The Untold Story between Us Part 2

– The Untold Story between Us (Part 2) –

 

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:   Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

Other Cast:

Kim Hyuna, Victoria Song, Kwon Yuri, Kim Hyorin, Cho Kyuhyun, etc.

Preface:

Annyeonghaseyo. FF ini adalah hasil pemikiran dan karyaku sendiri. Tapi, sebelumnya author ingin memohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Author jujur, ff ini sudah author tulis dari tahun 2014, tapi baru sekarang author publish. Dan, author juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi. Selamat membaca…

The Untold Story between Us Part 2

Donghae’s POV

Senin sudah berlalu. Sebuah goresan manis sudah bertengger di keningku sejak semalam. Pagi ini aku hanya tinggal melayani beberapa pertanyaan dari para updating kabar pagi (re: the gosipers) di Frente Corp. Aku bisa menyebutkan daftar penanya pertama sampai kelima dari lobby hingga meja kerjaku, yang sudah siap memberikan ekspresi berbeda-beda saat melihat keningku.

Yang pertama Han Sunhwa, resepsionis muda yang baru setahun terakhir bekerja di Frente Corp. Umurnya 23 tahun, satu tahun lebih muda dari Yunji. Tubuh ramping -yang lebih cocok disebut sangat kurus-, rambut sebahu yang baru saja di keriting, dengan setelan blus hitam dan lipstick merah yang cukup mempertua wajah mungilnya.

“Donghae-ssi, ada apa dengan dahimu? Kenapa di perban seperti itu?” Pertanyaan atas dasar tata krama, pikirku.

“Terbentur.” jawabku sekenanya.

Makhluk di depanku ini akan bicara terlalu banyak jika aku memberikan jawaban lebih dari satu kata. Dan perhatian khusus, senyuman adalah hal paling penting untuk awal pagi di Frente Corp. Karena kalau tidak tersenyum -sekecil apapun- kabar yang tersebar akan berbeda. Kata jawaban yang sebenarnya hanya satu bisa menjadi belasan bahkan puluhan. Ceritanya bisa menjadi, “Sepertinya Donghae dipukul kekasihnya. Kebayang sih kekasihnya ganti-ganti begitu.”

Cukup dengan Sunhwa. Aku tidak suka terlalu berbasa-basi lama di lobby. Sunhwa bukan orang yang tepat dijadikan teman berdiskusi di pagi hari. Tapi anehnya Yunji bisa menghabiskan lima sampai sepuluh menit di meja resepsionis untuk berbincang ringan sebelum menuju ke kubikelnya. Sebelum pertanyaan Sunhwa bertambah dan aku harus menjawab lebih panjang, lebih baik aku segera berlalu menuju lift. Tidak lupa aku meninggalkan syarat utama penduduk Frente Corp, senyuman -yang bagaimanapun sangat tipis dan dipaksakan-.

“Eo, Tuan Lee, meorireul gwaenchanseubnikka?”

Suara yang satu ini aku kenal betul. Hampir enam tahun bekerja di Frente Corp, suara itu yang selalu menanyakan kabarku atau sekedar mengucapkan selamat pagi padaku. Shin Donghee -lebih suka dipanggil Shindong ahjussi-, kepala keamanan yang sudah mengabdikan dirinya belasan tahun di kantor ini. Seperti pagi-pagi biasanya, akan kurang rasanya kalau tidak mendengar pertanyaan atau sapaan dari Shindong ahjussi. Kalimat-kalimat dari Shindong ahjussi lebih terasa keikhlasannya. Benar-benar dari hati. Tidak sekedar basa-basi atau pancingan untuk mendapat berita yang bisa segera disebarkan ke penduduk lantai atas.

“Ah… Ne. gwaenchanseubnida. Hanya terbentur. Kecelakaan kecil.” Jawabku jujur.

“Tuan Lee ada-ada saja bisa terbentur seperti itu. Bukankah apartemen milik Tuan Lee cukup besar? Jangan memikirkan kekasih terus, Tuan. Kasihan wajah tampannya…” goda Shindong ahjussi.

Entah kenapa kalau tanggapan itu keluar dari mulut Shindong ahjussi, aku justru tertawa mendengarnya. Lain ceritanya kalau yang mengatakan itu adalah makhluk-makhluk yang sebentar lagi akan aku temui di lantai 7 gedung Frente Corp. Penggosip kelas atas, yang tentu saja sudah mendapatkan kabar hangat from-the-oven langsung dari saksi hidup pertama di lobby.

“Saya naik dulu kalau begitu, ahjussi.” Pamitku pada Shindong ahjussi.

“Silahkan, Tuan.” Shindong ahjussi membalas dengan senyuman ikhlas.

