The Untold Story between Us Part 1

– The Untold Story between Us (Part 1) –

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:   Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

Other Cast:
Hyuna Kim (credit).

 

Preface:

Annyeonghaseyo. FF ini adalah hasil pemikiran dan karyaku sendiri. Tapi, sebelumnya author ingin memohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Author jujur, ff ini sudah author tulis dari tahun 2014, tapi baru sekarang author publish. Dan, author juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi. Selamat membaca…

The Untold Story between Us Part 1

Author’s POV

Pagi disaat hujan selalu lebih istimewa dari pagi lainnya. Walau langit tak secerah biasanya, namun hujan tampaknya tidak terlalu buruk untuk dinikmati tiap butirnya di pagi yang terbilang tidak lagi sunyi ini. Tentu saja secangkir coklat hangat tak bosannya menemani kegiatan yang sejak pagi dilakukan Yunji, memandangi butiran hujan dari belakang jendela kamarnya. Tatapannya menerawang jauh ke langit, berharap ada seseorang dibalik awan yang berbalik memandangnya hangat. Mengharapkan bonus sebuah lambaian manis lengkap dengan senyuman. Sedetik kemudian Yunji kembali membuka cacatan usang ditangannya. Catatan dari seseorang yang ditinggalkan bertahun lalu.

March 5th, 2007

London pagi ini. Masih hujan yang sama. Saat ini aku bermain dengan pikiranku, menebak-nebak apa yang kau lakukan di kubu pertahananmu. Mungkin kau sudah terbaring pulas dibalik selimut keberuntunganmu. Atau kau masih berkutat malas dengan setiap kata yang harus kau susun menjadi kalimat-kalimat panjang yang melengkapi karangan permintaan dosenmu. Aku hanya menebak. Ah, dengan menebaknya saja membuatku tersenyum gila. Bayangan wajahmu tergambar jelas dalam ingatanku. Tatapan sayumu ketika sedang bermalasan, atau tatapan cemerlang saat kau mengharapkan aku melakukan sesuatu untukmu. Barisan gigi rapi yang merekah lebar saat kau tersenyum lagi-lagi membuatku ikut menyunggingkan senyumku. Yunji-ya… Andai 7 jam dari sekarang akulah orang pertama yang kau lihat saat kau membuka mata dan mendapatkan sapaan pagi manismu.

Senyum tipis tergambar di wajah Yunji ketika membaca namanya yang tertulis dalam catatan itu. Suasana berubah sendu. Yunji menerawang jauh ke masa lalu, membayangkan sang pemilik catatan menyebutkan namanya sambil tersenyum ramah. Kemudian ketukan kasar pintu kamar membuyarkan ingatannya. Seseorang datang tanpa undangan di pagi hari. Oh baiklah, senangnya bertamu dihari hujan, kata Yunji dalam pikirannya. Sesaat setelah pintu terbuka, seorang pria bertubuh atletis berkulit putih masuk dengan bau embun padanya.

“Seoul, hujan dan macet. Don’t imagine them. Kenapa hujan selalu turun disaat seperti ini? Aku sudah merencanakan berpergian keluar rumah hari ini. Tapi semua rencana ku gagal”.

Yunji malas menanggapi. Temannya yang satu ini memang akan berbicara tanpa satu orangpun mempersilahkannya. Semua hal bisa menjadi topik pembicaraannya. Seperti yang baru saja ia lakukan, keadaan lalu lintas Seoul yang baru saja ia lihat. Yunji hafal betul apa yang akan dikatakan dan dilakukan setelah ini. Mengusap-usap rambut basahnya, kemeja dan melewatkan untuk menyentuh jeans hitam favoritnya. Kemudian keluhan pada suhu, bentuk rambut dan hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti sudah mengantri untuk disebutkan.

Well, Yunji-ya, kapan kau akan memberi tahuku apa cerita seru dibalik catatan usang kesayangan mu itu? Aku lihat kau membacanya setiap hari. Dan cara kau membacanya… apa itu tidak terlalu lambat untuk ukuran membaca sebuah catatan?”

Tebakan Yunji kali ini salah. Rentetan keluhan tidak menarik untuknya pagi ini. Dan Yunji hanya memberikan tatapan singkat dan senyum tipisnya untuk pertanyaan yang barusan didengarnya. Ia lebih memilih berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman.

