tangannya diatas meja. “Sekarang tidak. Ada apa?” Tanya nya hangat pada Yunji.

Mata Choa terbelalak melihat reaksi Donghae. Seingatnya dua hari lalu ia menanyakan hal yang sama untuk meminta Donghae mengajarkan hal yang tidak ia mengerti tapi reaksi Donghae hanya, ‘hmm? Sebentar, Choa-ya. Lima menit’. Kemarin pun dua orang menanyakan hal yang sama pada Donghae. Yang pertama Victoria yang akhirnya dijawab sekenanya oleh Donghae, ‘Kelihatan kan? Kalau mau bicara nanti saja Victoria. Disimpan dulu’. Yang lain seorang teman di telfon yang hanya dijawab, ‘Nanti malam aku hubungi. Kerjaan menumpuk, hyung’. Dan seorang Yunji berhasil membuat Donghae meletakkan pensilnya, menatapnya lekat dan mengatakan ‘sekarang tidak’.

“Umm… Boleh pinjam charger?” Tanya Yunji ragu-ragu.

“Kenapa tidak telfon saja nanti aku antar keatas?”

“Kan yang bisa digunakan untuk telfon butuh charger”.

“Telfon kantor?” Tanya Donghae sambil mengambilkan barang yang ingin dipinjam Yunji.

“Aku tidak pernah menghafal nomor. You know it more than very well“.

“Ini…” Donghae menyerahkan chargernya pada Yunji. “Hafalkan paling tidak satu nomor, Yunji-ya…”

“Nomor Luna?” Tanya Yunji menggoda.

“Kalau begitu dua nomor. Dan bukan nomor telfon delivery order“.

“Aku usahakan”, kata Yunji sambil meringis kecil. “Mau juice? Atau kopi? Wajahmu sangat lelah”.

“Tidak ada pilihan kau stay di kubikelku selama satu jam?” Tanya Donghae. Pertanyaan nya membuat hawa di ruangan itu memanas. Mood seisi ruangan runtuh bersamaan.

“Sayangnya tidak ada. Tapi mungkin ada sale 10 menit”.

Deal. Aku carikann kursi dulu”, Donghae beranjak dari kursinya dengan semangat.

Nope. I’m okay. Meja belakangmu ada space kosong. I’m not that big“.

Okay then. Duduk manis disitu 10 menit ya sesuai janji”.

Yunji menuruti permintaan Donghae untuk duduk manis didekatnya. Donghae-pun membalikkan posisi duduknya menghadap Yunji. Banyak mata yang tidak bisa lepas menatap kegiatan keduanya. Donghae tetap fokus ke pekerjaan nya. Sementara Yunji bermain dengan ponsel Donghae, sesekali mengambil gambar sosok menarik perhatian didepannya.

“Oh iya, asisten baru tidak dikenalkan padaku?” Tanya Yunji.

“Oh right. Aku lupa. Choa, ini Yunji ku. Yunji ini Choa”.

“Park Choa ibnida. Panggil saja Choa “.

“Hai. Aku Yunji. Kau benar cantik. Si boy tidak bohong ternyata”.

“Boy?” Tanya Donghae dengan nada tinggi. “Siapa boy? Aku baru mendengarnya. Tidak pernah disebut Ryeowook sepertinya. Model? Anak produksi gedung sebelah?”

“Kau berisik”, kata Yunji berbisik di telinga kanan Donghae sambil menyentuh bahunya.

Donghae merasakan hal yang aneh dengan reaksi tubuhnya. Sentuhan Yunji barusan membuat darahnya berdesir deras, nafasnya sedikit tercekat dan detak jantungnya menjadi cepat. Donghae menghela nafasnya dalam. Reaksi seperti ini tidak pernah dirasakannya. Yunji sudah sering menyentuhnya dan tidak pernah terjadi apapun. Hari ini sentuhannya hampir membuat Donghae ingin berteriak jika ia tidak sedang dalam ruangan kantor. Choa yang memperhatikan Donghae lebih tercekat. Choa melihat betul perubahan ekspresi Donghae.

“Boy itu Kim Myungsoo. Intern yang masuk bersama Choa juga”, kata Yunji sambil memijit bahu Donghae.