Lantai 2…..

Lantai 3…..

Lantai 4…..

Aku menghitung setiap lantai yang ku lewati. Aku menebak-nebak makhluk yang akan muncul pertama di depan pintu lift. Singa betina 1, betina 2 dan betina 3. Kemungkinan besar pagi ini singa betina 2 akan mengambil inisiatif berpura-pura lewat di depan lift. Rasa ingin tahu dan inisiatifnya begitu tinggi. Tidak ada satu beritapun tentangku yang terlewat olehnya. Kemudian singa betina 3 akan berlari-lari kecil ketika sinyal kegaduhan dari singa betina 2 mencuat dan tertangkap radarnya. Singa betina 1 tidak suka terlalu mencolok. Ia akan menunggu di kubikelnya yang terletak bersebrangan dengan kubikelku. Pintu lift terbuka. Saatnya menarik napas panjang.

Oh my Godness! Here he is! Siapa yang membuat keningmu menjadi seperti itu, seksi?”

 

Wait… What?

Aku mengernyitkan kening mendengar julukan terbaru yang diberikan Yuri padaku. Sebelumnya aku lebih sering mendengar julukan tampan, manis, atau cool. Julukan-jukulan itu masih bisa aku terima. Well, karena itulah gambaran diriku. Tapi kali ini julukan yang ku dengar sedikit membuatku mual. Belum sempat ia memberikan jawabannya, singa betina 3 sudah ikut datang dengan wajah khawatir dilebih-lebihkan. Seperti dugaanku…

What kind of activity you did last night, huh? Kau tidak sayang pada wajahmu? Astaga… Gores. Sayang sekali wajah tampan dewa-mu itu, Donghae-ya…”

Aku menjauhkan wajahku yang hampir disentuh oleh Hyorin. Aku benar-benar mual. pikirku.

“Jangan berlebihan. Ini hanya tergores.”

Aku berlalu meninggalkan kedua makhluk dengan ekspresi sangat lebih di depan lift. Ekspresi yang semula khawatir berlebihan langsung berubah menjadi kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Dan, masih ada satu orang lagi yang harus aku hadapi. Seorang wanita di seberang kubikelnya. Menurutku, Victoria adalah wanita yang sangat cantik, terlihat muda, anggun, berpengetahuan luas, dan caranya berkomunikasi sangat menarik. Aku sempat tertarik dengannya. Tapi kemudian kebiasaan yang serupa dengan kedua rekan kerjanya di depan lift barusan meruntuhkan keingininanku mendekatinya.

“Jadi, apa kau akan memberi tahu aku apa yang terjadi dengan keningmu?” tanya Victoria.

Kalimat sederhana dan manis itu meluncur dari bibir pink Victoria. Wanita itu berdiri lalu menopang tubuh dengan kedua tangannya di atas meja kerjaku. Kekagumanku kembali memenuhi isi otakku yang berkhayal jauh saat melihat bibir pink mungil itu. Aku meletakkan tas di meja sambil masih sibuk menghilangkan beberapa khayalan yang sangat jauh dari kenyataan di depanku. Kalimat Victoria begitu sopan pagi ini. Seperti sudah ditata dan dipikirkan beberapa menit sebelum meluncur manis dari bibirnya.

“Terbentur.” jawabku dengan nada bicara yang tak kalah sopannya.

“Ya, aku tahu. Tapi pasti ada proses sebelumnya kan? Di dorong lalu terbentur? Lampu kamar gelap lalu terbentur? Atau dibenturkan?”

Aku tersenyum tipis. Hilang sudah khayalan manisku. Kesopanan dan kelembutan hanya sebagai prologue. Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak terlalu terbuai dengan kalimat awal seorang bidadari lantai 7, Victoria Song. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kalah ingin tahu dan lebih mengarah ke curiga menduga-duga akan menjadi kalimat penghilang kemanisan diawal percakapan tadi. Aku lebih suka tidak menanggapinya dan duduk sambil mengeluarkan beberapa kertas yang ku bawa. Kemudian menyalakan computer dan memeriksa beberapa e-mail­ yang masuk. Victoria belum beranjak dari tempatnya. Masih berdiri menunggu jawabanku. Aku bisa melihat dari ujung mataku, dari meja masing-masing Yuri dan Hyorin memperhatikan Victoria yang menunggu jawabanku. Victoria berdeham mengingatkan keberadaannya padaku. Tapi aku tidak ingin menghiraukannya. Perhatianku justru tertuju pada secarik kertas yang diselipkan dibawah keyboard.