Oh please Yunji-ya… say something”, bujuk pria itu dengan nada frustrasi khasnya.

Yunji tertawa kecil melihat wajah pria itu setengah merengek padanya.

“Kau sudah tanya itu berkali-kali. Dan aku juga sudah berkali-kali bilang nanti pasti aku ceritakan padamu. Kaupun beberapa waktu lalu setuju dengan jawabanku itu. Aku bahkan belum sempat baca semua halamannya. Anggap saja ini buku sastra yang susah luar biasa untuk dipahami. Mungkin dengan begitu kau bisa mencari pertanyaan lain yang lebih mudah ku jawab”.

Donghae menyerah dengan usahanya mendapatkan jawaban yang sejak lama diinginkannya. Sampai saatnya tiba nanti –entah kapan– Yunji tidak akan pernah memberitahunya. Bahkan tidak juga membiarkannya menyentuh catatan itu. Perlakuannya pada benda itu melebihi tata cara resmi peletakan bola kristal pemberian mendiang kakeknya. Luar biasa hati-hati. Seolah catatan yang sudah terlihat jelas terbuat dari tumpukan kertas itu bisa tiba-tiba saja pecah berkeping-keping dengan satu hentakan.

Anyway, ada event apa weekend ini? Kau terlalu rapi untuk merayakan weekend”, kata Yunji menghentikan keheningan sambil memberikan secangkir cappuccino hangat pada Donghae.

“Tidak ada. Aku datang officially ingin minta pertolonganmu, wahai manusia paling baik hati yang pernah aku temui seumur hidupku”. Yunji mengernyitkan alis memastikan ia tidak salah mendengar ucapan Donghae barusan.

“Hyuna datang ke Seoul. Alasannya untuk mencariku. Tapi dia tidak punya keluarga disini dan bilang ingin tinggal bersamaku. Aku bingung dan terpaksa..…”

Yunji memotong penjelasan Donghae, “Wait… Siapa lagi Hyuna? Nama-nama yang aku tau akhir-akhir ini hanya Ga Eun, Seo Mi dan Na Ri. Wanita lain? Dan oke, lanjutkan bagian terpaksa. Aku mulai mencium bau-bau bujukan disini.”

Donghae menunduk sebentar sebelum melanjutkan. Kemudian menyeruput cappuccino hangat untuk membersihkan tenggorokannya.

“Wanita lain? Yes and no. Benar wanita lain, tapi tidak dalam jenis kategori wanita-wanita yang sebelumnya kau sebutkan. Dia pacarku di waktu lalu. Aku memutuskan untuk lepas darinya empat atau lima tahun lalu. Wanita yang tidak puas dengan satu pria? Well, kau tahu betul, bukan tipeku. Dan terpaksa? Yunji-ya… hm… demi Tuhan jangan lempar aku dengan panci atau teman-temannya. Aku bilang pada Hyuna… sekarang aku tinggal dengan seorang wanita. Wanitaku. Emm… Bolehkah aku menambah jumlah jiwa yang perlu kau beri makan, selain anjing kecilmu itu?”

Yunji mencoba menelaah kata-kata yang diucapkan Donghae beberapa detik lalu. Dan akhirnya tersadar bahwa orang yang diberi julukan ‘wanitaku’ oleh Donghae barusan adalah dirinya sendiri. Respon Yunji pada penjelasan barusan ternyata jauh sekali dari perkiraan Donghae. Yunji justru tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Awalnya Donghae berpikir Yunji akan segera mengambil garpu, pisau daging atau gergaji untuk mengusirnya cepat-cepat dari apartmentnya.

“Sudah? Itu saja? Aku kira kau akan memintaku meletakkan bom di meja kerja kepala bagianmu atau semacamnya. Pindahlah. Berapa lama kau butuh tumpangan?”

Donghae tampak ragu dengan pertanyaan Yunji. Ia memikirkan dengan sangat hati-hati kata yang harus katakan pada Yunji. Ia menyusun tiap kata dengan baik agar Yunji dengan mudah menyetujui permintaannya.

“Sebenarnya, aku juga ingin meminjammu. Untuk jadi… you know… Sampai Hyuna kembali ke rumahnya.”

Yunji tampak ragu dengan permintaan terakhir Donghae. Bukan Yunji ingin menolaknya. Namun Yunji memikirkan jauh kedepan, saat Hyuna benar-benar kembali ke rumahnya. Bukankah kepura-puraan ini akan menyakitinya? Yunji memikirkannya dengan sangat keras. Ia tidak ingin menyakiti hati siapapun lagi.