“Lalu Boy itu panggilan sayangnya?” Tanya Donghae.

Nada bicara itu kembali lagi. Nada yang memiliki arti ambigu itu. Bisa diartikan keinginan segera mengganti topik pembicaraan atau juga bisa diartikan kecemburuan. Choa tidak bisa menentukan nada bicara itu mengartikan apa. Tatapannya tidak terlepas dari Donghae. Victoria dan yang lainnya tidak menyadari itu. Karena sudah kebiasaan mereka, jika Yunji datang mereka tidak akan memperhatikan Donghae dan Yunji. Karena akan berakhir dengan sakit hati melihat kedekatan mereka.

“Bisa dibilang begitu. Karena dia fresh graduate lebih tepatnya”.

“Bisakah kau disini 10 menit lagi?” Tanya Donghae.

“Ups! Sudah 10 menit ternyata. Tapi wajahmu masih lelah. What can I do for you, then?

Kiss me“, bisik Donghae. Choa mendengarnya.

Alright… Here“, Yunji mencium jempolnya dan menempelkannya ke hidung Donghae lalu beranjak pergi.

Lunch with me?” Tanya Donghae sebelum Yunji menghilang.

Oui!”

Ough… energy 80% charged“.

Donghae tersenyum lebar, menggeliat lalu menghembuskan nafas panjang. Choa langsung menundukkan kepalanya karena Victoria kembali memperhatikannya. Choa menatap lembar pekerjaan nya namun pikirannya melayang mengikuti Yunji ke ruangannya. Ia membuat dugaannya sendiri tentang sosok bernama Yunji yang membuat senyum Donghae mengembang lebar begitu wanita itu menghampirinya. Wanita itu bahkan tidak diperhatikan oleh para seniornya di ruangan itu. Mungkin beberapa wanita di ruangan ini akan setuju dengan Choa kalau Yunji bahkan tidak sesempurna Victoria. Namun ada satu hal yang membuat wanita itu serba lebih dibanding Victoria. Ia sangat baik.

“Aish! Aku lupa!” Kata Donghae sambil menepuk dahinya.

“Ada apa, sunbae?” Tanya Choa.

“Hari ini kita ada meeting jam 11 dengan Kepala bagian. Kau ikut aku, ya?”

“Oh… baik, sunbae”.

“Yunji… Yunji… Yunji… Where’s my cell phone?” Donghae mencari ponsel di mejanya.

“Di meja belakang, sunbae” Choa membantu.

“Oh. Thanks“.

Donghae langsung mencari kontak Yunji di ponselnya lalu menghubunginya. Ternyata ponsel Yunji belum diaktifkan. Donghaepun menghubungi telfon di kubikel Yunji.

“Yunji-ya? Aku ada meeting siang ini jam 11. Forgive me. Can you?

Of course. Semoga lancar meeting nya ya, dude!”

Aw! Yunji, jangan injak kaki ku!” kata suara lain diseberang telefon.

Oh my God, sorry boy…

Terdengar suara laki-laki di seberang telfon. Donghae langsung mengatupkan rahangnya. Nafasnya menjadi berat. Ekspresi mukanya berubah menunjukkan ketidak sukaannya.

“Donghae-ya? Masih disana?” Tanya Yunji.

“Ya. I’ll drive you home” kata Donghae.

“Kalau kau sibuk tidak…”

I’ll drive you home, okay?” kata Donghae memotong kalimat Yunji.

“Okay”.

 

 

 

 

TBC…

 

 

 

Note:

Ada apa dengan perubahan sikap Donghae? Apakah kehadiran Myungsoo dan Choa menambah rumit keadaan? Masih belum terungkap siapa pemilik catatan itu. Ada yang curiga dengan pria yang tidak sengaja ditabrak Donghae di supermarket? Simpan tebakan kalian. Nantikan part selanjutnya…

Advertisements

7 thoughts on “The Untold Story between Us Part 4

  1. Ceritanya rame banget, penasaran siapa cowo yang nulis catatan itu.
    Ga sabar nunggu cerita selanjutnya, aku tunggu part 5 dan selanjutnya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s