Lee Donghae, aku berangkat terlalu pagi hari ini. Pekerjaanku terlalu menumpuk dan Luna sudah mengingatkan aku untuk buru-buru menghuni kubikel jam 7 tadi. Karna aku tahu kau pasti akan langsung keluar apartment begitu selesai bersiap-siap, jadi aku sudah memasukan kotak makanan ke tasmu. Lengkap dengan coklat hangat di termos kecil. Itu bukan hiasan atau pemberat. Jadi harus dkau makan. Oh ya, maaf soal penggosip yang pasti sekarang sedang mengganggumu.

 

Your lovely Ahn Yunji

 

 

“Lee Donghae?”

“Ya?” Sebuah suara menyadarkanku.

“Kau belum menjawabku.” kata Victoria menuntut.

“Tentang?” tanyaku.

Aku tidak berpura-pura. Aku memang benar-benar lupa dengan pertanyaan Victoria tiga menit lalu. Pesan singkat dari Yunji mengalihkan pikiranku dari makhluk-makhluk ingin tahu didepanku. Aku cukup terkejut melihat bukan hanya Victoria yang berdiri menatapku, tapi juga Yuri dan Hyorin sudah memasang wajah sama geramnya dengan Victoria.

“Apa penyebab perban itu bertengger di keningmu?” tanya Hyorin ketus.

“Ah… masih soal itu?” tanyaku lagi.

“Ya memangnya ada topik lain yang sedang kita bicarain sejak tadi?” sambung Victoria tak kalah ketus.

“Aku sudah bilang sejak tadi. Terbentur.”

 

Sabar Donghae-ya… Dia seorang wanita… Tahan emosi… Aku mengingatkan diriku. Bukan tidak ingin berdebat. Sejak awal aku sudah ingin memberikan kalimat-kalimat pedas dan sarkastis untuk ketiganya. Tapi permintaan maaf Yunji menahanku untuk tetap sabar. Ini konsekuensi perban besar Yunji yang sebenarnya bisa saja aku ganti dengan plester kecil. Tapi akhirnya Yunji pasti akan berkomentar panjang lebar untuk hal itu.

“Kita tahu itu terbentur, Lee Donghae. Kau sudah mengatakannya sejak awal. Penyebabnya Donghae-ya… Penyebab.” Yuri memberi penekanan untuk kata terakhir yang diucapkannya.

“Oke. Ini memang terbentur. Dan untuk penyebabnya, aku pikir itu bukan urusan kalian. Tidak perlu terlalu ingin tahu.” jawabku datar kemudian berlalu menuju ruang foto copy di sudut dekat pantry.

“Donghae-ya! Lee Donghae!”

Yunji’s POV

Aku baru saja keluar lift dan melihat Donghae berjalan menjauhi mejanya. Aku memanggil Donghae sambil berlari-lari kecil.

“Donghae-ya! Lee Donghae!”

Orang yang ku panggil tetap berjalan santai menuju ruang foto copy. Sepertinya ia mengira suara itu berasal dari penggosip terakhir dari lantai atas yang tentu saja mendapat info dari penjaga lobby.

“Dongie-ya! Ya! Lee Donghae!!!”

Donghae akhirnya berhenti mendengar nama pertama yang didengarnya. Dari seluruh pegawai Frente Corp, hanya aku-lah yang berani memanggilnya dengan sebutan ‘Dongie’.

“Mungkin besok-besok aku harus membawa microphone untuk memanggilmu”, kataku saat akhirnya bisa menghampirinya.

Donghae menyengir lebar mendengar kata-kata ku. Kalimat itu akan berubah sedikit pedas jika ia tidak berhenti dan berbalik. Saat mata kami bertemu, Donghae menatapku dengan tatapan yang sangat tidak biasa. Donghae bahkan tidak menyadari tatapan dan lenguhan keras dari trio macan di meja mereka masing-masing. Tidak hanya itu, hampir sebagian besar wanita di lantai itu juga melakukan hal yang sama saat ini. Ruangan itu tidak terjangkau oleh mata-mata ingin tahu wanita-wanita yang diam-diam mengagumi Donghae. Jika pemandangan di pagi hari sudah seperti ini, mood dilantai itu sudah terjamin akan sangat buruk sampai akhir jam kerja. Apakah sosok yang diperhatikan menyadari? Yang benar saja. Donghae bahkan merangkulkan tangannya di bahuku.