“Yang terakhir… akan aku pikirkan. Aku tidak akan banyak berpikir untuk yang pertama. Kau tahu pintuku terbuka dengan sendirinya untukmu tanpa aku minta. Dan… hanya pertanyaan selintas di otakku, kau bukan sedang dikejar pemilik apartemenmu kan?” Yunji menahan tawa melihat kedua mata temannya melotot seperti ingin menerkamnya.

“Aku penghuni yang dicintai Kang ahjumma, you know? Bayar tepat waktu, keadaan kamar juga selalu bersih. Dan satu lagi, aku selalu tampan dan manis didepannya.”

“Jadi, berapa persen diskonmu setiap bulannya, tampan?”

Sebutir kacang melayang terketuk di kepala Yunji. Sang pelempar kacang hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar tanggapan menggoda Yunji. Kemudian ia bergegas ke dapur untuk mendapatkan tambahan air di cangkirnya yang sudah kosong.

“Kapan kau pindah?” tanya Yunji sambil menyeruput coklat hangatnya.

“Minggu ini mungkin. Aku akan mulai membereskan beberapa barang di apartemen. Dan, Yunji-ya?”

“Ya?” Yunji sedikit menoleh ke arah dapur.

“Setahuku hanya ada satu kamar di apartment ini.”

“Lalu?”

“Aku melantai?” tanya Donghae khawatir.

Dahinya berkerut cepat. Kemudian Donghae berjalan tidak sabar menghampiri Yunji yang memutar-mutar telunjuknya di bibir cangkir. Yunji menyeruput lagi coklat hangatnya.

“Kau pernah mendengar benda ringan dan praktis bernama kasur udara? Aku punya satu di kamar. Tidak perlu melantai, sayang punggung tampanmu itu.”

Donghae terkekeh mendengar kosakata yang dipilih Yunji. Bukan wajahnya yang tampan bagi Yunji, hanya punggungnya. Mungkin karena selama ini punggung itu sudah menjadi bagian dari hari-hari Yunji. Entah untuk menulis catatan terburu-buru dari resepsionis, bersembunyi dari teman lama ketika sedang dalam sebuah toko buku, menyandarkan kepala saat titik jenuh menghampiri, atau meletakkan pungungnya yang tidak cukup kuat untuk tetap tegak. Punggung itu bagian favorit Yunji dalam dirinya. Sekali lagi, bukan wajahnya.

Dihari Kepindahan Donghae

Beruntung Yunji belum sempat mendonasikan lemari abu-abu dua pintu pemberian kakak pertamanya, Adrian. Jadi semua pakaian yang dibawa Donghae bisa diselamatkan dari desakan pakaian Yunji yang ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dari yang Donghae duga. Menurut Donghae, seharusnya lemari abu-abu itu dipergunakan dengan sewajarnya untuk memberi nafas baju-baju malang yang sudah berhimpitan seperti keadaan dalam metromini senin pagi. Namun kata ‘belum sempat’ lagi-lagi menjadi alasan super Yunji untuk menanggapi saran yang sudah berkali-kali diberikan.

Dan jadilah seperti sekarang. Sebuah apartment yang sebelumnya terlihat cukup besar dalam dua hari berubah sedikit menyempit berkat beberapa barang yang dibawa Donghae. Yunji sendiri tidak keberatan akan hal itu. Baginya kedatangan Donghae meramaikan apartment nya. Paling tidak Yunji tidak harus selalu berbicara dengan anjing kecilnya. Ada seorang lain yang bisa diajaknya bicara dan berdiskusi.

Donghae-ya, aku harus bertemu Luna lebih awal. Ada beberapa gambar yang harus aku lihat. Mungkin hari ini aku lembur. Kau tidak apa-apa kan sendiri? Jangan lupa makan sebelum keluar. Jangan sakit. Well, semoga beruntung dengan Hyuna.

Donghae berjalan gontai menuju meja makan setelah mendengar voice note dari Yunji. Segelas susu sudah berjajar rapi bersama sepiring roti panggang isi telur dan keju. Donghae melahapnya masih dengan mata setengah terbuka. Lapar terlanjur menguasainya. Dikejauhan terlihat sebuah benda yang selama ini menjadi perhatiannya. Benda biru kesayangan Yunji. Benda yang selalu dibacanya, dibawanya, dan dipeluk erat olehnya. Berkat benda biru itu Donghae mengerjapkan matanya cepat dan segera bangkit dari duduknya mendekat.