Aku dikejutkan dengan tatapan mata para wanita yang memicing runcing saat kami keluar dari ruang foto copy. Senyum lebar dari Donghae semakin memanaskan mata yang memandang kami. Sebagian dari wanita-wanita itu memilih membuang muka dan berpura-pura sibuk dengan computer masing-masing. Beberapa diantaranya, sebut saja trio macan dan lingkungan sekitarnya justru sibuk dengan dugaan-dugaan sinis tentang kegiatan kami di ruang foto copy. Ini hanya dugaanku. Sepertinya permasalahan mereka adalah setiap aku mampir ke lantai ini, Donghae akan mengajakku bicara di ruang foto copy. Menurut penghuni di lantai itu aktivitas kami sangat mencurigakan. Bagi kami itu bukan hal yang aneh. Kami menyebut diri kami pecinta ketenangan. Sangat tidak akan tenang jika kami bicara di kubikel Donghae. Penghuni betina disana pasti akan memasang telinga sangat lebar untuk mengetahui pembicaraan kami.

Author’s POV

 

“Itulah karakter Ahn Yunji. Aku pernah melihatnya bersama Daehyun, karyawan HRD berbicara bedua saja di cafetaria. Coba kalian pikir, apa yang mereka lakukan?” Hyorin membuka topik kericuhan.

“Yunji juga pernah bercanda dengan Direktur Cho di ruang pemotretan”, sambung Mia memprovokasi.

“FYI, Yunji adalah musuh besar Choi Sooyoung di lantai 8. Sooyoung bercerita padaku bahwa Yunji juga sering mengajak Donghae ke ruang foto copy dilantai itu.” Pernyataan Yuri kali ini semakin memanaskan suasana.

“Nappeun nyeon…”

Victoria hanya mengataka kata-kata yang sudah ditahannya sejak lama. Jika di lantai 8 ada Sooyoung yang menamai dirinya “musuh besar Yunji”, di lantai 7 Victoria-lah orangnya. Kebenciannya bukan hanya karena cemburu melihat kedekatan Donghae dengan Yunji. Ia cukup kesal dengan sikap penghuni laki-laki di lantai ini yang akan melembut saat Yunji mampir atau sekedar muncul di ambang pintu lift yang terbuka karena Yunji salah memencet tombol. Victoria tahu betul dirinya masuk dalam jajaran karyawan yang diperhitungkan kecantikannya oleh setiap mata karyawan laki-laki yang melihatnya. Dan masuknya nama Yunji dalam daftar itu membuatnya tidak tenang sedikitpun. Menurutnya, Yunji sangat tidak memenuhi syarat menjadi “The Miss” dalam daftar itu. Penampilan Yunji yang jauh dari elegant, dan make-up nya yang tidak seberapa membuat nama Yunji diletakkan jauh-jauh oleh Victoria dari calon kandidat “The Miss”.

“Siang nanti kau harus makan. Kkok… Jangan sakit.”

Pesan Yunji sebelum masuk ke lift. Donghae hanya mengangguk dan tersenyum singkat padanya. Dua kata itu benar-benar mengganggu Donghae. “Jangan sakit”. Donghae sudah sedikit lupa dengan catatan itu. Tapi dua kata itu mengingatkannya begitu cepat. Dan hanya lenguhan panjang yang bisa Donghae keluarkan.

 

Di ruang foto copy beberapa menit yang lalu

“Wow! Aku pikir mereka sudah bertobat berprofesi sebagai penggosip slash paparazzi.” Tanggapan Yunji dua langkah dari pintu ruang foto copy.

“Teruslah berharap”, sambung Donghae sambil menggandakan beberapa kertas.

“Apa kau lihat ekspresi Victoria tadi? Dia tidak bercanda membenciku. Matanya itu. Wah… Seolah-olah dipikirannya sedang terlintas cara-cara untuk menjauhkanku dari hidupnya. Mendorongku dari lantai tujuh, atau taruh bom di sela-sela buku di kubikelku, atau me…”

Ucapan Yunji terhenti saat tiba-tiba Donghae berada di depannya. Tubuhnya terhimpit mesin foto copy dan tubuh Donghae. Nafas Yunji tercekat melihat wajah Donghae yang begitu tenang dan datar memandangnya. Tangan kiri Donghae dilingkarkan di pinggang Yunji. Dan tangan kanannya membelai pelan pipi Yunji, mengambil bulu mata Yunji yang jatuh, kemudian meletakkannya dipuncak kepala Yunji. Detak jantung Yunji bertambah cepat. Rasanya kaki Yunji sudah lemas dan bisa saja ia jatuh terkulai jika Donghae tidak melingkarkan tangannya di pinggang Yunji.

“Kau sangat cerewet pagi ini. Rambutmu sepertinya masih agak basah”, kata Donghae sambil membelai rambut Yunji.

“A… aku… ti… tidak sempat mengeringkannya tadi pagi. Ya… aku tidak sempet”, kata Yunji dengan susah payah.

Donghae tertawa kecil. Kemudian menjauhkan tubuhnya. Yunji menghela nafas panjang. Ia jadi salah tingkah. Sementara Donghae kembali merapikan kertas-kertas yang dibawanya tadi.

“Sudah ya menduga-duganya. Aku merinding mendengarnya…”

Yunji mengangguk.

“Hmm… Yunji-ya…” panggil Donghae.

“Eo?” Yunji masih gugup.

“Kau tidak perlu gugup seperti itu…” goda Donghae.

“Aniya! Siapa yang gugup? Biasa saja”, kata Yunji sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah memerahnya.

“Well, aku masih tunggu jawabanmu. Hyuna bisa datang kesini atau ke apartment kapan saja. Sifatnya sekarang..…”

“Aku akan membantumu”, potong Yunji.

Donghae tersenyum lebar pada Yunji. Jantung Yunji kembali berdetak cepat, membuat Yunji kembali mengalihkan pandangannya dari mata Donghae. Rasa tidak nyaman karena detak jantungnya dan keberadaan Donghae membuat Yunji menjadi gugup tidak karuan. Suasana menjadi sangat hening. Hanya ada suara mesin foto copy yang sedang menggandakan kertas-kertas Donghae.

“Kau menginginkan imbalan apapun? Tidak biasanya…”, tanya Donghae menghentikan keheningan dalam ruangan itu.

“Aku terima apa saja yang akan kau berikan sebagai imbalan”, jawab Yunji santai.

I’ll kiss you”, bisik Donghae.

Yunji langsung meninju pelan lengan Donghae dan mereka keluar dari ruangan itu sambil tertawa bersama.

Frente Corp 3 hari kemudian

 

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di Frente Corp. Ada yang bisa saya bantu?” ujar Sunhwa pada tamu yang baru saja datang.

“Saya ingin bertemu dengan Donghae. Lee Donghae.”

“Apa anda sudah membuat janji?” tanya Sunhwa lagi.

“Sudah”, jawabnya pasti.

“Siapa nama anda?”

“Hyuna. Kim Hyuna”

– Untold Story Between Us Part 2 –

February 4th, 2008

Kau rindu orang tuamu. Jika aku boleh berkata sedikit jujur, aku tak ingin membiarkanmu kembali. Aku menetap di negara asing ini untuk menyusulmu. Tapi kemudian kau ingin kembali. Kau pernah mengatakan London kota tercintamu. Tapi kemudian kau mengatakan mimpimu tidak disini. Kau menuliskan impianmu dalam kertas biru dan menempelnya di dinding kamarmu. Tapi kemudian kau hanyutkan kertas itu di sungai belakang kampusmu. Aku mencegahmu dengan mengatakan aku disini. Dan kata-katamu menyakitkanku. Menurutmu aku bukan duniamu. Kau berubah, Yunji-ya. Dan kau menyadari itu. “Everyone changed. So did I. But, you’re stuck on your grey dream. Everyone changed.” Kata-kata itu menghantam kepalaku keras. Percayalah, aku tahu benar setiap orang pasti berubah. Tapi kau berubah begitu jauh. “I miss everything about you last time.” kataku padamu. Dan kembali, balasanmu menyakitiku, “Sorry, I don’t.”

 

Yunji bermain-main dengan pensilnya di kubikel Luna yang berada di sudut ruangan lantai delapan. Deadline tujuh hari yang tersisa untuk konsep pemotretan produk fashion terbaru rancangan designer ternama sudah memenuhi pikirannya selama dua minggu terakhir. Minggu lalu Yunji sudah mendapatkan beberapa konsep dan mendiskusikannya dengan Park Bom timjangnim. Tapi berkat Choi Sooyoung, Park timjangnim meminta Yunji untuk menyempurnakan konsepnya tanpa melihat ataupun membaca berkas yang ia ajukan terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan Sooyoung mengatakan konsep itu masih dibawah rata-rata. Sayangnya timjangnim sangat percaya pada Sooyoung.

Dari kejauhan terdengar samar-samar suara beberapa karyawan perempuan yang membicarakan sesuatu. Ada Sooyoung disana. Yunji memutuskan untuk mengabaikan perbincangan mereka. Tapi kemudian Yunji mendengar nama Donghae disebutkan. Yunji dan Luna saling menatap satu sama lain. Yunji mengangkat bahunya. Ia tidak ingin terlalu mencampuri kegiatan sehari-hari Sooyoung. Luna-pun akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Sunhwa mengtakan bahwa wanita itu sangat cantik. Tubuhnya tidak kurus, tidak gendut. Tapi ukurannya… serba lebih.” Jelas Gina pada yang lainnya.

“Dasom-ah, coba kau cek ke lobby seperti apa wanita yang bernama Hyuna Hyuna ini”, kata Sooyoung pada Dasom yang segera berlari menuju lift.