Cukup lama Donghae diam berdiri memandangi catatan biru itu. Ragu untuk membukanya. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia dan Yunji akan berdebat hebat karena hal ini. Namun rasa ingin tahunya akan catatan ini begitu besar. Hanya catatan ini yang tidak pernah disebutkan Yunji selama tiga tahun sejak mereka bertemu di lobby utama The Frentee. Ia memutuskan untuk sekedar tahu beberapa halaman di dalamnya.

 

 

March 23th, 2006

Ulang tahunmu ke 17. Kau menyapaku seperti biasa pagi ini. Tidak ada pembahasan soal ulang tahun, hadiah atau kejutan. Seingatku tahun lalu kau begitu bersemangat bahkan sebelum pergantian hari. Sepertinya hari ini kau lupa dengan ulang tahunmu sendiri. Yang kau bicarakan sejak pagi hanya buku-buku yang selesai kau baca. Satu persatu kau ceritakan ringkasannya padaku. Aku mendengarkanmu dengan ekspresi yang kubuat. Untuk menyenangkanmu tentu saja. Maafkan aku, sepertinya aku tidak terlalu mencernanya dengan baik. Aku hanya menangkap kata ‘bagus’, ‘epic’, ‘terlalu drama’ dan ‘membosankan’ dari semua yang kau katakan. Aku terlalu sibuk dengan raut wajahmu dan semangatmu saat bercerita. Sampai saat ku keluarkan hadiahku, kau baru menyadari itu hari ulang tahunmu. Rupanya buku-buku itu lebih menarik untukmu.

Donghae menghela nafas panjang sesaat setelah halaman pertama yang dibacanya. Benar yang dipikirkannya. Catatan ini memang bukan milik Yunji. Catatan ini milik seseorang yang penting untuk Yunji. Dan sayangnya orang itu bukan ayah Yunji, seperti yang diduga Donghae selama ini. Namun ia masih tidak bisa menyimpulkan siapa pemilik catatan ini. Butuh beberapa halaman untuk menjelaskannya.

January 7th, 2008

Tanpa mengetuk pintu kamarku kau masuk dan mengecup lembut pipiku. Aroma roti panggang sepertinya memenuhi kamarku. Tapi aku belum mau membuka mataku. Karena hanya dengan begitu aku bisa mencium aroma tubuhmu yang selama ini menjadi favoritku. Aku yakin benar kau akan melakukan beberapa caramu membangunkanku seperti yang kau lakukan biasanya. Tentu saja aku punya favoritku. Saat kau tiba-tiba memelukku erat sampai mau tidak mau aku harus bangun dan membawamu keluar dari kamarku. Atau cara lain seperti mencipratkan air ke wajahku. Dan benar lagi dugaanku. Kau mendekat perlahan dan berbisik di telingaku, “kau harus makan pemalas. Jangan sakit”.

“Aku pikir…”

Sekali lagi Donghae menghela nafas panjang. Sesaat Donghae terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus merespon kata tiap kata yang ditulis dalam catatan ini. Hampir disetiap kata mengartikan betapa besar si penulis memuja Yunji. Pemujaan yang begitu besar. Bahkan sampai bagian terkecil dari Yunji.

Café Bon Appetite

“Lee Donghae, annyeong…”

Hyuna menghampiri Donghae didepan sebuah kedai teh kemudian mencium pipinya dan memeluknya erat.

“Wow wooow Hyuna. Ini tempat umum. Dan ini bukan L.A.” kata Donghae melepaskan pelukan Hyuna.

So what? I miss you. I didn’t see you for a long time.”

We’ve met last Christmas in Jeju, remember? Tidak perlu berlebihan. Well, kapan sampai? Tinggal dimana?” Pertanyaan utama yang sejak kemarin ingin ditanyakannya akhirnya meluncur dari bibirnya, bukan dari ponselnya.

“Kemarin siang. Tanpa bertemu denganmu. Dan hebatnya berkat kau, aku harus mencari hotel dan tinggal disana sendiri. Kenapa kau tidak menceritakan tentang wanita itu di Jeju lalu?” tukas Hyuna kesal.