Mendengar nama Hyuna, Yunji langsung beranjak dari kubikel Luna ke kubikelnya untuk mencari ponselnya. Sooyoung dan kawanannya masih memperdebatkan wujud Hyuna yang sedang diselidiki oleh Dasom. Yunji tahu ia harus segera memberi tahu Donghae tentang kedatangan Hyuna yang sangat tiba-tiba ini. Seingat Yunji, ia meletakkan ponselnya di tas. Tapi Yunji tidak juga menemukannnya. Suasana tiba-tiba hening. Yunji masih mencari ponselya sampai seseorang melambai-lambaikan benda yang ia cari di depan matanya. Donghae datang dan membawakan ponsel Yunji.

“Oh ini dia. Gomawoyo. Aku harus buru-buru menghubungi Donghae”, kata Yunji cepat. Ia tidak melihat dengan jelas orang yang memberikan ponselnya.

“Hei! Nan yeoginde… (aku disini)”

“Omo! Donghae-ya! Hyuna datang. Dia di lobby.” Kata Yunji setengah berbisik. Yunji tahu betul Sooyoung beberapa yang lain memperhatikan mereka. Kedatangan Donghae selalu membuat semua mata beralih padanya.

“Aku tidak terkejut. Aku pernah mengatakannya padamu, mungkin saja ia akan datang kesini atau ke apartmentmu. Ternyata dia kesini”, kata Donghae santai

Donghae dengan santai duduk di kursi Yunji. Memutar kursinya sambil bersiul pelan. Yunji hanya bisa bersandar di meja kubikelnya sambil memperhatikan Donghae yang tidak menunjukkan kekhawatirannya.

“Wae?” tanya Donghae akhirnya yang menyadari tatapan Yunji.

“……….”

Donghae bangkit dari kursi Yunji dan langsung berdiri tepat di depan Yunji. Kali ini mereka masih berjarak setengah meter. Tapi kemudian Donghae maju perlahan mendekati Yunji. Semua mata yang melihat tindakan Donghae sontak langsung bulat membesar. Yunji tidak menyadari hal itu karena posisinya membelakangi semua makhluk ganas yang memperhatikannya dengan tatapan ingin membunuh itu. Donghae berhenti tepat didepan Yunji. Kejadian di ruang foto copy lantai tujuh kemarin lusa kembali terulang. Jantung Yunji kembali berdetak sangat cepat. Tapi kali ini Yunji mampu mengontrol ekspresinya.

“Untung kita dekat. Ini semua akan berjalan mudah, sayang.”

Watch your words, handsome. Kita bukan di ruang foto copy. Sooyoung dan kawanannya siap menjadikan aku pajangan disebelah pintu lift. Di tangan mereka sudah ada air keras. Mereka juga sudah pesan etalase untuk memajang tubuhku.”

“Hahahahaha kalau begitu kau akan menjadi hiasan termanis di kantor ini.”

“Tidak lucu. Kalau aku dipajang di ruang pemotretan aku dengan senang hati diawetkan. Kalau disini? Terima kasih banyak. Aku tidak berminat…”

Donghae tertawa ringan sambil membelai kepala Yunji. Setiap pasang mata yang memperhatikan mereka semakin membesar melihat tangan Donghae yang dengan alaminya membelai setiap helai rambut target pembunuhan mereka. Tiba-tiba saja Donghae berhenti tertawa dan menghela nafas panjang. Ia kembali duduk di kursi dan mendekatkannya ke meja. Lalu memberi isyarat pada Yunji untuk mendekat dengan telunjuknya. Yunji yang tidak mencurigai apapun dengan santai mendekati Donghae. Wajah mereka berjarak sangat dekat. Kubikel yang cukup tinggi menghalangi pemandangan dari balik kubikel itu. Yang terlihat oleh Sooyoung dan teman-temannya hanyalah puncak kepala Yunji dan sedikit rambut Donghae yang diatur meninggi pagi itu. Yunji mengira Donghae ingin membisikkan sesuatu pada Yunji.

Stay cool. Whatever happen after this.” Bisik Donghae.

“Maksudmu?” tanya Yunji bingung.

Tiba-tiba Donghae mencium bibir Yunji. Dan disaat yang bersamaan pintu lift terbuka. Seorang wanita dengan gaun hitamnya mengedarkan pandangan di sepanjang ruangan. Donghae melepaskan ciumannya lalu berbisik lagi pada Yunji.

“Dia disini. Kau tidak perlu menghadapi dia. Cukup tutup matamu.”

Yunji yang masih terkejut tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa menutup matanya. Donghae menciumnya lagi. Kali ini Donghae memiringkan kepalanya sehingga Hyuna bisa menemukannya. Kedua tangan Donghae memegang lembut pipi Yunji. Sedangkan tangan Yunji meraih kerah kemeja Donghae. Kegiatan dibalik kubikel Yunji tidak terlihat. Hanya kepala Donghae yang terlihat jelas dari kejauhan karena Donghae membalikkan tubuh mereka cepat. Hyuna yang melihat itu hanya berdecak kesal di depan lift tanpa sedikitpun membalikkan tubuhnya.

Yunji melepaskan ciuman Donghae, masih sambil memegang kerahnya. Wajahnya datar dan matanya membelalak menandakan Donghae akan mendapatkan akibat dari perbuatannya nanti setelah Hyuna pergi. Donghae justru tersenyum puas lalu dengan cepat mencium kening Yunji dan berlari kecil meninggalkan Yunji menuju lift seolah tidak ada seorangpun di ruangan itu. Lalu Donghae menghentikan langkahnya ketika tatapan matanya dan Hyuna bertemu. Tentu saja itu sudah termasuk rencana Donghae. Ia sudah mengatur semuanya sejak awal ia memutuskan pindah ke apartment Yunji.

“Hyuna-ya… Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Donghae santai.

“Aku ingin bertemu denganmu tentu saja. And your girl. Who? That girl? The blue one?” tanya Hyuna sambil menaikkan sebelah alisnya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan Hyuna pada Donghae, Sooyoung menghela nafas panjang berkali-kali. Ia mencoba meyakini dirinya sendiri kalau apa yang didengarnya barusan tidak benar. Hyuna pasti salah orang. Memang di lantai ini hanya ada satu orang yang menggunakan blazer baby blue, Yunji.

“Yunji, right?” tanya Hyuna lagi.

Kali ini Sooyoung benar-benar dibuat kesal. Nama Yunji baru saja meluncur ringan dari bibir Hyuna. Dan tentu saja Sooyoung tidak salah dengar. Benar nama Yunji yang disebutkan. Di Frente Corp tidak ada lagi nama Yunji selain wanita ber-blazer biru yang menyibukkan dirinya dengan kertas-kertas konsep di kubikelnya. Dengan wajah dibuat-buat Yunji berusaha focus pada pekerjaannya, berpura-pura tidak menyadari kehadiran Hyuna dan emosi Sooyoung –dan kawanannya– yang sudah memanaskan hampir seluruh ruangan.

“Ayo kita mengobrol diluar. Ini bukan tempatku.”

Donghae sudah merasakan hawa panasnya. Ia memutuskan membawa Hyuna pergi dari tempat itu sebelum Hyuna mendatangi Yunji dan melakukan hal yang ia sendiri tidak bisa menduganya. Hyuna bisa saja mendatangi Yunji dengan santai seperti situasi yang baru saja terjadi hanya imajinasinya. Tapi setelah itu, Donghae tahu benar Hyuna bisa saja langsung mengambil tindakan buruk. Menampar? Jika ada multiple choice yang memberikan pilihan itu, Donghae akan segera memilihnya. Itu mungkin akan menjadi tindakan terlembut Hyuna. Tapi tindakan itu hanya akan dilakukan Hyuna jika situasi yang dilihatnya terjadi empat tahun lalu. Kali ini Hyuna datang dengan dirinya yang berbeda. Hyuna menyebutnya ‘proses menuju dewasa’. Donghae lebih memilih menyebutnya ‘memaksakan berubah’.

“Luna-ya!” sebelum meninggalkan ruangan Donghae memanggil Luna.

“Eo?”

“Titip Yunji-ku…”

Pintu lift terbuka. Donghae mempersilahkan Hyuna masuk ke dalam lift terlebih dahulu. Donghae menoleh pada Yunji, begitupun Yunji yang melayangkan tatapan ‘jangan pergi, please jangan tinggal aku di kandang reptil’ pada Donghae. Saat pintu lift akan menutup, Donghae tersenyum lebar pada Yunji yang hanya mengangkat tangannya dan menoleh ke arah Luna.

You know? Tindakanmu tadi benar-benar annoying”, protes Hyuna.

“Bagian mana yang kau sebut annoying? Dan… siapa pihak yang kau masukkan kategori terganggu?” pertanyaan bodoh itu dengan mudahnya keluar dari bibir Donghae dengan wajah tenangnya.