“Haruskah? Diantara kita sudah tidak lebih dari sekedar teman, Kim Hyuna. Dan aku bertemu denganmu disini sekedar untuk menjaga hubungan baik kita sebagai sesama manusia yang saling kenal dengan baik”, kata Donghae sarkastik.

“Kau tidak boleh lupa kalau aku tetap akan memperjuangkanmu lagi apapun dan siapapun yang menghalangi.” Hyuna menekankan.

Okay, enough... Mungkin lebih baik kita bicara di dalam dan makan?”

Hyuna mengangguk setuju. Mereka berjalan masuk ke dalam kedai berjauhan. Seperti dua orang asing yang baru bertemu. Hyuna ingin mendekati Donghae, tetapi Donghae pasti akan segera menjaga jarak. Hyuna hanya bisa berharap setelah perbincangan malam ini Donghae bisa sedikit merubah sikap dinginnya pada Hyuna. Kembali menjadi Donghae yang selalu tersenyum saat bicara dengannya.

Green Apartment

Pekerjaan yang bernama deadline selalu berhasil membuat Yunji kehabisan tenaganya. Sesampainya di apartment Yunji bahkan tidak sanggup menunduk untuk sekedar melepas sepatu yang akhirnya bernasib terlempar ke sembarang tempat. Yunji merebahkan kepalanya di sofa dan melenguh berat. Matanya terpejam semenit kemudian. Sesaat Yunji terlelap dan tidak menyadari seseorang masuk sambil berdeham akibat minuman dingin yang masuk ke tenggorokan sensitifnya. Yunji berusaha keras membuka matanya ketika menyadari Donghae kembali. Tiba-tiba suara benturan keras benar-benar membuka mata Yunji. Donghae tersandung sepatu yang tadi dilemparkan Yunji ke sembarang tempat dan kepalanya terbentur meja kecil.

God! Lee Donghae! Gwaenchanha? Mianhae…” seru Yunji setengah berlari menghampiri Donghae yang sudah mengaduh sambil memegangi keningnya.

You drunk?” tanya Donghae saat melihat penampilan Yunji yang sangat kacau. Yunji menggeleng cepat. “Kau sangat kacau, Yunji-ya. Da gwaenchanhasseo?” Ia masih memegangi keningnya.

Nan gwaenchanha. Aku hanya terlalu lelah. Jadi tadi sepatu-sepatu itu aku lempar begitu saja. Aku kira kau sudah tidur. Mianhae…”

Tiba-tiba darah mengalir di wajah Donghae. Mata Yunji membuka lebih lebar lagi saat melihatnya. Wajah yang dilihat justru masih meringis menahan perih di sudut kiri keningnya itu dan bingung melihat Yunji yang langsung bangkit melempar sepatunya ke sofa, kemudian menghambur ke dapur dengan ekspresi panik. Rasa lelah Yunji sudah hilang lima menit yang lalu berkat suara keras hantaman kening dan meja kecil. Yunji kemudian kembali dengan sebuah baskom kecil berisi es dan handuk kecil di tangannya.

Hey, hey, wae? Tidak perlu panik begitu. Aku tidak apa-apa. Ini hanya terbentur”, kata Donghae pada Yunji yang berlari kecil.

Donghae mencoba menenangkan Yunji yang malam itu memang benar-benar kacau. Ia sudah duduk di sofa single biru yang ia bawa dari kamar kosnya.

“Kau jangan sekali-kali menganggap remeh sebuah luka, Donghae-ya. Kau menutupnya dengan tangan seperti itu, memangnya tanganmu bersih? Sini aku obati.”

Yunji menyergah tangan Donghae yang hampir setengahnya berlumuran darah. Sementara Donghae hanya terdiam tanpa ekspresi membiarkan Yunji membersihkan dan mengobati lukanya. Ia menatap mata Yunji yang menyorotkan rasa lelah, khawatir dan marah.