“Bagian kissing with your girl in the office? Kau pikir itu kegiatan yang dibenarkan di kantor? Oh, please… Dan, jangan katakan kepekaanmu masih dibawah rata-rata, babe. The girls? Tatapan mereka siap membunuh. Thanks to you sudah membawaku pergi dari sana. Kau cukup bodoh dengan meninggalkan dia disana. Well, I guess I should thank to them. Yunji ditangan mereka sekarang. Aku tidak perlu buang tenaga. Dan tidak tambah dosa tentu saja. Lee Donghae… Lee Donghae…” kata Hyuna panjang-lebar.

Donghae tidak mengatakan apapun. Ia terdiam menunggu lift terbuka kemudian ia bisa keluar dan menghirup sedikit udara diluar sana. Sebenarnya sejak pintu lift tertutup tadi beberapa bayangan keadaan di lantai delapan terlintas di kepala Donghae. Wajahnya memang cukup tenang, tapi otak dan jantungnya tidak. Kata-kata Hyuna tidak salah. Tapi teori Hyuna tentang ‘the girls’ yang siap membunuh Yunji, Donghae tidak bisa memperkirakannya. Selama ini belum ada tindakan nyata dari para ‘Yunji’s haters’ (begitu Yunji menamai mereka). Donghae hanya bisa berharap tidak terjadi apa-apa pada Yunji. Atau memang jika terjadi sesuatu, ia harap Yunji masih bisa menggapai ponselnya dan menghubunginya segera.

Pintu lift terbuka. Donghae mengajak Hyuna ke kafetaria yang masih berada di sekitar Frente Corp. Pikirannya masih jauh berpatroli di lantai delapan. Ini adalah pertama kalinya ia berharap memiliki kemampuan seperti dua tokoh vampire yang ada di buku favorit Yunji, Edward dan Alice. Dengan kemampuan Alice, Donghae mungkin akan tahu apa yang akan terjadi satu detik setelah pintu lift tertutup. Dan dengan kemampuan Edward, Donghae pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan Sooyoung dan kawanannya pada Yunji. Tapi tentu saja itu hanya ada dalam empat buku yang tidak pernah dipindahkan Yunji dari kubikelnya. Cerita fiksi, yang tidak pernah bisa Donghae mengerti dimana ketegangan saat membaca buku itu yang sering dibicarakan Yunji.

“Kau tahu? Dulu di LA kau tidak pernah semanis ini”, kata Hyuna membuyarkan fantasi Donghae.

“Manis?” Donghae mengulang sebuah kata yang tidak biasa.

“Ya. Dulu kau tidak pernah mempersilahkan seorang wanita untuk jalan terlebih dahulu masuk ke lift. Membukakan pintu kafetaria seperti barusan? Kau hanya melakukan itu untuk nenek-nenek dan kakek-kakek.”

“Kalau kata manis itu sebuah pujian, terima kasih”, kata Donghae datar.

“Jebal… bicara lebih banyak Donghae-ya. Aku tidak memintamu bayar untuk tiap katanya. They’re free. Kau terlalu irit.”

“Mungkin lebih tepat seperlunya. Bukan irit.”

“Tapi terkesan ingin menyudahi lebih cepat. You’re a blackhole in a conversation.”

“Terserah…”

“Sikapmu dan keiritan kata-katamu ini jadi mengingatkan aku dengan Yunji-mu itu, tahu? Entah kenapa wajahnya menempel di kepalaku. Gesture nya waktu menciummu lebih jelas tergambar di kepalaku. Ugh! I hate to say it, but I’m a hundred percent jealous. Rasanya ingin ke atas lagi dan… menyentuhnya?”

Don’t do anything reckless!” ancam Donghae.

Donghae tersenyum sinis mendengar kata ‘menyentuhnya’ dari Hyuna. Entah kenapa bayangan menampar, mencakar, menjambak, lebih jelas terlihat daripada sekedar menyentuh. Donghae menghela nafas menyesal. Ia tidak seharusnya mencium Yunji disini. Di Frente Corp. Yang dilakukannya tadi bukan pemecah masalah. Ia sadar benar tindakannya lebih menunjukkan keinginannya selama empat tahun belakangan ini. Donghae benar-benar merasa bodoh kali ini.

TBC…

Note:

Hubungan pertemanan Donghae dan Yunji akan diuji dengan hadirnya beberapa orang dari masa lalu. Apakah mereka akan tetap ‘hanya’ menjadi teman? Nantikan kelanjutannya…

Advertisements

6 thoughts on “The Untold Story between Us Part 2

  1. gila bener tu donghae pake cium yunji dikantor dimana temoat itu banyak yang benci yunji,itu hyuna sepertinya pingin balikan lg tu ma donghae gimana nasib yunji lanjut

    Like

  2. aku berharap yunji sama donghae lebih dari teman,,,,d tunggu part slanjut’y min,,jngn lama”,,,nanti rider unyu” n kiyut ini lumutan *narsis

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s