July 27th, 2007

Siang ini kau begitu mengagumkanku. Menata ulang apartmentmu sudah menjadi bagian dari rutinitasmu setiap minggu genap. Dan kali ini aku beruntung mendapatkan waktu untuk menemanimu. Kau menyuruhku untuk tidak membantu. Menurutmu keberuntunganku tidak berlaku untuk pekerjaan seperti ini. Awalnya aku bertahan melihatmu memindahkan benda dari sudut satu ke sudut lainnya. Sesekali kau berhenti untuk menghela nafas dan memikirkan penataan lain. Akhirnya pertahananku habis. Masa bodoh dengan keberuntungan, pikirku. Dan memang kau selalu benar, aku tersandung sebuah bantalan kursi lalu kepalaku terbentur meja dapurmu. Kau langsung mengambil sebuah baskom berisi es dan handuk kecil untuk membersihkan lukaku, sambil terus memarahiku karena tidak mau mendengarkanmu. Aku tidak marah. Aku justru senang. Mungkinkah ini akan aku alami setiap minggu genap, dua atau tiga tahun dari sekarang, Yunji?

“Donghae-ya? Manhi apa? (Sangat sakit?)” tanya Yunji.

Pertanyaan Yunji menyadarkan Donghae dari lamunannya. Kemudian ia meringis kecil, berpura-pura merasa kesakitan. Ia baik-baik saja seperti katanya tadi. Yunji terus mengompres kening Donghae yang sudah dibersihkan dan ditutup perban olehnya. Wajahnya kembali menunjukan rasa lelah yang sejak awal ia datang sangat terlihat jelas. Tanpa mengatakan apapun Donghae bangun, mengambil baskom kecil di pangkuan Yunji dan meletakkannya di meja kecil yang tadi menghantam kepalanya. Kemudian Donghae mengangkat tubuh lelah Yunji dan membawanya ke kamar mandi. Ia menghiraukan berontakan Yunji yang beberapa kali mengenai luka di keningnya. Donghae baru menurunkan tubuh Yunji di bath-tub.

“Kau terlalu lelah, Yunji-ya. Sebaiknya kau mandi dengan air hanyat. Aku siapkan cokelat panas kesukaanmu. Aku tunggu di ruang tamu.”

Yunji tidak bisa berkata apa-apa. Raut wajah khawatir Donghae membuat bibirnya terkatup rapat saat tubuhnya diletakkan ke dalam bath-tub. Seharusnya ia yang menyuruh Donghae melakukan itu. Donghae juga terlihat begitu lelah. Bahkan ia baru saja terbentur. Yunji memandangi punggung temannya itu berjalan keluar dari kamar mandi. Di ambang pintu Donghae berhenti dan berbalik. Yunji yang menyadari hal itu langsung salah tingkah dan segera mengambil handuk di dekatnya.

“Dan Yunji, nan aju manhi gwaenchanha (aku sangat sangat baik-baik saja). Kau tidak perlu sekhawatir tadi padaku. Aku tahu aku tampan. Tapi seriously Yunji-ya, wajah ini akan tetep tampan walaupun ada goresan di ujung kening.”

Yunji tertawa lebar mendengar ucapan Donghae padanya. Temannya yang satu ini memang paling bisa diandalkan dalam urusan mencairkan suasana. Akhirnya sebuah botol shampoo melayang ke arah Donghae.

Hey! Bukan berarti kau bisa menambah goresan lagi disini.” Kata Donghae menunjuk-nunjuk sudut keningnya yang tidak tergores.

“Kau masih tampan walaupun tergores dua kali, darling. Sudah sana keluar! Aku mau mandi.”

Donghaepun keluar menutup pintu kamar mandi. Dari luar masih terdengar Yunji tertawa kecil sambil mengisikan air ke bath-tub nya. Donghae menarik sudut bibirnya dan menggelengkan kepalanya.

“Ini masih permulaan Lee Donghae… Seharusnya aku tidak perlu membaca buku itu”, kata Donghae pada dirinya sendiri dengan rasa jengah yang kembali muncul ketika mengingat kata demi kata dalam catatan itu. Kemudian ia melangkah keluar dari kamar Yunji dan berjalan ke dapur untuk membuatkan coklat hangat sesuai janjinya.

TBC

Note:

Alur dan cerita ff ini tidak semudah yang terlihat di Part 1. Other cast dalam ff ini belum seluruhnya memunculkan diri. Untuk perihal rating, ini adalah ff dengan rating campuran. Akan ada kategori NC di part selanjutnya (entah part berapa). Jadi, nantikan part berikutnya. Gamsahabnida…

Advertisements

9 thoughts on “The Untold Story between Us Part 1

  1. itu sapa sih yg diceritakan dibuku itu yg bikin donghae penasaran mudah2an dengan tinggalnya mereja bersama akan tumbuh rasa diantara mereka

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s